{"id":154004,"date":"2021-12-14T15:30:45","date_gmt":"2021-12-14T08:30:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=154004"},"modified":"2021-12-14T14:50:38","modified_gmt":"2021-12-14T07:50:38","slug":"3-singkatan-bahasa-sunda-yang-biasa-digunakan-para-sundanese","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-singkatan-bahasa-sunda-yang-biasa-digunakan-para-sundanese\/","title":{"rendered":"3 Singkatan Bahasa Sunda yang Biasa Digunakan para Sundanese"},"content":{"rendered":"<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Dalam berkomunikasi baik secara lisan atau pun non-lisan, kita terkadang menggunakan kata-kata singkatan. Nah, dalam bahasa Sunda, ada juga beragam kata-kata singkatan yang biasanya digunakan oleh para Sundanese. Khususnya, Sundanese generasi milenial.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Nah, sebagai penutur non-Sunda yang tinggal di Jawa Barat, nggak ada salahnya kamu mengetahuinya. Nggak ada salahnya juga kamu mengetahuinya untuk menambah wawasanmu soal kekayaan bahasa Sunda. Berikut kata-kata singkatan bahasa Sunda yang wajib diketahui penutur non-Sunda.<\/p>\n<h4 lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\">#1 Sateh<\/h4>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">&#8220;Sateh&#8221; adalah singkatan dari &#8220;sia&#8221; dan &#8220;teh&#8221;. Dalam bahasa Indonesia, &#8220;sia&#8221; adalah kata kasar yang artinya kamu. Sedangkan &#8220;teh&#8221; artinya tuh. Jadi, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, &#8220;sateh&#8221; artinya &#8220;kamu, tuh!&#8221; Supaya mengucapkannya jadi lebih mudah, terkadang diucapkan seteh. Kata ini biasa digunakan untuk mengekspresikan kekesalan, kekecewaan, atau ketidaksetujuan kepada teman atau orang lain.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Misalnya, teman kamu pesan makanan lewat online. Saat itu, hujun turun deras. Setibanya di rumah, abang pengantar makanan ini basah kuyup. Teman kamu ini lalu mengambil pesanan makanan dan sama sekali nggak kasih tips ke dia. Kamu lalu merasa kesal kepada teman kamu ini. Kamu bisa berkata seperti ini, \u201cKasih dong tips buat abang yang ngater makanannya. Dia kasihan kehujanan kan? Sateh!\u201d Atau bisa juga seperti ini, &#8220;Kok nggak dikasih tips sih, kasihan kan dia kehujanan, seteh!\u201d<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Contoh lainnya, kamu jalan-jalan bareng teman. Lantaran lapar, teman kamu ngotot mau makan di Korean Food yang ada di dekat kalian. Kamu nggak setuju dengan temanmu itu. Soalnya, harga makanan di sana sangat mahal. Kamu bisa berkata ini kepadanya, \u201cJangan beli di sana, mahal, sateh!\u201d<\/p>\n<h4 lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\">#2 Etpis<\/h4>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">&#8220;Etpis&#8221; adalah singkatan dari &#8220;eta&#8221; dan &#8220;pisan&#8221;. &#8220;Eta&#8221; artinya itu, sedangkan &#8220;pisan&#8221; artinya sekali. Jadi, dalam bahasa Indonesia, &#8220;etpis&#8221; artinya &#8220;itu banget&#8221;. Dalam penggunaannya, etpis maknanya sama seperti ini, \u201cWah, benar sekali.\u201d Misalnya, kamu lagi makan bakso bareng temanmu. Kamu dan temanmu ini merasa bakso tersebut kurang pedas, padahal kamu dan temanmu penyuka pedas.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Lalu, seorang teman membawakan sambal botol. Kamu pun senang karena bisa menikmati rasa pedas. Kamu bisa mengekspresikannya, seperti ini, \u201cEtpis, kamu euy!\u201d Kata &#8220;etpis&#8221; di sini bermakna bahwa tindakan teman kamu itu yang membawakan sambal adalah tindakan yang benar.<\/p>\n<h4 lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\">#3 Gobjing<\/h4>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">&#8220;Gobjing&#8221; singkatan dari \u201cgoblog\u201d dan \u201canjing\u201d. Kedua kata ini adalah kata kasar tingkat dewa dalam bahasa Sunda. Supaya menyebut \u201cgoblog anjing&#8221; jadi lebih praktis, maka disingkat menjadi &#8220;gobjing&#8221;. Singkatan ini biasa digunakan untuk mengekspresikan emosi negatif yang sedang dirasakan. Memang, tak semua orang Sunda gemar mengatakan kedua kata tersebut. Kata &#8220;gobjing&#8221; terkadang digunakan di komunitas orang Sunda yang gemar mengucapkan kata \u201canjing\u201d dan \u201cgoblog\u201d.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Misalnya, beberapa tahun lalu, saya menyaksikan pertandingan Persib di suatu tempat keramaian. Orang-orang di sini ternyata gemar mengucapkan kata \u201canjing\u201d dan \u201cgoblog\u201d. Saat Persib kebobolan, salah seorang dari mereka ada yang berkata seperti ini dengan nada lantang dan raut muka sangat kecewa. \u201cGobjiiiiing! Persib kabobolan, euy,\u201d katanya. Jadi, kalau kamu lagi gaul bareng orang-orang Sunda yang gemar mengucapkan kata \u201canjing\u201d dan \u201cgoblog\u201d, kata &#8220;gobjing&#8221; bisa dipergunakan.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Itulah, beberapa kata singkatan bahasa Sunda yang bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bagaimana? Kira-kira singkatan mana yang pengin kamu gunakan saat berkomunikasi dengan para Sundanese?<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/RXGRiBW9Mv0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pokoknya kamu harus tahu.<\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":154473,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6512],"class_list":["post-154004","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-sunda"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154004","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=154004"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/154004\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/154473"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=154004"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=154004"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=154004"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}