{"id":152019,"date":"2021-11-27T14:30:50","date_gmt":"2021-11-27T07:30:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=152019"},"modified":"2021-11-27T14:12:33","modified_gmt":"2021-11-27T07:12:33","slug":"k-pop-koplo-nomic-dan-perang-budaya-populer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/k-pop-koplo-nomic-dan-perang-budaya-populer\/","title":{"rendered":"K-Pop, Koplo-nomic, dan Perang Budaya Populer"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan mata merah dan tatapan sayu Pardi mengangkat dagu dan mecucu, memberikan isyarat kepada Solikin untuk mematikan sejenak alunan musik dari pelantang yang ada di tengah lingkaran forum. Lengkingan gitar blues yang sejak beberapa jam membetot telinga mereka sebagai suara latar diskusi, kini berganti alunan puji-pujian menjelang azan subuh dari arah masjid desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keheningan pascaazan dipecah oleh Pardi yang tiba-tiba saja melemparkan gawainya ke tengah lingkaran forum. \u201cTrending medsos kok isinya K-Poooop semua. Nyebahi!\u201d protes pensiunan anak punk itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah ini bagus dibahas sebelum forum malam ini ditutup sama tuan rumah.\u201d Kanapi bangkit dari posisi rebah dengan kepala ditopang tangan. Menanggapi setengah menggoda. \u201cGimana menurutmu, Kin?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha memang apa yang menurut Sampean menyebalkan dari K-Pop, Mas Di?\u201d tanya Solikin sambil mengelap sisa minyak dari gorengan yang telah lemas itu ke tumit dan betisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa semuanya, Kin. Kualitas musiknya, tren tatabusan,a dan gaya hidupnya, juga kepalsuan-kepalsuan lain yang mengikutinya.\u201d Pardi nampak bersemangat mengatakan itu diiringi kemeretek bunyi cengkeh yang terbakar dari rokok di ujung bibirnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, kualitas itu bisa diperdebatkan, Di, dan itu masalah selera\u2026\u201d tukas Kanapi, \u201c\u2026lagian kalau ngomong tren fesyen dan gaya hidup yang dibawa K-Pop, apa bedanya dengan musik punk yang kamu gandrungi itu? sama-sama menggendong tren fesyen dan gaya hidup juga, tho?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, mas, Di. Itu anak-anak punk juga punya dandanan dan gaya hidup yang khas. Kurang-lebih saja antara K-Pop dan punk ituuu\u2026\u201d Solikin ikut menggoda kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho ya jelas beda, to. Punk itu aliran yang lahir dari nafas perlawanan. Rebel. Anti-kemapanan. Anti-arus utama. Menolak kejumudan. Sejalan dengan jiwa perlawanan bangsa kita yang dulu terjajajah. Lha kalau K-Pop kan kebalikan dari itu semua.\u201d Pardi nampak tersulut dengan tamsilan Solikin, \u201cAdik-adik ini, generasi di bawah kita itu, sekarang malah seperti dijajah oleh budaya asing. Sibuk dengan tren pemujaan terhadap idola.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto tersenyum di sudut teras rumahnya, tempat forum malam ini dihelat. Pandangannya diedarkan pada halimun subuh yang mulai turun pelan. Ia nampak enggan menanggapi perdebatan tiga pemuda itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau ngomongin orisinalitas, Mas Di, emangnya punk itu musik asli dari sini? Dari Nusantara? Kan tidak, to? Hampir semua genre musik di sini ya impor dari luar.\u201d Solikin terdengar bestari, \u201cKalaupun ada yang nampak orisinil, ketika dirunut secara historis sedikit-banyak pasti ada pengaruh dari budaya luar juga. Mau itu keroncong, campur sari, atau dangdut.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho yang menggelisahkanku bukan orisinalitasnya, Kin, tapi spirit musik dan budaya yang mengikutinya itu lho. Menurutku, tingkat pengidolaan generasi sekarang terhadap K-Pop dan budaya Korea saat ini sudah di level mengkhawatirkan. Bangsa kita terasa dijajah oleh budaya Korea. Mau dibawa ke mana nasib bangsa ini kalau muda-mudinya sibuk memuja budaya asing dan lupa dengan budaya bangsa sendiri?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kanapi menganggut mendengar curahan hati kawannya itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKeresahanmu ndak relevan, Di. Malah terdengar seperti kaum konservatif. Hehehe.\u201d Cak Narto menanggapi dengan menggoda, tapi Pardi melengos saja mendengar itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKonservatif gimana maksudnya, Cak?