{"id":15439,"date":"2019-10-22T10:15:31","date_gmt":"2019-10-22T03:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=15439"},"modified":"2019-10-21T16:43:58","modified_gmt":"2019-10-21T09:43:58","slug":"kebebasan-berpendapat-di-media-sosial-bagian-2-bodo-amat-adalah-cara-bermedia-sosial-paling-benar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebebasan-berpendapat-di-media-sosial-bagian-2-bodo-amat-adalah-cara-bermedia-sosial-paling-benar\/","title":{"rendered":"Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Bagian 2: Bodo Amat adalah Cara Bermedia Sosial Paling Benar"},"content":{"rendered":"<p>Baca bagian 1 di sini: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebebasan-berpendapat-di-media-sosial-jangan-bedakan-antara-media-sosial-dan-kehidupan-nyata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Jangan Bedakan Antara Media Sosial dan Kehidupan Nyata<\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengenai kebebasan berpendapat di media sosial, saya menemukan sebuah utas di Twitter yang menarik. Dalam utas tersebut, penulis utas menyebutkan bahwa setiap konten yang ada di internet adalah milik publik, kalau nggak siap dengan respon <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maha-benar-netizen-kebebasan-atau-kebablasan-berpendapat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">netizen<\/a> jangan di-<em>upload <\/em><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ke internet. Sebuah pernyataan yang nggak salah, namun rasanya masih kurang tepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang semua orang bebas berpendapat di media sosial, namun harus tahu batasan-batasan yang nggak boleh dilewati. Dalam tulisan saya sebelumnya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0saya menulis bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Alangkah baiknya jika kebebasan berpendapat di media sosial, kita tetap memegang teguh norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.\u201d Norma-norma tersebut berperan sebagai garis batas yang nggak boleh dilewati oleh semua pengguna meda sosial, tujuannya agar kehidupan media sosial menjadi lebih tentram.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejatinya, kebebasan berpendapat nggak sama dengan kebebasan menghujat; kebebasan beropini nggak sama dengan kebebasan <em>membully<\/em>. Nampaknya ini yang sedang terjadi di jagat media sosial. Orang-orang lupa bahwa ada batasan yang nggak boleh dilewati, mereka seperti menemukan tempat baru yang melepaskan mereka dari norma-norma sosial kehidupan manusia. Tapi bukan begitu cara mainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang mengaku menjunjung kebebasan berpendapat tapi nggak bisa menerma pendapat orang lain yang berbeda. Kalau begitu, kebebasan berpendapat seperti apa yang mereka junjung? Menjunjung kebebasan berpendapat berarti mampu menerima pendapat yang berbeda-beda. Yang paling penting: jangan merasa paling benar dengan pendapatmu sendiri. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ngaku <a href=\"https:\/\/tirto.id\/indonesia-disebut-masih-bermuka-dua-soal-eksekusi-mati-tki-tuti-c8T5\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">open minded<\/a> tapi kok nggak bisa terima perbedaan pendapat orang lain?\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu boleh mendukung LGBT, menerapkan konsep \u201chijrah\u201d mu sendiri, mempunyai standar kecantikanmu sendiri, tapi jangan memandang rendah pendapat orang lain yang bertentangan atau berbeda dengan pendapatmu. Masing-masing orang punya cara pandangnya sendiri, dan ini adalah hal yang paling menarik dari kebebasan berpendapat. Buat saya, kebebasan berpendapat yang seperti ini membuat saya nggak perlu menebak apa yang orang lain pikirkan. Lagipula menambah perspektif orang lain terhadap suatu isu bisa membantu saya mendapatkan pemahaman yang lebih luas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat yang terjadi di media sosial sangat bertentangan dengan kehidupan sehari-hari, saya pun sampai pada satu kesimpulan: bodo amat adalah cara bermedia sosial yang paling benar sekarang. Kalau kamu nggak bisa menerima perbedaan pendapat, kamu bisa bersikap bodo amat dengan pendapat orang lain. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terserah mereka deh mau mikir gimana, yang jelas gue mikir begini. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berada dalam lingkungan orang-orang egois dan hanya memerdulikan dirinya sendiri, yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi atau mengacuhkannya. Beradaptasi berarti kita ikut menjadi bagian dari lingkungan tersebut, sedangkan mengacuhkannya berarti kita membiarkan hal itu terjadi meski ingin menghilangkannya. Bodo amat adalah salah satu cara untuk mengacuhkan lingkungan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahap yang lebih ekstrim lagi, kita bisa bersikap bodo amat pada apa saja yang sedang terjadi di media sosial. Setiap orang punya arena bermainnya sendiri di media sosial, apa yang terjadi di sana biar saja tetap di sana. Arena bermain yang kita punya masih cukup asik dan menyenangkan, kan? Tahap bodo amat berikutnya adalah melakukan apa yang kita anggap benar tanpa memerdulikan pendapat orang lain. Terserah orang lain mau melakukan apa saja di media sosial, yang penting nggak bertentangan dengan konsep \u201cbenar\u201d versi kita sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu bisa saja mendebat semua orang yang punya pendapat berbeda denganmu selama kamu punya energi yang besar untuk melakukannya. Tapi menurut saya, melakukan hal itu hanya buang-buang energi yang kamu miliki sih. Anehnya, begitu kebebasan berpendapat mau dibatasi oleh pemerintah, orang-orang kompak menolaknya; tapi waktu nggak dibatasi malah disalah gunakan buat menghujat dan membully orang lain. Jadi yang siapa yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">error <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini? Pemerintah atau netizen?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada salahnya bersikap baik di media sosial layaknya yang kita lakukan sehari-hari. Mungkin ini dampak negatif internet yang membuat semuanya serba terbuka dan mudah dicari, atau mungkin memang sebenarnya orang Indonesia aslinya seperti ini saat terlepas dari norma-norma sosial kehidupan manusia. <\/span>(*)<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-makeup-dan-skincare-buat-aksi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rekomendasi Makeup dan Skincare Buat Aksi<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gilang-oktaviana-putra\/\">Gilang Oktaviana Putra\u00a0<\/a>lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cAlangkah baiknya jika kebebasan berpendapat di media sosial, kita tetap memegang teguh norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.\u201d<\/p>\n","protected":false},"author":158,"featured_media":18111,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1177,2005,102,905,3342],"class_list":["post-15439","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-hijrah","tag-lgbt","tag-media-sosial","tag-netizen","tag-pemerintah"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15439","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/158"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15439"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15439\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15439"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15439"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15439"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}