{"id":154964,"date":"2021-12-18T11:30:28","date_gmt":"2021-12-18T04:30:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=154964"},"modified":"2021-12-18T10:11:10","modified_gmt":"2021-12-18T03:11:10","slug":"lebih-baik-minta-maaf-daripada-minta-izin-itu-nggak-sehat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lebih-baik-minta-maaf-daripada-minta-izin-itu-nggak-sehat\/","title":{"rendered":"Percayalah, Konsep Lebih Baik Minta Maaf daripada Minta Izin Itu Nggak Sehat buat Hubungan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika bicara soal hobi atau melakukan hal yang disukai, sebagai seorang suami, sampai dengan saat ini saya masih memegang teguh prinsip: minta izin kepada istri lebih dulu lebih baik, dibanding minta maaf kemudian. Barangkali, hal tersebut berbanding terbalik dengan pakem yang selama ini menguap di antara para suami lain. Yakni, \u201cLebih baik minta maaf daripada minta izin\u201d dengan berbagai alasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, alasan tersebut populer karena berbagai pertimbangan. Mulai dari biar nggak ribet, khawatir nggak diberi izin, dan sebangsanya. Bahkan ungkapan seperti, \u201cJadi suami harus punya harga diri. Masa apa-apa harus izin lebih dulu ke istri,\u201d seakan menjadi pembenaran bahwa, para suami bertindak secara independen tanpa memerlukan persetujuan pasangan. Intinya, kalau istri ngambek, ya tinggal minta maaf. Padahal, konsepnya kan nggak gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga dirimu sebagai suami, toh, nggak akan anjlok hanya karena berdialog dengan istri perihal hobi atau kegemaran lain yang masih ingin dilakoni. Dengan catatan, selama tidak membahayakan atau merugikan diri dan orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di usia yang sudah kepala tiga ini, saya masih sangat antusias merakit gundam. Dan ini menjadi salah satu hobi yang, rasanya sulit ujug-ujug diberhentikan begitu saja. Tiap kali membeli gundam, saya selalu punya kesempatan untuk langsung membeli, tanpa terlebih dahulu memberi tahu istri. Namun, hal tersebut urung saya lakukan. Bukan, bukan karena saya takut istri. Saya percaya bahwa komunikasi, berdialog, atau berdiskusi, menjadi fondasi penting dalam membina hubungan yang sifatnya seumur hidup. Sekalipun temanya adalah hal receh atau yang masih berkaitan dengan hobi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagipula, konsep lebih baik minta maaf daripada minta izin, agak nganu buat saya. Oke, kita bedah satu per satu alur dan konsekuensi dari konsep ini.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, dalam konsep ini, hampir bisa dipastikan aksi dilakukan lebih dulu tanpa adanya komunikasi atau pemberitahuan kepada istri, bahwa\u2014kita, sebagai suami\u2014ingin melakukan ini atau itu. Selanjutnya, ada potensi istri akan terkaget-kaget saat mengetahui hal tersebut sudah dilakukan atau terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, kemungkinan skenario yang akan terjadi adalah: kalau istri biasa saja, ya sudah. Kalau istri marah, tinggal minta maaf.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali-dua kali, mungkin istri akan memaklumi sambil mbatin, \u201cYa, namanya juga lagi senang menjalani hobi.\u201d Lah, kalau berkali-kali, itu sih kebiasaan.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, jangan pernah menganggap sepele jika istri sudah mengingatkan baik-baik. Lagipula, cukup manusiawi jika seseorang merasa gedeg, karena orang lain sudah dimaafkan berkali-kali, diingatkan lagi dan lagi, tapi kelakuannya masih sama. Bahkan, malah sengaja mengulang apa yang sudah dimaafkan. Melakukan ini dan itu tanpa pemberitahuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa maksud menggurui, saya hanya ingin mengingatkan saja bahwa, istri atau pasangan kalian itu partner seumur hidup, loh. Seseorang yang bisa diajak berdiskusi tentang kehidupan, keluarga, termasuk perencanaan keuangan bersama. Masa, sih, mau selalu bertindak sesuka hati lompat ke sana ke sini, tanpa mempertimbangkan perasaan istri. Tanpa berdialog dengannya ketika ingin melakukan atau memutuskan sesuatu. Ya, mau sampai kapan, gitu?<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, untuk jangka panjang, konsep minta izin ke istri lebih dulu akan lebih baik dibanding minta maaf kemudian. Boleh jadi, proses yang dilalui terkadang memang rumit. Harus presentasi terlebih dahulu ke istri. Menjelaskan bahwa ada dana yang cukup untuk membeli sesuatu atau melakukan hobi yang diinginkan. Uang tabungan, kebutuhan, bahkan untuk keperluan lainnya pun sudah dialokasikan. Kadang di-approve oleh istri, ada kalanya dipertimbangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak apa-apa. Sebab, sekali lagi, ada kalanya istri punya pertimbangan atau perencanaan lain untuk kepentingan bersama. Agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan komitmen awal. Kecuali, barang yang diincar atau yang berkaitan dengan hobi, sudah didiskusikan dari jauh-jauh hari. Dalam hal ini, istri punya peranan penting dan menjadi sebaik-baiknya penyeimbang untuk izin yang diajukan oleh suami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, akan selalu ada kemungkinan untuk tidak diberi izin atau kemungkinan-kemungkinan lain yang berpotensi membikin saya gagal dalam membeli-memiliki gundam baru. Pikir saya, wajar saja. Sebab, akan selalu ada pertimbangan atau sudut pandang lain dari sisi pasangan. Bukan untuk melarang seutuhnya, hanya sekadar mengingatkan bahwa, pada waktu tertentu, ada prioritas lain yang patut diutamakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagipula, konsep \u201clebih baik minta maaf daripada minta izin\u201d sering berakhir buruk kan? Makanya, minta izin sekalian aja. Demi rumah tangga yang lebih harmonis. Itu.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/pixabay.com\/id\/photos\/gundam-mecha-mainan-robot-tokyo-6074454\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Awalnya sih, oke-oke saja. Lama-lama, remuk juga.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":154987,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12912],"tags":[4729,16,14385],"class_list":["post-154964","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sapa-mantan","tag-gundam","tag-hubungan","tag-minta-izin"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154964","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=154964"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154964\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/154987"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=154964"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=154964"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=154964"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}