\u201d Justru Solikin yang kini terlihat penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, penolakan terhadap musik atau musisi dari genre tertentu \u2018kan sudah pernah terjadi, nDes, oleh Bung Karno terhadap musik The Beatles yang ia juluki sebagai musik ngak-ngik-ngok yang akhirnya membuat Koes Bersaudara harus dipenjara. Kemudian terjadi juga saat rezim Orde Baru mencekal musisi-musisi yang dianggap mengkritik pemerintah.\u201d Jelas Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha kalau sekarang Sampean yang ndak relevan, Cak, alias ramashok!\u201d potong Pardi, \u201cYang aku maksud kan bukan penolakan semacam itu, maksudkuuuu\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya aku ngerti, Di, gini maksudku, bahwa pengidolaan yang berlebihan terhadap apa pun itu tidak bagus, dalam konteks ini K-Pop dan budaya Korea, aku mengerti dan sepakat dengan kamu. Tapiiii\u2026\u201d Cak Narto menyesap sisa kopi di dasar gelas, \u201c\u2026itu sebuah keniscayaan dari perkembangan jaman dan dinamika kebudayaan global. Justru dari K-Pop dan Korsel kita harus banyak belajar. Strategi-strategi mereka dalam memenangkan perang budaya populer saat ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa sih, Cak? Sudah mau pagi ini, mbokya ndak usah beretorika. Keniscayaan gimana? Strategi apa? Perang sama siapa, maksud Sampean?\u201d Kanapi yang memberondong pertanyaan kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, penetrasi budaya asing, terutama musik, ke sini kan bukan hal baru, nDes. Generasi di atas kalian itu pernah menggilai The Beatles dan budaya hippie-nya. Pernah gandrung dengan musik rock dan metal dari Barat. Pernah juga mengimitasi musik dan gaya hidup ala anak punk. Ada juga generasi yang menjerit-jerit mendengar boyband Barat seperti Westlife dkk. Itu. Budaya pop semacam itu terus diproduksi oleh bangsa dari berbagai zaman, dan itu semacam medan perang baru di era modern. Tapi, dibandingkan dengan K-Pop, mereka semua menurutku, nggak ada apa-apanya. Dan bangsa kita patut belajar dari mereka.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga pemuda itu menampakkan raut menagih penjelasan yang lebih pepak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini lho, nDes, setelah dihantam perang saudara dengan Korea Utara pada masa perang dingin dan krisis ekonomi di akhir 90-an, Korea Selatan meramu sebuah strategi baru dalam membangkitkan ekonomi negaranya, dan mereka memilih sektor industri kreatif sebagai salah satu ujung tombaknya untuk memasuki gelanggang perang budaya populer. Mereka sadar, bahwa barang siapa memenangkan ini, budaya pop itu, maka efek domino bagi kemajuan bangsanya akan luar biasa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto menarik batang kretek baru dari bungkus, membakarnya, dan melanjutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekarang coba lihat hasilnya! Dari industri musik K-Pop yang berhasil menguasai belahan dunia lain itu, saat ini sektor industri Korsel lainnya mengikuti: perfilman, pariwisata, kedokteran, kuliner, dan seterusnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahkan,\u201d lanjut Cak Narto, \u201cdunia ekonomi sampai punya istilah baru terkait fenomena ini: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">K-Popnomic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saat ini, nDes, asal sebuah produk ada embel-embel Korea-nya pasti akan dilahap oleh pasar. Apa ndak fenomenal itu!\u201d Asap dari mulut Cak Narto mengambang di tengah lingkaran forum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya juga ya, Cak. Kemarin kan sempat ramai fenomena tas kertas bekas pembungkus ayam goreng BTS Meal yang dijual ratusan ribu aja laku di pasaran.\u201d Timpal Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa itu salah satu contoh kesuksesannya, Kin. Nanti jangan jangan heran, Ndes, kalau di masa depan akan ada produk yang harganya nggak masuk akal dan tetap laris di pasaran cuma karena ada embel-embel K-Pop-nya. Sempak BTS, misalnya. Atau Kutang Blackpink. Atau Kresek EXO. Hehehe.\u201d Lingkaran forum itu tenggelam dalam gelak tawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi tetap saja, Cak, dengan begitu berarti bangsa kita telah terjajah secara budaya dan itu berbahaya untuk masa depan dan jati diri bangsa.