{"id":150876,"date":"2021-11-24T11:00:35","date_gmt":"2021-11-24T04:00:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=150876"},"modified":"2021-11-23T15:12:08","modified_gmt":"2021-11-23T08:12:08","slug":"lagu-indonesia-era-90-an-yang-masih-relevan-lampaui-zaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-indonesia-era-90-an-yang-masih-relevan-lampaui-zaman\/","title":{"rendered":"Lagu Indonesia Era 90-an yang Masih Relevan Lampaui Zaman"},"content":{"rendered":"<p>Era 90 hingga 2000-an awal boleh dibilang sebagai era di mana musik Indonesia sedang gacor-gacornya. Kala itu, radio dan MTV jadi ajang pembuktian bagi para musisi bahwa lagunya diterima oleh khalayak.<\/p>\n<p>Gaya musisi pada saat itu juga terbilang unik. Bagi musisi pria, kacamata warna dan rambut belah tengah adalah style yang umum. Sedangkan bagi musisi wanita, atasan miniset dengan bawahan celana jeans adalah fesyen yang sering dikenakan.<\/p>\n<p>Satu fakta yang bisa kita temukan pada lagu Indonesia era 90-an yakni liriknya yang memorabel. Jadi, ketika kita mendengarnya, imaji kita langsung tertuju pada suasana tahun itu. Berbicara mengenai lagu Indonesia era 90-an, saya menemukan beberapa lagu yang masih relevan melampaui zaman. Lagu Indonesia ini masih asyik untuk didengarkan di platform seperti Spotify, iTunes, Joox, atau YouTube.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah daftar lagu Indonesia era 90-an yang relevan melampaui zaman.<\/p>\n<h4>#1 Terlalu Manis \u2013 Slank<\/h4>\n<p>Akui saja, sulit untuk mendengarkan lagu ini tanpa ikut bernyanyi. Lagu ini kerap dinyanyikan oleh Kaka Cs ketika mengakhiri konsernya. Lagu ini menunjukkan cerita tentang kenangan indah bersama seseorang yang berkesan, tetapi tak bisa disatukan. Mirip-mirip seperti siswa di Kampung Inggris Pare yang selama kursus dapet gebetan, tapi setelah selesai masa kursus kisah asmaranya hanya menyisakan kenangan.<\/p>\n<p>Selain itu, lagu ini juga bisa dibawakan pada saat momen perpisahan. Hal ini diperkuat dengan liriknya yang tertulis, \u201cTerlalu manis untuk dilupakan.\u201d<\/p>\n<h4>#2 Rumah Kita \u2013 God Bless<\/h4>\n<p>Lagu ini bagi saya adalah lagu ajaib karena bisa jadi ada orang yang tahu lagu &#8220;Rumah Kita&#8221;, tapi tidak tahu siapa itu God Bless. Lagu ciptaan Ian Antono (Gitaris God Bless) ini memiliki pesan agar kita mikir-mikir lagi untuk merantau. Pesan tersebut diperkuat dengan penggalan lirik yang tertulis, \u201cHaruskah kita beranjak ke kota, yang penuh dengan tanya?\u201d<\/p>\n<p>Lagu yang pernah di-cover oleh Indonesian Voices ini rupanya sangat relate dengan topik berita yang menghiasi televisi pada akhir Lebaran. Topik tersebut adalah &#8220;siapa suruh datang ke Jakarta&#8221; yang memberitakan tentang kepadatan di Jakarta dari tahun ke tahun.<\/p>\n<h4>#3 Mahameru \u2013 Dewa 19<\/h4>\n<p>Sebelum film <em>5 Cm<\/em> menjadi inspirasi bagi anak muda untuk menjadi pendaki, Dewa 19 yang saat itu posisi vokal masih dipegang oleh Ari Lasso memiliki lagu yang mendeskripsikan keindahan Gunung Sumeru serta asyiknya aktivitas pendakian.<\/p>\n<p>Film <em>5 Cm<\/em> boleh jadi menjadi salah satu influence bagi anak muda yang akhirnya memilih mendaki gunung demi <span style=\"text-decoration: line-through;\">selfi-selfi <\/span>mengaktualisasi diri. Namun, siapa sangka sebelum film <em>5 Cm<\/em> rilis Dewa 19 telah menelorkan lagu berjudul &#8220;Mahameru&#8221;.<\/p>\n<p>Dalam lagu ini terdapat lirik yang memberikan pesan untuk masa depan setelah lagu ini diciptakan. Lirik tersebut adalah, \u201cMasihkah terbersit asa anak cucuku mencumbui pasirnya, di sana nyalimu teruji oleh ganas cengkeraman hutan rimba.