{"id":15131,"date":"2019-09-30T11:00:33","date_gmt":"2019-09-30T04:00:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=15131"},"modified":"2022-01-12T13:21:32","modified_gmt":"2022-01-12T06:21:32","slug":"sejak-kapan-rokok-punya-gender","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejak-kapan-rokok-punya-gender\/","title":{"rendered":"Sejak Kapan Rokok Punya Gender?"},"content":{"rendered":"<p>\u201cIh, cewek tuh kalo udah ngerokok pasti nakal banget! Pasti etikanya bobrok, deh.\u201d\u00a0 WHOAAAA! <em>Stop! Hold my beer for a little while, please? Let me tell you a story and a conspiracy.<\/em><\/p>\n<p>Saya adalah seorang maba yang berasal dari suatu daerah kecil di Jawa Timur yaitu Mojokerto. Kebetulannya, saya diberi kesempatan untuk mengemban pendidikan tinggi di Jogjakarta. Tentunya kultur tempat saya yang notabenenya adalah kota kecil amat jauh berbeda dengan Jogjakarta, kota destinasi favorit mayoritas turis sekaligus kota pendidikan. Mungkin karena ruang lingkupnya masih sama-sama Jawa, perbedaannya bukan bahasa dan sikap sopannya, ya. Tetapi mari kita coba lihat dari perspektif yang berbeda yaitu dari <em>lifestyle <\/em>pemudanya.<\/p>\n<p>Yhaaa kalau perihal pemudanya, saya rasa mau di kota besar atau kota kecil, mungkin hampir sama. Ada yang memilih rajin dirumah, ada yang memilih untuk ngopa ngopi ngopa ngopi. Dan dalam dunia perngopian, pasti juga diarungi dengan per-udud-an. Nah, ini nih. Beberapa maba (terutama yang berasal dari kota kecil) mungkin masih merasakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-anak-rantau-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>culture shock <\/em><\/a>kalau tahu sudah banyak wanita yang <em>sebal-sebul<\/em> di tempat ngopi. Kayak kaget aja gitu. Pasti tanpa disadari ada pemikiran, \u201cwih, ini nih, cewek ngudud.\u201d Ada yang menganggap keren, ada juga yang menganggap &#8216;apa-apaan sih?!&#8217;.<\/p>\n<p>Tahun sudah beranjak menjadi 2019, permasalahan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/jasa-mesin-tik-untuk-emansipasi-perempuan-diiF\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">emansipasi wanita<\/a> tetap saja menjadi masalah <span style=\"text-decoration: line-through;\">sejak jaman Raden Ajeng Kartini.<\/span> Dari yang awalnya hanya perihal pekerjaan yang hanya boleh dikerjakan oleh kaum pria, hingga rokok yang seolah punya gender untuk penikmatnya. Padahal, tidak sedikit pula kaum wanita yang kini juga merokok. Eh sedari dulu, mbah-mbah putri kita juga ada yang merokok lo padahal. Tetapi, permasalahannya, menjadi seorang wanita perokok tidak semudah para pria yang bisa <em>bal bul <\/em>di mana saja tanpa dipandang sebelah mata, apalagi sampai mengaitkan dengan etika dan moralnya.<\/p>\n<p>Saya sendiri juga heran dan bertanya-tanya, sejak kapan sih ya, stigma mayoritas masyarakat perihal perempuan yang merokok ini negatif? Tak sedikit pula lho, masyarakat yang menganggap seorang perokok perempuan ini cewek nakal dan cewek <em>loss nggak ada rem<\/em>. <em>hihi<\/em>, miris ya ketika standardisasi moral hanya dilihat berdasarkan apa yang dikonsumsi seseorang. Iya sih, memang tak jarang juga seseorang yang tidak pegang rokok atau memilih untuk tidak merokok (mau itu cewek atau cowok) dianggap lebih keren karena tidak tergoda dengan kenikmatan inspirasi saat menghisap setiap puntungnya.<\/p>\n<p>Saya pun akui, kalau saya ketemu yang begitu, saya juga menganggap mereka keren. Tapi, kalo kata Yura Yunita nih cuy, <em>tapi keren nggak cukup, yang paling penting kita harus bahagia! <\/em>Kalau boleh jujur nih, saya yakin, kebanyakan alasan mereka merokok pasti bukan karena mereka ingin terlihat keren atau numpang beken. Pasti ada alasan bijak dan dewasa di balik itu.<\/p>\n<p>Ketika saya bertanya kepada beberapa teman dengan persepsi atau pun prinsip yang berbeda-beda tentang perokok perempuan, kebanyakan dari mereka menjawab, \u201csebenarnya, bebas saja, kan ya. Itulah kenapa ada <em>human rights<\/em>. Pasti ada alasan di balik itu dan mereka hebat karena pasti merokok nggak cuma sekedar hisap sebul hisap sebul aja tapi ada banyak resiko dibalik itu yang mereka berani terima.\u201d <i>Eits, <\/i>jangan salah. Tidak semua menjawab seperti itu, ada juga yang bilang, \u201charusnya sih, jangan ya. Lagian ngapain sih, ngerokok kalo emang nggak terlalu butuh? Kesehatan itu lho, yang lebih penting.\u201d<\/p>\n<p>Malah ada jawaban dari seorang teman yang sangat saya pakemkan dalam pikiran. Dialognya kira-kira begini,<\/p>\n<p>\u201cEmang menurutmu, cewek ngerokok <em>iku <\/em>nakal?\u201d tanya saya.