\u201d Tukas Pardi memangkas keriangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau mau, Di, bangsa kita belum terlambat. Ada satu budaya pop kita yang bisa jadi tandingan K-Pop di masa depan, yaitu dangdut koplo.\u201d Cak Narto tersenyum aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWooo ya jelas kalah jauh, Cak, kalau mau berhadapan sama K-Pop.\u201d Protes Pardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaat ini memang masih jauh, Di. Tapi kalau pemerintah mau serius me-rebranding dangdut koplo dengan metode serupa dengan cara Korsel meramu budaya popnya, bukan tidak mungkin di masa depan kita akan memetik buah manisnya. Secara karakteristik dangdut koplo memenuhi kriteria untuk dibikin seperti itu. Seperti K-pop itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semburat jingga dari arah timur desa mulai menyeruak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSudah mau pagi ini, Cak. Karateristik yang gimana maksud Sampean?\u201d Solikin mengejar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho ya karakteristik secara keseluruhan, nDes!\u201d Cak Narto berdiri menarik pinggang, \u201cKeluwesan dangdut koplo itu, sejauh pengetahuanku, belum ada tandingannya. Bayangkan, nDes, semua genre musik di dunia ini bisa di-koplo-kan, dari musik metal, rap, punk, sampai musik klasik pun bisa. Rancak ketukan gendangnya juga serupa dengan irama musik K-Pop.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBelum lagi dari segi aksi panggung. Musisi dangdut koplo jelas nggak kalah atraktif dengan penyanyi K-Pop, to? Konsep koreografinya, goyangan yang khas itu, \u2018kan sudah sejak lama dimiliki musisi koplo kita. Malahan belum tentu ada penyanyi Korea itu yang bisa mempertahankan suara tetap merdu, tapi dengan meliuk-liuk seperti Mbak Inul atau Uut Permatasari. Hehehe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKuncinya ada di rebranding, nDes. Dan itu butuh campurtangan pemerintah. Meski untuk mencapai level go-internasional semacam K-Pop butuh waktu yang nggak sebentar, tapi aku sih percaya diri dengan masa depan Dangdut Koplo, Ndes. Korsel sendiri butuh waktu setidaknya dua dekade sampai bisa seperti sekarang.\u201d Ia mulai menguap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBayangkan di masa depan musisi dangdut koplo kita bisa nampang di bungkus-bungkus merek produk ternama. Atau grup-grup Orkes Melayu itu di panggung Grammy menerima penghargaan musik internasional.\u201d Pandangan Cak Narto diputar ke arah jalanan desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang lebih \u2018wah\u2019 lagi, Cak\u2026\u201d Kanapi berdiri dan bersiap meninggalkan forum, \u201c\u2026kalau dangdut koplo sudah mendunia, akan ada produk-produk laris semacam McD X Monata, Tesla X New Palappa, atau produk remeh-temeh semacam BTS Meal itu tapi di sampulnya ada potret Cak Sodik atau Denny Caknan. Hehehe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan akan ada istilah baru di dunia ekonomi, namanya tentu saja: Koplo-nomic. Hahaha.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Forum pagi itu akhirnya bubar ketika cengkerama penjual sayur yang beriringan menuju pasar desa mulai terdengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi merekahkan jingga, membanjiri dedaunan dengan pendar warna yang susah dijelaskan, membuat setiap jiwa yang melihatnya akan bersyukur dan bahagia.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/pixabay.com\/id\/photos\/k-pop-penyanyi-korea-jari-nyanyian-638260\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Secara karakteristik dangdut koplo memenuhi kriteria untuk dibikin seperti itu. Seperti K-pop itu. Bahkan, bisa saja lebih.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":152021,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[762,919,47,4320],"class_list":["post-152019","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-budaya","tag-dangdut","tag-k-pop","tag-koplo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/152019","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=152019"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/152019\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/152021"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=152019"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=152019"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=152019"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}