{"id":152671,"date":"2021-12-04T12:30:55","date_gmt":"2021-12-04T05:30:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=152671"},"modified":"2021-12-03T23:58:01","modified_gmt":"2021-12-03T16:58:01","slug":"upload-manusia-menciptakan-alam-baka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upload-manusia-menciptakan-alam-baka\/","title":{"rendered":"Upload: Bagaimana Jadinya bila Manusia Menciptakan Alam Baka?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApakah kita bakal bosan kalau udah abadi di akhirat?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan tersebut pernah terlontar dari mulut saya ketika kecil, sewaktu guru ngaji saya menceritakan tentang indahnya surga dan betapa mengerikannya neraka. Pertanyaan itu terlontar ketika beliau menyebutkan bahwa kita akan kekal di akhirat nanti, satu hari di akhirat bagaikan seratus hari di bumi, paparnya. Lalu guru ngaji itu menerangkan bahwa logika orang-orang di dunia nggak bisa disamakan dengan logika di akhirat. Jawaban itu membuat saya semakin resah karena belum bisa menjawab pertanyaan saya secara memuaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, semakin dewasa, saya semakin mengerti tentang jawaban dari guru ngaji itu. Jawaban yang memang tidak sepenuhnya untuk dimengerti. Sebab, sekarang saya mendapatkan jawaban itu justru bukan dari kata-kata siapa pun, melainkan atas pencarian yang saya lakukan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan setelah hampir sembilan belas tahun saya hidup, pertanyaan itu muncul kembali. Meskipun kali ini, saya sudah punya prinsip yang cukup kuat untuk menjawab dan tidak goyah atas pertanyaan saya sendiri itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepatnya ketika saya menonton sebuah series tentang manusia yang sudah bisa membuat alam baka buatan. Series itu berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upload<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebuah series dystopia yang rilis pada 2020 dari Amazon Prime Video yang bisa dibilang \u201ctandingan\u201d series \u201cBlack Mirror\u201d Netflix. Meskipun pada series <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upload<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> premis ceritanya cuman satu, nggak beda-beda tiap episode kaya Black Mirror.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upload<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengusung latar tahun 2030, di mana semua teknologi sudah canggih. Bahkan saking majunya, manusia pada tahun tersebut sudah mampu membuat alam baka sendiri. Alam baka ini mirip kaya games di The Sims, tapi avatar-avatar di dalam alam baka buatan ini adalah orang betulan yang mati. Jadi ketika manusia pada 2030 sudah meninggal, mereka diberikan dua pilihan. Antara mati seperti mati sebagaimana mestinya, atau mati namun tetap bisa \u201chidup\u201d di alam baka buatan itu. Dan proses tersebut dinamakan \u201cUpload\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan latar tersebut, series ini bercerita melalui tokoh utama bernama Nathan yang mengalami kematian akibat kecelakaan mobil otomatis yang menabrak sebuah truk. Lalu dengan persetujuan pacarnya yang ternyata toksik, akhirnya ia menyetujui untuk \u201cdi-upload\u201d ke alam baka buatan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alam baka buatan ini sebenarnya adalah sebuah tempat sementara yang nantinya bakal membuat manusia hidup abadi. Untuk menampung itu, alam baka buatan ini memiliki berbagai pilihan tempat. Dari mulai tempat-tempat yang dipenuhi ingar bingar kota khas Amerika, padang pasir Afrika, dan lain sebagainya. Tempat yang dipilih pacarnya untuk Nathan bernama Lakeview yang bisa dibilang alam baka buatan paling tersohor pada series ini. Tentu dengan harga yang cukup mahal, karena di Lakeview memiliki fasilitas alam baka buatan yang mirip dengan \u201cdunia\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain berbagai fasilitas yang cukup unik, di setiap alam baka buatan\u2014termasuk Lakeview, terdapat seorang \u201cmalaikat\u201d yang dipekerjakan untuk mengawasi dan melayani para orang-orang mati ini. Dari mulai melayani para orang mati untuk mengontak teman-teman yang sudah hidup, memberi berbagai keinginan para orang mati, dan lain sebagainya. Bisa dibilang \u201cmalaikat\u201d ini adalah OP warnet lah. Jadi kalau suatu saat dunia sudah bisa buat alam baka sendiri, OP warnet ternyata masih memiliki peluang untuk dipekerjakan tanpa bantuan kartu pra kerja xixi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui alam baka buatan ini, Nathan bertemu dengan Nora, seorang \u201cmalaikatnya\u201d yang mengatakan bahwa ada yang aneh pada kematian Nathan. Sebab, data Nathan yang ada pada komputer Nora ternyata ada yang error.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena keduanya ini cukup intens berkomunikasi, ditambah Nathan putus dengan pacarnya karena Nathan merasa dijadikan boneka ketika ia mati, Nathan dan Nora saling jatuh cinta. Sekilas memang mengingatkan saya dengan film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Her<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2013), di mana seorang pria jatuh cinta dengan sebuah artificial intelligence. Bedanya, Nathan dan Nora merupakan manusia sungguhan, meskipun secara harfiah Nathan sebenarnya sudah mati dan hanyalah \u201ckumpulan memori\u201d dalam sebuah data yang \u201cdimanusiakan\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sinilah series ini berlanjut. Penonton seakan-akan dibuat bertanya-tanya di setiap epsiodenya tentang \u201capa yang sebenarnya dilakukan Nathan ketika blio hidup\u201d sekaligus \u201cteknologi apalagi nih yang bakal muncul di series ini?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski memiliki premis yang cukup menarik, series ini malah lebih fokus pada kisah percintaan antara Nathan dan Nora, si \u201cmalaikat penjaganya.\u201d Padahal, menurut saya series ini bakal lebih menarik kalau latar waktu yang diambilnya pada waktu si pembuatan teknologi \u201cupload\u201d ini dicanangkan. Sebab, fokus cerita pasti nanti akan berkutat pada eksistensi manusia, pertentangan agama, dan intrik politik yang menurut saya bakalan lebih menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kendati demikian, series ini tetep nggak bertema seratus persen tentang percintaan kok. Series ini juga membicarakan tentang hak manusia untuk hidup abadi, kritik sosial, teknologi yang semakin tidak humanis melalui dialog-dialog antara tokoh di dalamnya. Bahkan melalui ayah Nora yang tidak ingin dirinya \u201cdi-upload\u201d sebab ia meyakini bahwa masih ada \u201cakhirat betulan\u201d setelah kehidupan, pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensialisme dan lain sebagainya juga muncul melalui tokoh ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah menonton series ini, agaknya pernyataan guru ngaji saya itu ada benarnya. Jika alam baka atau akhirat memiliki logika yang sama dengan logika yang ada di dunia, situasinya akan kacau seperti apa yang ada di dalam series <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upload<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini. Bahkan bisa jadi lebih kacau, jika cerita yang dimainkan tidak hanya pada Nathan dan Nora, tapi juga intrik politik dan agama yang juga turut andil di dalamnya. Seperti apa yang sudah-sudah terjadi belakangan, di dunia yang fana dan mengerikan ini.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: Instagram @uploadonprime<\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaimana jika kesadaranmu diunggah ke dunia maya?<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":153112,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13118],"tags":[14250,7486,14249],"class_list":["post-152671","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serial","tag-amazon","tag-series","tag-upload"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/152671","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=152671"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/152671\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/153112"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=152671"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=152671"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=152671"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}