{"id":150427,"date":"2021-11-16T12:33:48","date_gmt":"2021-11-16T05:33:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=150427"},"modified":"2021-11-16T12:34:42","modified_gmt":"2021-11-16T05:34:42","slug":"sertifikat-ispo-sertifikasi-perkebunan-kelapa-sawit-trifos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sertifikat-ispo-sertifikasi-perkebunan-kelapa-sawit-trifos\/","title":{"rendered":"Konsumen Produk Sawit Harus Pastikan Barang yang Dibelinya Dibuat Tanpa Merusak Alam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memutar kursi membelakangi meja kerja, bermaksud menemukan barang di rumah yang merupakan produk turunan sawit. Tanpa beranjak dari tempat duduk, saya sudah melihat selai cokelat, lilin, minyak goreng, kue kering, dan cairan pembersih tangan. Daftar anggota keluarga sawit di rumah ini akan semakin panjang apabila saya memasukkan sampo dan sabun di kamar mandi, serta lipstik dan pomade di kamar tidur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata selain pemuda yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">so sweet<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya juga pemuda yang sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketergantungan sama <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">senyum kamu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> produk sawit menimbulkan perang batin tersendiri buat saya. Sebagai pekerja digital yang tiap hari berselancar di internet, utas pembahasan masalah yang ditimbulkan perusahaan perkebunan kelapa sawit lumayan sering seliweran di lini masa. Penebangan hutan, musnahnya habitat hewan dilindungi, dan konflik perusahaan dengan masyarakat sekitar adalah tiga kasus yang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sering<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> muncul. Sebagai pria yang tak bisa hidup tanpa selai cokelat yang merupakan produk turunan kelapa sawit, saya sering bermuhasabah: apakah artinya sebagai konsumen produk sawit, saya turut berkontribusi pada masalah-masalah tersebut?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kontemplasi khas kelas menengah ini menyiksa sekali. Di satu sisi, saya merasa mustahil bisa menyelesaikan permasalahan di industri sawit sedangkan memenuhi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siapa-sangka-kalau-deadliner-adalah-simulasi-underpressure-menuju-dunia-kerja-yang-sesungguhnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tenggat tugas kantor<\/a> saja sudah ngos-ngosan. Di sisi lain, saya bisa dibilang cukup berdaya untuk mengetahui asal-muasal produk yang saya konsumsi sehingga sudah sepatutnya melakukan sesuatu. Mungkinkah ini saatnya saya terjun ke industri sawit sambil mengucap mantra legendaris \u201cmasuk ke sistem demi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/saatnya-mengeluarkan-2-cara-terakhir-memperbaiki-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mengubah dari dalam<\/a>\u201d milik para aparatur sipil negara?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, saya tidak termenung sendirian. Sudah banyak survei dan penelitian yang melaporkan bahwa generasi muda, termasuk milenial macam saya, semakin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aware <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sama proses produksi komoditas yang kami beli. Etika produksi dan dampak lingkungan dari sebuah produk sudah dapat perhatian khusus. Seenak apa pun bakso yang dijual, kalau cara menyembelih sapinya dilakukan pakai metode tinju \u201cSalam dari Binjai\u201d, kami pasti mikir-mikir lagi buat beli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2015, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nielsen Report<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/www.nielsen.com\/us\/en\/press-releases\/2015\/consumer-goods-brands-that-demonstrate-commitment-to-sustainability-outperform\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">menemukan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> bahwa 73 persen milenial mengaku mau membayar lebih untuk produk yang dibuat dengan asas berkelanjutan. Data terbaru lain pada 2019, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Forbes <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">melaporkan kalau <\/span><a href=\"https:\/\/www.forbes.com\/sites\/gregpetro\/2020\/01\/31\/sustainable-retail-how-gen-z-is-leading-the-pack\/?sh=6421f8372ca3\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">62 persen<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Generasi Z mengaku lebih memilih untuk membeli produk berkelanjutan dan menyatakan siap membayar 10 persen lebih mahal asalkan produk yang dibelinya terbukti dibuat sesuai etika.