{"id":150676,"date":"2021-11-18T11:00:53","date_gmt":"2021-11-18T04:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=150676"},"modified":"2026-01-06T09:53:51","modified_gmt":"2026-01-06T02:53:51","slug":"semangat-ngetwit-pak-fadli-zon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semangat-ngetwit-pak-fadli-zon\/","title":{"rendered":"Semangat Ngetwit, Pak Fadli Zon, Aku neng Mburimu!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fadli Zon dikabarkan kena tegur Prabowo Subianto (secara lisan) gara-gara menuliskan cuitan berisi kritik untuk Jokowi. Ini macam berita &#8220;infotainment&#8221; dunia politik, sayangnya kok nggak ramai. Padahal dahsyat loh, Fahri Hamzah sampai turun gelanggang, ikut berkomentar. Banyak orang mengira bakal kena mental, nih. Ternyata Pak Fadli Zon tetap nge-tweet. Sangar!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berawal dari mengomentari Presiden Jokowi yang sedang berada di sirkuit mandalika Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nusa Tenggara Barat untuk meresmikan ajang internasional. &#8220;Luar biasa Pak. Selamat peresmian Sirkuit Mandalika. Tinggal kapan ke Sintang, sudah tiga minggu banjir belum surut,&#8221;<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/fadlizon\/status\/1459194613751762949?t=InII3gcKEOGw3s4tLl8BMQ&amp;s=19\"> <span style=\"font-weight: 400;\">cuit Pak Fadli Zon<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di akun resmi blio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika diingat-ingat, sejak muncul seorang Fahri Hamzah dan Fadli Zon di perpolitikan nasional, baru kali ini pendapatnya layak disimak dan perlu dibicarakan khalayak. Ini kemajuan bagi kultur berpolitik, bermanfaat bagi rakjel karena politisi tetap menjalankan tugas sebagai legislator. Tetapi, juga &#8220;early warning&#8221; buat partai politik yang bersangkutan. Apa pasal, kenapa bisa menjadi &#8220;early warning&#8221;?<\/span><\/p>\n<h2><strong>#1 Mengkritik Bos dari Bosnya ini Memang Nggak Ada Unggah-ungguh. <\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kena tegur memang sudah seharusnya. Biar bagaimanapun sudah terikat komitmen menjadi partai koalisi, menyampaikan kritik dengan vulgar di medsos adalah potret komunikasi politik yang buruk dalam tubuh koalisi. Idealnya kritik tersebut disampaikan resmi, melalui menteri atau struktur jabatan lain yang dianggap sesuai misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajar saja dari PDI-P dan PKB yang sejak awal mendukung Jokowi meradang. Mengutip<\/span><a href=\"https:\/\/www.google.com\/amp\/s\/news.detik.com\/berita\/d-5809658\/pdip-bela-jokowi-disindir-kapan-ke-sintang-fadli-zon-cuma-bisa-kritik\/amp\"> <span style=\"font-weight: 400;\">tanggapan dari Hasto Kristiyanto<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, &#8220;Selanjutnya, sebagai partai yang juga memiliki disiplin, Partai Gerindra tentunya akan mengambil sikap atas pernyataan Pak Fadli Zon yang berbeda dengan sikap politik partainya. Meskipun hal tersebut, sekali lagi, menjadi kewenangan internal Partai Gerindra dan kami tidak bermaksud campur tangan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerad banget, sih, makna tersirat tanggapan tersebut. Tanggapan PKB tak jauh berbeda, &#8220;Itu urusan Partai Gerindra, silakan mau ditegur, diingatkan atau dipecat,&#8221;<\/span><a href=\"https:\/\/www.google.com\/amp\/s\/news.detik.com\/berita\/d-5811591\/prabowo-tegur-fadli-zon-pkb-silakan-kalau-diingatkan-atau-dipecat\/amp\"> <span style=\"font-weight: 400;\">kata Jazilul Fawaid<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Waketum PKB. Kedua partai tersebut terang-terangan meminta Gerindra mengambil tindakan, bahkan tersirat menyebut teguran lisan saja tak cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa dampaknya buat rakjel jika komunikasi politik partai koalisi ternyata bolong begini? Elit partai yang biasanya juga rangkap jabatan di mana-mana (terutama sebagai legislator) bukannya capek bekerja malah gelut di antara mereka sendiri saja. Terlebih koalisi gendut Jokowi memang ada dua tipe, \u201ccah lawas\u201d yang sejak awal berpeluh