{"id":151230,"date":"2021-11-22T11:00:37","date_gmt":"2021-11-22T04:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=151230"},"modified":"2021-11-22T07:14:37","modified_gmt":"2021-11-22T00:14:37","slug":"panduan-penggunaan-kata-mah-dalam-percakapan-bahasa-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-penggunaan-kata-mah-dalam-percakapan-bahasa-sunda\/","title":{"rendered":"Panduan Penggunaan Kata Mah dalam Percakapan Bahasa Sunda"},"content":{"rendered":"<p>Kalau memperhatikan percakapan orang Sunda secara cermat, kita akan sering mendengarkan mereka mengucapkan kata \u201cmah\u201d dalam percakapan yang mereka tuturkan. Sebenarnya apa sih fungsi kata \u201cmah\u201d itu? Selain itu, dalam situasi apa kita dapat menggunakannya?<\/p>\n<p>Nah, kalau kamu orang non-Sunda yang tinggal di Jawa Barat, nggak ada salahnya memahami penggunaan kata \u201cmah\u201d dalam percakapan sehari-hari. Apalagi kalau kamu belum terlalu lancar berbahasa Sunda. Dengan menggunakannya, tentunya kita akan lebih membumi dengan masyarakat setempat.<\/p>\n<p>Berikut panduan praktis menggunakan kata \u201cmah\u201d dalam percakapan bahasa Sunda.<\/p>\n<h4><strong>#1 Untuk membandingkan beberapa hal<\/strong><\/h4>\n<p>Misalnya ada seorang keponakan kamu yang masih remaja sedang melihat-lihat brosur smartphone. Ia ingin membeli smartphone baru. Keponakan kamu ini lalu bertanya, \u201cMending beli iPhone atau Samsung, sih?\u201d<\/p>\n<p>Kamu yang sudah tahu seluk-beluk dunia per-smartphone-an bisa berkata seperti ini kepadanya, \u201cKalau harga iPhone mah memang selangit, tapi kualitasnya memang luar biasa.\u201d<\/p>\n<p>Perkataanmu tersebut mengandung dua makna. Pertama, harga iPhone memang mahal, tapi kualitasnya sangat bagus. Kedua, hape selain iPhone harganya lebih murah, tapi kualitasnya tak sebanding dengan iPhone.<\/p>\n<p>Kamu juga bisa berkata seperti ini, \u201cKalau harga iPhone mah memang selangit, tapi kualitasnya memang luar biasa. Kalau harga smartphone Samsung mah memang lebih murah, tapi kualitasnya nggak sebaik iPhone.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMah\u201d pada kalimat pertama merujuk kepada iPhone. Sedangkan \u201cmah\u201d pada kalimat kedua merujuk kepada smartphone Samsung. Penggunaan dua kata \u201cmah\u201d tersebut membantu fokus pendengar. Jadi, pendengar lebih fokus mencerna. Kamu bisa menggunakan kata \u201cmah\u201d sesudah menyebut nama objek yang ingin kamu bandingkan.<\/p>\n<h4><strong>\u00a0<\/strong><strong>#2 Untuk menegaskan suatu hal kepada lawan bicara<\/strong><\/h4>\n<p>Dalam percakapan sehari-hari, biasanya ada suatu hal yang ingin kita tegaskan kepada lawan bicara. Nah, dalam percakapan bahasa Sunda, kita bisa menggunakan kata \u201cmah\u201d untuk menegaskan suatu hal kepada lawan bicara.<\/p>\n<p>Misalnya kamu beli mobil baru dari dealer. Lalu, temanmu merasa penasaran kenapa kamu beli mobil. Padahal kamu baru saja di-PHK sehingga nggak punya pekerjaan. Kamu ingin menegaskan kepada temanmu kalau kamu beli mobil baru untuk dipakai jadi taksi online karena akan menghasilkan uang. Kamu bisa berkata seperti ini kepadanya, \u201cSaya mah beli mobil sebenarnya untuk kerja nge-grab sehingga bisa menghasilkan uang.&#8221;<\/p>\n<h4><strong>#3 Untuk mengekspresikan kekecewaan atau kekesalan pada seseorang<\/strong><\/h4>\n<p>Seandainya kamu memesan makanan lewat GoFood. Beberapa menit kemudian, driver tiba di depan rumah. Karena kamu sedang pup di toilet, kamu meminta temanmu untuk mengambil pesanan dan memberi driver uang tip. Ternyata temanmu mengambil pesanan tanpa memberi uang tip.<\/p>\n<p>Kamu tentu merasa kecewa lantaran temanmu nggak menjalankan amanat. Dalam situasi seperti ini, kamu bisa berkata, \u201cKok abang GoFood-nya nggak dikasih tip, sih? Kan kasihan! Kamu mah!\u201d Atau kamu bisa juga berkata seperti ini\u00a0 kepada temanmu, \u201cKamu mah kenapa tukang GoFood-nya nggak dikasih tip? Kasihan kan!\u201d<\/p>\n<p>Selain mengekspresikan kekecewaan, kata \u201cmah\u201d bisa juga digunakan untuk mengekspresikan rasa kesal kepada lawan bicara. Misalnya kamu adalah seorang bos. Kamu menyuruh karyawan untuk mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya mudah, namun tak bisa dikerjakan. Kamu bisa berkata seperti ini, \u201cKamu mah bego! Kok pekerjaan semudah ini saja nggak bisa?\u201d<\/p>\n<p>Gimana? Sudah paham dengan penggunaan kata &#8220;mah&#8221; dalam percakapan bahasa Sunda? Sekali lagi, jika kamu orang non-Sunda yang kebetulan tinggal di daerah Jawa Barat, nggak ada salahnya lho mencoba memahami penggunaan kata ini. Tertarik mencobanya?<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/TuxMcIlPGDw\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau nulis di Terminal Mojok mah emang sulit~<\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":151303,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6512,13662],"class_list":["post-151230","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-sunda","tag-panduan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/151230","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=151230"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/151230\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/151303"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=151230"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=151230"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=151230"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}