{"id":155220,"date":"2021-12-20T15:00:29","date_gmt":"2021-12-20T08:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=155220"},"modified":"2021-12-20T12:03:58","modified_gmt":"2021-12-20T05:03:58","slug":"nasib-susanti-di-upin-ipin-saat-timnas-indonesia-menang-lawan-malaysia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-susanti-di-upin-ipin-saat-timnas-indonesia-menang-lawan-malaysia\/","title":{"rendered":"Nasib Susanti di Upin &#038; Ipin Saat Timnas Indonesia Menang Lawan Malaysia"},"content":{"rendered":"<p>Indonesia berhasil memulangkan Malaysia dari pagelaran Piala AFF 2020. Nggak tanggung-tanggung, 4-1 adalah skor akhir setelah sebelumnya Malaysia nyekor terlebih dahulu. Alih-alih menyambut euforia, saya lebih penasaran gimana nasib dedek Susanti di <em>Upin &amp; Ipin<\/em>, ya? Apakah dimusuhi dan dijauhi? Atau malah Susanti ngenyek kawan-kawan kelasnya karena Malaysia kalah? Mari berspekulasi.<\/p>\n<p>Dalam jagat <em>Upin &amp; Ipin<\/em>, Susanti diceritakan sebagai anak Indonesia yang bapaknya bekerja di Malaysia. Bekerja di negeri jiran memang lebih menggiurkan ketimbang bekerja dengan UMR Jogja. Itulah yang menyebabkan Susanti bersekolah di Tadika Mesra. Ia satu sekolah dengan kembar botak yang kapasitas volume kepalanya lebih besar ketimbang badannya itu.<\/p>\n<p>Bahasa yang plenggak-plengguk, Susanti seperti berusaha mengkombinasi antara Melayu dan Jakartans. Ia tampak kikuk menggunakan \u201caku-kamu\u201d dan untungnya Upin dan Ipin nggak baper. Tapi itulah Susanti, anak kandung Ibu Pertiwi yang sedang nyeberang ke tanah milik Mak Cik.<\/p>\n<p>Yang paling wangun dari Susanti ini satu, yakni darah Indonesia tetap mengalir dan sumsum tulangnya masih memegang teguh Pancasila tanpa harus pakai seragam dan baret nggak jelas. Terbukti dalam beberapa bagian, ia nggak lupa sama tanah kelahirannya tersebut. Bahkan, satu momen, ia tampak militan mendukung Indonesia dan nggak takut sama kawan-kawannya yang Malaysia Mania, tentu saja.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-width=\"500\" data-dnt=\"true\">\n<p lang=\"in\" dir=\"ltr\">SUSANTI <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/TembusKandangLawan?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw\">#TembusKandangLawan<\/a> <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/TimnasDay?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw\">#TimnasDay<\/a> <a href=\"https:\/\/t.co\/xQASXhDHlw\">pic.twitter.com\/xQASXhDHlw<\/a><\/p>\n<p>&mdash; Komisi Wasit (@MafiaWasit) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/MafiaWasit\/status\/1472502839700164608?ref_src=twsrc%5Etfw\">December 19, 2021<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p>Ketika di Tadika Mesra, saya yakin Susanti nggak bakal di-bully atau dijauhi sama kawan-kawannya. Kenapa? Karena ini Susanti. Susanti sudah terbiasa dengan pertarungan atau setidaknya persaingan.<\/p>\n<p>Jangankan sepak bola regional, di kampungnya saja, Jakarta, sudah terjadi persaingan tingkat desa. Sepak bola Jakarta kamu kira hanya Persija? Jangan salah. Persija adalah puncak, sedang di tingkat desa\u2014atau bahkan RT\u2014sepak bola penuh dengan persaingan.<\/p>\n<p>Lihat saja lansekap lebih luas, yakni <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Liga_3_2021_DKI_Jakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Liga 3 Region Jakarta<\/a>. Kita persempit lagi area Jakarta Timur. Itu saja sudah ada tujuh tim yang di antaranya adalah Bintang Kranggan dan PS Pemuda Jaya. Kultur tim sepak bola yang banyak begini cukup melatih tiap manusia di dalamnya tahan akan persaingan yang berapi-api.<\/p>\n<p>Tawuran antar desa, Susanti mungkin biasa mengalami. Lihat saja tawuran liga tarkam di negara kita, bahkan membedakan siapa lawan dan siapa kawan itu susah. Perlombaan tarkam desa A dan desa B, rasanya itu sudah seperti pertarungan antariksa antara Amerika dan Soviet saja.<\/p>\n<p>Biasanya setelah gelut, akan berlanjut perang dingin antar kampung. Desa A yang punya akses jalan, akan menutup akses bagi masyarakat desa B. Atau konsekuensi lebih ringan, masyarakat desa B yang lewat desa A, bakalan dipenthelengi habis-habisan. Persaingan karena bola, melebar bahkan sampai sendi paling sentral seperti akses keluar-masuk desa.<\/p>\n<p>Kamu kira saling sindir suporter bola Indonesia dan Malaysia di media sosial itu yang paling keren? Halah, lemah. Setelah pertandingan tarkam, bahkan bisa saja lebih parah. Semisal tim desa yang kalah, kirim santet ke desa yang menang. Jangan heran kalau besoknya, di depan rumah pemain unggulan desa yang menang, bakal ada darah ayam cemani dan beberapa dupa yang bikin penciuman sesak.<\/p>\n<p>Bukan hanya sampai dunia klenik, seperti dendam, kekalahan harus dibayar tuntas. Kebencian itu akan ditularkan ke anak cucu. Desa yang kalah bilang, \u201cNak, bencilah sama anak-anak desa B karena mereka menang dengan cara yang tidak sah. Kasar.\u201d Sedang desa yang menang bilang, \u201cNak, bencilah sama desa sebelah karena mereka lemah. Kalah mulu di tarkam.\u201d<\/p>\n<p>Kebencian ini akan terus menerus lahir. Tensi akan naik ketika laga kedua desa\u2014desa A dan desa B\u2014terselenggara lagi. Bisa saja lebih parah, menyogok wasit tarkam dan hal-hal curang lainnya akan tersaji.<\/p>\n<p>Dan Susanti lahir dari kultur sepak bola lokal yang melanggengkan segala cara agar bisa berjaya. Di-bully sama Jarjit? Ah, itu hanya geli-geli bagi Susanti. Lantas apa yang dilakukan oleh Susanti di Tadika Mesra esok hari setelah kemenangan Indonesia atas Malaysia? Ngenyek Upin, Ipin, dan kawan-kawan, lah. Edan po hanya diam dan mbesengut?<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/dKCKiC0BQtU\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<p><em style=\"font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;\">Editor: Audian Laili<\/em><\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mental Susanti sudah terlatih!<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":155230,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12904],"tags":[31,5612,14410,14409,5855],"class_list":["post-155220","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-olahraga","tag-indonesia","tag-malaysia","tag-piala-aff-2020","tag-susanti","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155220","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=155220"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155220\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/155230"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=155220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=155220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=155220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}