mendukung dan \u201ccah anyar\u201d seperti Gerindra yang masuk belakangan langsung dapat jabatan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#2 Kader Partai Menulis Cuitan Pribadi yang Bertolak Belakang dengan Sikap Politis Partai itu Problematik<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> Jelas-jelas<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Prabowo sudah menentukan arah Gerindra<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Blio menyatakan, &#8220;Untuk itu, kita sekarang bekerja sama dengan Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo. Selama saya menjadi anggota kabinet beliau saya bersaksi bahwa beliau terus berjuang demi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuitan Fadli Zon nggak sesuai dengan arahan Prabowo. Menimbulkan pertanyaan, apa kepemimpinan seorang Prabowo dalam internal partai selemah itu sampai-sampai diabaikan oleh kader sekaligus orang terdekatnya sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk rakjel, yang nggak tahu jeroan partai dan minim pengetahuan ilmu politik, jelas menjadi insight yang menarik. Menjadi mudah untuk menilai Gerindra sebagai sebuah organisasi dan kepemimpinan Prabowo yang sepertinya akan maju di Pilpres 2024.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang Pemilu dan Pilpres (2014 dan 2019) Fadli Zon memang dikenal kritis dan berani, soal bernalar itu urusan lain. Blio bukan politisi yang \u201cwani silit wedi rai\u201d. Artinya kurang lebih \u201ctakut berhadapan muka, hanya berani menunjukkan pantat (berlari menjauh)\u201d. Nyinyir dan julid pada Jokowi, selalu khusyuk dan total. Harus berubah haluan karena partainya merapat menjadi koalisi tentulah berat bagi blio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu dihargai ada politisi yang mau bersuara soal banjir di Sintang. Fadli Zon memang kader partai, anak buahnya Pak Prabowo. Namun, blio juga wakil rakyat. Wajar jika menyuarakan keprihatinan, dan memang sudah jadi tugasnya. Perkara bersuaranya di medsos, kita &#8220;positive thinking&#8221; saja. Mungkin memang nggak bisa bersuara di parlemen karena kritikannya termasuk unpopular opinion. Mungkin sudah ngobrol sama menterinya Jokowi lalu nggak ada tanggapan. Atau mungkin juga karena karena tersandera posisi sebagai kader partai koalisi, membuat Fadli Zon harus menyampaikan kritik atas nama pribadi\u2014berusaha menjadi politisi yang konsisten sebagai oposisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dibilang, beliau menulis cuitan adalah perlawanan terakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayo nge-tweet kritikan lagi, Pak Fadli Zon! Sudah ada dukungan Fahri Hamzah, mantan teman duet. Kalau (amit-amit)\u00a0 dipecat Gerindra, gabung ke partai Gelora kan bisa~<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/pixabay.com\/id\/photos\/media-sosial-facebook-indonesia-1795578\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fadli Zon dikabarkan kena tegur Prabowo Subianto (secara lisan) gara-gara menuliskan cuitan berisi kritik untuk Jokowi. Ini macam berita &#8220;infotainment&#8221; dunia politik, sayangnya kok nggak ramai. Padahal dahsyat loh, Fahri Hamzah sampai turun gelanggang, ikut berkomentar. Banyak orang mengira bakal kena mental, nih. Ternyata Pak Fadli Zon tetap nge-tweet. Sangar! Berawal dari mengomentari Presiden Jokowi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":582,"featured_media":150831,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","format":"standard","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[9937,421],"class_list":["post-150676","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-fadli-zon","tag-twitter"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/582"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=150676"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150676\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/150831"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=150676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=150676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=150676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}