{"id":153937,"date":"2021-12-13T10:00:31","date_gmt":"2021-12-13T03:00:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=153937"},"modified":"2021-12-09T22:49:48","modified_gmt":"2021-12-09T15:49:48","slug":"panduan-pakai-kata-gaskeun-dalam-percakapan-bahasa-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-pakai-kata-gaskeun-dalam-percakapan-bahasa-sunda\/","title":{"rendered":"Panduan Pakai Kata Gaskeun dalam Percakapan Bahasa Sunda"},"content":{"rendered":"<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Beberapa hari lalu saat saya dalam perjalanan pulang, saya melihat plang besar dengan tulisan \u201cGrabFood Gaskeun.\u201d Plang ini menawarkan paket promo makanan yang disediakan oleh perusahaan taksi online tersebut.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Nah, saya tertarik dengan kata \u201cgaskeun\u201d yang merupakan kata dalam bahasa Sunda. Gaskeun tersusun dari dua kata, yaitu &#8220;gas&#8221; dan &#8220;keun&#8221;. Gas artinya gas untuk memajukan mobil, sedangkan keun artinya akhiran yang sama dengan akhiran -kan dalam bahasa Indonesia. Jadi, gaskeun sebenarnya punya arti: siap diantarkan dengan kendaraan.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Namun, dalam percakapan bahasa Sunda, kata \u201cgaskeun\u201d tak hanya sebatas untuk itu. Ia bisa juga digunakan dalam berbagai situasi. Nah, berangkat dari hal itu, saya ingin membuat panduan menggunakan kata tersebut dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Sebagai catatan, kata \u201cgaskeun\u201d hanya digunakan untuk situasi non-formal, misalnya pas lagi nongkrong atau lagi santai bareng teman. Jangan gunakan kata ini dalam situasi formal, misalnya saat rapat. Soalnya, kurang pas. Berikut panduan menggunakan kata \u201cgaskeun\u201d dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari.<\/p>\n<h4 lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">#1 \u201cAyo lakukan!\u201d<\/h4>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">&#8220;Gaskeun&#8221; artinya bisa seperti ini, \u201cAyo cepat lakukan!\u201d Nah, umpamakan teman kamu si Kosim lagi mau nembak cewek yang berada tak jauh darinya. Misal, nama ceweknya si Djubaedah. Tapi, si Kosim wajahnya tampak ragu-ragu. Dari gestur tubuhnya, kamu melihat Kosim seperti ingin mengurungkan niatnya itu. Supaya Kosim mau nembak cewek itu, kamu bisa berkata seperti ini kepada si Kosim, \u201cAyo Sim! Jangan ragu-ragu, dong. Itu Djubaedah lagi berdiri di situ. Gaskeun, Sim! Gaskeun!\u201d<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Contoh lainnya, teman kamu meminjam gitar. Kamu lalu mengambilnya dan memberikan gitar tersebut padanya. Kamu bisa berkata seperti ini, \u201cIni gitarnya, gaskeuuun!\u201d Gaskeun di sini maksudnya meminta teman kamu itu agar melakukan bermain gitar dengan asyik.<\/p>\n<h4 lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">#2 \u201cDijadikan saya, ya?\u201d<\/h4>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Bila &#8220;gaskeun&#8221; diberi tanda tanya, maknanya akan menjadi seperti ini, \u201cDijadikan saja, ya?\u201d Mengucapkannya tentunya dengan nada bertanya. Misalnya, kamu akan membeli rumah tahun depan. Kamu lalu meminta pendapat seorang teman. Kamu bisa bertanya seperti ini kepada temanmu itu, \u201cSaya sepertinya akan mau beli rumah tahun depan. Gaskeun?\u201d Kata gaskeun tersebut bermaksud seperti ini: membeli rumahnya dijadikan saja, ya?<\/p>\n<h4 lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">#3 Meminta seseorang mengendarai kendaraan<\/h4>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Kata &#8220;gaskeun\u201d bisa juga digunakan untuk meminta seseorang mengendarai kendaraan. Misalnya, kamu lagi menuju ke suatu tempat. Kamu meminta teman kamu mengendarai mobil Avanza milikmu. Maka, kamu bisa berkata seperti ini kepadanya, \u201cIni mobil Avanza punya saya. Gaskeun, ya, Bro.&#8221;<\/p>\n<h4 lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">#4 Menjawab pertanyaan, \u201cGaskeun?\u201d<\/h4>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Nah, bagaimana caranya menjawab kalau ada kawan Sunda bertanya &#8220;gaskeun&#8221; kepadamu? Misalnya, kamu pemilik toko smartphone yang berencana mengobral smartphone. Lalu, bawahanmu bertanya seperti ini, \u201cA, yang rencananya mau ngobral smartphone, gaskeun aja? Jangan?\u201d Kamu sudah mengambil keputusan tak jadi mengobralnya. Nah, untuk menjawab pertanyaan bawahanmu tersebut jangan menggunakan jawaban, \u201cJangan gaskeun\u201d. Ini soalnya bakal aneh. Sebab, &#8220;gaskeun&#8221; adalah kata yang tak bisa diberi kata \u201cjangan\u201d. Jawab saja dengan kata \u201cya\u201d atau \u201ctidak\u201d.<\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: left;\" align=\"justify\">Itulah, panduan menggunakan kata \u201cgaskeun\u201d dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari. Bagaimana? Paham, tidak? Sebagai penutur non-sunda yang tinggal di Jawa Barat, kamu bisa menggunakan kata tersebut. Dengan menggunakannya, selain membuat percakapanmu berkesan lebih nyunda dan membumi , akan membuat percakapanmu terkesan jadi lebih gaul dan kekinian. Gaskeun, euy!<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/XkKCui44iM0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biar Nyunda-mu lebih kafah.<\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":153961,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6512,14309,2209],"class_list":["post-153937","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-sunda","tag-gaskeun","tag-percakapan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=153937"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/153937\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/153961"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=153937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=153937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=153937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}