&#8221; Pesan pada lagu ini diperkuat dengan kenyataan bahwa pendakian ke Mahameru bukanlah hal yang mudah. Apalagi puncak Mahameru merupakan puncak tertinggi di Pulau Jawa.<\/p>\n<h4>#4 Kabari Aku \u2013 Jamrud<\/h4>\n<p>Sebelum Raisa menyanyikan lagu &#8220;LDR&#8221;, Jamrud telah memiliki lagu bertema LDR yang berjudul &#8220;Kabari Aku&#8221;. Pada masanya, lagu ini kerap dinyanyikan oleh anak muda yang sedang nongkrong di pos ronda.<\/p>\n<p>Pada lirik, \u201cLewat telepon, surat faksimile, ngobatin rinduku,\u201d tentu terkesan jadul. Namun, Jamrud telah me-freshnya dengan penggantian lirik \u201cLewat telepon, email atau chatting, ngobatin rinduku\u201d.<\/p>\n<p>Lirik awal pada lagu tersebut juga takkan pernah lekang oleh zaman selagi masih ada pekerja yang merantau di negeri orang. \u201cAku di sini, kau ada di sana, membentang luas samudra biru, memisahkan kita. Penggalan awal lagu ini jelas ngena banget bagi yang sedang menjalani hubungan jarak jauh.<\/p>\n<p>Dari sini saya menyimpulkan, jika ingin memiliki lagu yang long-term popularity, buatlah lagu bertema LDR.<\/p>\n<h4>#5 Sekitar Kita \u2013 Krakatau<\/h4>\n<p>Lagu ini mungkin akrab di telinga generasi X. Namun, lirik dari lagu ini masih tetap relevan dengan keadaan saat ini.<\/p>\n<p>Penggalan lirik lagu tersebut adalah, \u201cSelama dunia masih berputar, perbedaan tak pernah pudar.\u201d Lirik lagu tersebut sepertinya memang akan relate dengan keadaan saat ini dan yang akan datang. Apalagi saat ini, perbedaan tidak hanya muncul di segi politik, tapi juga dari segi makanan seperti bubur diaduk dan bubur tidak diaduk.<\/p>\n<h4>#6 Na Na Na \u2013 Opie Andaresta<\/h4>\n<p>Bagi yang pernah melewati hidup di era 90-an, nama Oppie Andaresta tentu tidak asing bagi para penikmat musik. Pasalnya, lagunya kerap diputar di radio ataupun MTV. Oppie juga tercatat sebagai Rolling Stone The 50 Greatest Indonesian Singer.<\/p>\n<p>Dari semua lagu yang ada, lagu &#8220;Na Na Na&#8221; yang rilis pada 1998 sepertinya menjadi lagu yang relevannya melampaui zaman. Hal tersebut dibuktikan dengan salah satu penggalan liriknya yang tertulis, \u201cSekarang zaman internet tapi etika nggak jadi macet, jangan kayak makhluk planet datang dan pergi tanpa basa-basi.&#8221;<\/p>\n<p>Lagu ini juga secara implisit memberikan teguran kepada anak muda zaman sekarang, kalau bertamu atau ngajak kencan harusnya ketuk pintu dulu. Bukannya cuma modal chat \u201cPing\u201d atau \u201cP\u201d.<\/p>\n<p>Dalam lagu tersebut Oppie seakan bisa meramal masa depan. Pasalnya, saat lagu tersebut rilis, akses internet hanya bisa diakses oleh orang tertentu. Pada 1998, tercatat pengguna internet di Indonesia masih di angka 5 ribu. Jangankan internet, saat itu main Solitaire sama Minesweeper di komputer layar tabung aja udah merasa keren banget.<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/VTYXcIfes0U\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mana yang paling memorable?<\/p>\n","protected":false},"author":770,"featured_media":151619,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[12068,12238,12870,3492],"class_list":["post-150876","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-90-an","tag-jamrud","tag-lagu-indonesia","tag-slank"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150876","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/770"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=150876"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150876\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/151619"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=150876"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=150876"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=150876"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}