{"id":154296,"date":"2021-12-15T08:00:08","date_gmt":"2021-12-15T01:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=154296"},"modified":"2021-12-13T11:43:39","modified_gmt":"2021-12-13T04:43:39","slug":"alumni-fakultas-peternakan-tidak-harus-jadi-peternak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alumni-fakultas-peternakan-tidak-harus-jadi-peternak\/","title":{"rendered":"Alumni Fakultas Peternakan Tidak Harus Jadi Peternak"},"content":{"rendered":"<p>Stigma masyarakat terhadap mahasiswa masih seputar: belajar di ruang ber-AC, pulang kuliah lanjut nongkrong, dan sibuk ikut kegiatan mahasiswa. Nggak salah, sih. Pasalnya, kehidupan mahasiswa sering digambarkan demikian. Mulai dari novel sampai film percintaan remaja.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada sekelompok mahasiswa yang sibuk panen rumput. Mereka sibuk menyerok kotoran sapi sambil menimbang beratnya. Mereka susah payah memaksa kelinci mengulum termometer sambil menakar pelet pakan. Laboratorium mereka tidak penuh tabung uji, tapi tumpukan bahan membuat konsentrat pakan ternak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka adalah mahasiswa Fakultas Peternakan alias Fapet. Kehidupan mahasiswa Fapet memang tidak romantis seperti di novel teenlit. Mahasiswa Fapet penuh dengan praktik lapangan penuh kotoran dan kencing ternak. Lantaran mereka dituntut untuk memahami ilmu peternakan dari hulu ke hilir. Atau lebih mudahnya, dari mengawinkan ternak sampai mereka dijual dalam bentuk sosis dan nugget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena tuntutan untuk merekam ilmu hulu ke hilir ini, wajar jika kehidupan mahasiswa Fapet lebih banyak di kandang. Namanya juga peternakan, tidak mungkin sibuk mengaduk semen ala Teknik Sipil. Tapi meskipun terkesan kumuh dalam baju kandang mereka, mahasiswa Fapet harus mampu merekam sejuta ilmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena dari hulu ke hilir, mahasiswa Fakultas Peternakan harus belajar biokimia seperti anak biologi. Juga harus belajar reproduksi serta pemuliaan ternak. Mereka harus mengenal ilmu pakan sampai fisiologis ternak. Mahasiswa Fapet juga belajar metode pemeliharaan dan manajemen kandang. Tidak cukup, mahasiswa Fapet harus tahu pengolahan hasil ternak dan sosial ekonomi peternakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menelan semua ilmu ini membuat banyak mahasiswa Fakultas Peternakan mengundurkan diri. Bukan provokasi, tapi hampir separuh mahasiswa angkatan saya memilih mundur. Baik pindah kampus, fokus usaha, dan tentu saja DO.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan banyaknya ilmu yang harus dipelajari, pasti ada yang bertanya masalah kesehatan kami. Maka waktu saya ditanya tentang syarat masuk Fapet, saya langsung bilang, &#8220;Sehat dan bebas penyakit bawaan yang mengurangi kemampuan kerja.\u201d Lha nyatanya memang demikian. Kerja keras bagai kuda dan memang bekerja bersama kuda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, ke mana mahasiswa Fapet bermuara? Mindset pertama pasti jadi peternak. Dengan motivasi serba wow dari kakak tingkat dan dosen, peternak menjadi mimpi utama kami. Namun, ketika dihadapkan dengan realita, justru banyak dari kami berpikir dua kali. Namanya membuka usaha perlu modal besar, baik kapital maupun mental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sulit mendapatkan dua modal ini, pasti berakhir di korporasi. Tapi jangan salah, tidak semua lulusan Fapet berakhir di perusahaan peternakan. Sering kali lulusan Fapet menjadi orang bank karena mendapat ilmu sosial ekonomi mikro dan makro juga.<\/span><\/p>\n<p>Namun, seperti fakultas lain, mahasiswa dan alumni Fapet juga terjebak stigma dan ekspetasi berlebihan. Di antaranya adalah stigma bahwa lulusan Fakutas Peternakan serba tahu masalah hewan. Untuk Anda yang warga Fapet, sudah berapa kali ditanyai perihal cara merawat dan mengobati kucing sakit?<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gini lho, Bro. Kami memang belajar tentang ilmu hewan. Tapi kalau perkara kesehatan dan perawatan hewan kesayangan, kami jelas tidak mendalam. Kalau ingin tanya seputar pemeliharaan hewan kesayangan, silakan hubungi warga Kedokteran Hewan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan dulu ada joke di antara kami, \u201cKalau dokter hewan ketemu hewan sakit pasti diobati. Tapi kalau peternak mending disembelih.\u201d Tentu di luar konteks hewan kesayangan, ya. Kami belajar industri peternakan, tentu penanganan yang kami lakukan akan profit oriented.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma nggatheli lainnya tentu perkara bau badan. Mentang-mentang kami hidup bersama ternak, lalu bau kami jadi bau kandang. Kami mengenal budaya turun temurun leluhur bernama MANDI. Yah, kalau mengutip quote ala anak Punk, \u201cFapet yo fapet, tapi yo adus!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagipula kami juga mengenal grooming. Toh, sapi saja kami mandikan dan grooming, apalagi tubuh kami. Jadi jangan ragu jadi pasangan orang Fapet. Sapi dan kambing saja kami rawat, apalagi kamu, Dek!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma terakhir yang lebih nggatheli adalah perkara pekerjaan. Tolong, tidak semua dari kami mampu dan ingin jadi pengusaha! Saya sudah jelaskan perkara modal tadi tidak selalu bisa diakses lulusan peternakan. Tapi sungguh, di dalam hati kecil kebanyakan dari kami ingin jadi peternak, lho. Apalagi jika sudah memahami profit dan potensi perkembangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dibilang sering salah jurusan, namanya bekerja memang wajar jika demikian. Toh, lulusan Teknik Sipil ada yang jualan ayam geprek. Lulusan kedokteran ada yang jualan sepatu. Dan lulusan peternakan ada yang jadi tukang marah-marah di Terminal Mojok.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/phKv_fo-9HM\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Walau sering di kandang, kami bisa wangi, kok.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":154337,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[8515,14341,34],"class_list":["post-154296","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-fakultas-peternakan","tag-kandang","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154296","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=154296"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154296\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/154337"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=154296"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=154296"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=154296"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}