<\/p>\n<p>\u201c<em>Yo jelas ogak! Enak banget langsung ngejudge nakal gak e tekan opo sing dikonsumsi. <\/em>(Ya jelas enggak! Enak aja langsung <em>ngejudge<\/em> nakal tidaknya dari apa yang dikonsumsi)\u201d<\/p>\n<p>Dilanjutkan, \u201c<em>lho, tapi selama iki lho, nek ono wedok sing ngudud, mesti diarani ndableg. Padahal <\/em><em>kan wedok-wedok sing rokokan iki gak tau lapo-lapo? Zina misale. Mereka lak rokokan tok se? <\/em>\u00a0 (Lho, tapi selama ini lho, kalo ada cewek yang ngerokok, pasti dibilang nakal. Padahal kan, cewek-cewek yang ngerokok ini nggak pernah ngapa-ngapain? Zina misalnya. Mereka kan cuma rokokan?\u201d)<\/p>\n<p>\u201c<em>Lha, iku mek bedo pilihan ae kan berarti? Gak onok sing suci. Kabeh wong iku pendosa,\u00a0<\/em><em>mek bedo dalan tok ae<\/em>.&#8221; (Lha, itu cuma beda pilihan aja kan berarti? Nggak ada yang suci. Semua orang itu pendosa, cuma beda jalan aja.)<\/p>\n<p>Kalau dipikir-pikir, setiap manusia itu pasti punya jalan masing-masing, kan ya? Termasuk jalan dalam memilih dosa. Ada wanita yang dia nggak merokok, tapi dia berpakaian ketat. Ada wanita yang dia berhijab, tapi dia ngerokok. Sebenarnya, kalau ada papan skor, mereka semua seimbang kali yhaaa.<\/p>\n<p><em>Eits<\/em>, tapi hidup ini bukan perihal melihat siapa yang benar dan salah, kan? Einstein aja bilang, <em>\u201ceverything is relative.\u201d<\/em> Saya setuju banget. Nggak cuma cantik atau ganteng aja yang relatif, tapi semua hal. Baik dan buruk, benar dan salah, itu relatif juga. Sama halnya dengan stigma merokok ini. Nggak adil dong, ketika rokok dianggap biasa saja jika dikonsumsi oleh kaum pria. Tetapi, benar-benar menjadi objek yang tabu jika dikonsumsi oleh kaum wanita.<\/p>\n<p>Adapula argumen seperti ini, \u201ctapi rokok itu bener-bener nggak sehat kan kalo kamu konsumsi!\u201d<em> G<\/em>ini lho, apa bedanya sama kalau kita konsumsi gula dan micin tiap hari? Sama-sama nggak sehat, kan ya? Kalau boleh dikata, kita ini sama-sama nggak sehat, cuma medianya beda aja. Perokok memilih rokok sebagai media yang tidak menyehatkan paru-paru, sedang beberapa penikmat seblak memilih micin dan gula sebagai media yang tidak menyehatkan pencernaan. Substansinya sama, medianya doang yang beda! <em>Hadeeehh<\/em> sama-sama nggak sehat aja pakai menyalahkan satu sama lain. Ujung-ujungnya juga urusan usia dan mati, itu bukan urusan kita.<\/p>\n<p>Eh, tapi kalau dipikir-pikir, pro kontra ini juga tidak akan ada ujungnya <span style=\"text-decoration: line-through;\">bahkan kalo sampe Firaun bangkit terus join ngopi sambil menikmati senja bareng kita<\/span>. Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi perokok perempuan memang harus mengalami banyak tantangan. Karena ya itu tadi lho, stigma negatif yang berkembang di masyarakat perihal dengan seorang perempuan perokok. Pada akhirnya, setiap orang juga akan berbusa membela diri sendiri dengan persepsi masing-masing. Setiap orang juga akan menghidupi apa-apa yang mereka yakini.<\/p>\n<p>Untungnya, kita hidup di negara demokrasi, dengan banyak orang-orang yang cukup dewasa dalam berpikir. Saatnya <span style=\"text-decoration: line-through;\">buka-bukaan <\/span>\u00a0buka mata dan juga buka pikiran. Semua orang punya hak untuk bebas, menghidupi keputusan yang mereka pilih tanpa perlu menggubris apa kata orang. Jangan menganggap seorang wanita perokok sebagai orang yang hina dan nakal sedunia ya, <em>karena sebenarnya rokok juga nggak punya gender, gengs~<\/em>\u00a0\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/inilah-lima-aliran-perokok-dalam-menghadapi-kenaikan-harga-rokok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Inilah Lima Aliran Perokok Dalam Menghadapi Kenaikan Harga Rokok<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nadya-rizqi-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nadya Rizqi Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a> ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari yang awalnya hanya perihal pekerjaan yang hanya boleh dikerjakan oleh kaum pria, hingga rokok yang seolah punya gender untuk penikmatnya.<\/p>\n","protected":false},"author":327,"featured_media":15293,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[14280],"tags":[3641,3642,3640,1718,401,309],"class_list":["post-15131","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sebat","tag-budaya-ketimuran","tag-emansipasi-wanita","tag-etika-dan-moral","tag-gender","tag-kritik-sosial","tag-rokok"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15131","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/327"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15131"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15131\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15131"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15131"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15131"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}