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepedulian ini melonjak jauh dari generasi sebelumnya: hanya 23 persen <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">baby boomers <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">punya pemikiran serupa. Melihat tren sejelas ini, maka kegelisahan saya tervalidasi. Di masa depan, konsumen memang akan semakin rewel buat menuntut produsen bukan sekadar menjual produk, melainkan menjual produk yang dibuat secara benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan ekstrem dengan memaksa negara berhenti memproduksi sawit sepertinya bukan opsi mudah. Indonesia merupakan produsen sawit nomor satu sedunia, menandakannya masih akan menjadi lini ekspor paling menjanjikan sebagai komoditas dagang negara. Ketergantungan pengguna dalam negeri juga sama akutnya, ada berapa juta orang coba yang enggak bisa lepas dari adiksi mengoleskan selai coklat ke nasi kayak saya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sabar, jangan emosi dulu. Mana mungkin saya makan nasi pakai selai coklat, emangnya saya psikopat apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, harapan saya atas produk sawit yang tak bermasalah sebenarnya tercurah pada kerja-kerja para lembaga sertifikasi perusahaan sawit untuk memenuhi perannya sebagai penyeimbang industri. Sejak 2009, pemerintah Indonesia emang mewajibkan para pengusaha sawit untuk lolos sertifikasi ISPO atau Indonesia Sustainable Palm Oil dulu sebelum diizinin memulai usaha. Selain untuk meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas produk, ISPO hadir untuk memastikan pelaku usaha sawit bekerja sesuai kaidah, khususnya menjaga kelestarian alam dan bersinergi dengan masyarakat sekitar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peran lembaga sertifikasi semakin besar kala Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden 44\/2020 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Setiap produk turunan sawit yang dibuat di perusahaan bersertifikat ISPO akan ditandai dengan penggunaan logo ISPO pada produk. Beleid ini menempatkan lembaga sertifikasi sebagai wasit antara produsen, konsumen, dan pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai konsumen produk sawit dari generasi muda, menyadari dan memilih produk sawit yang dibuat sesuai prosedur sepertinya menjadi cara paling kecil dalam berkontribusi. Maka, saya memutuskan berkunjung ke kantor <a href=\"https:\/\/tric-indonesia.com\/profile\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PT Trifos Internasional Sertifikasi<\/a>, perusahaan jasa profesional bidang sertifikasi yang juga <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">akan memantapkan diri <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">terjun dalam bidang sertifikasi perkebunan sawit dengan merek dagang <a href=\"http:\/\/alsi.or.id\/profil-anggota-2\/pt-trifos-internasional-sertifikasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tropical Rainforest International Certification (TRIC)<\/a>, untuk tahu lebih dalam <\/span><span style=\"text-decoration: line-through;\">mengapa poster film <em>Filosofi Kopi<\/em> kok malah berlatar kebun sawit<\/span> mekanisme sertifikasi sawit.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPersyaratan perusahaan sawit bisa dapat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sertifikat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ISPO ada beberapa hal. Pertama, legalitas perusahaan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> best practice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tentang bagaimana mereka membuka lahan, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">membangun perkebunan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, menentukan batas lahan, sampai kepastian lahan. Kedua, dampak lingkungan. Apakah perusahaan melindungi area-area dengan nilai konservasi tinggi? Di mana ada sumber air yang harus dijaga? Apakah kegiatan perusahaan mengusik hewan dan tumbuhan lindung?\u201d kata Direktur Utama TRIC Hendy Saputra kepada saya, menjelaskan cara <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">lembaga sertifikasi dalam <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">melakukan audit perusahaan sawit yang mengajukan sertifikasi ISPO.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetiga, dampak sosial. Kami melihat bagaimana perlakuan perkebunan [sawit] kepada masyarakat sekitar, termasuk masyarakat adat,\u201d tambah Hendy. \u201cAda juga poin ketenagakerjaan seperti apakah fasilitas kerja yang digunakan aman dari kecelakaan, bagaimana keterwakilan perempuan di sana, dan lain-lain.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hendy menjelaskan, proses sertifikasi dimulai dari pengajuan permohonan dari perusahaan sawit kepada lembaga sertifikasi sawit seperti TRIC. Permohonan kemudian dikaji terlebih dahulu, dilihat skala perusahaan dan seberapa banyak pekerjanya. Dari sana, muncul <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tata waktu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> proses audit beserta perkiraan biayanya. Kalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">deal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lembaga sertifikasi akan memulai kerja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">audit<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">review<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dokumen perusahaan sesuai tiga standar umum tadi: legalitas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">best pratice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lingkungan, dan tata kelola sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau udah oke semua, kami jadwalkan ke lapangan langsung untuk memastikan bahwa <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">standar audit<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> perusahaan sesuai dengan kenyataan di lapangan. Kami mewawancarai para pekerja,\u201d jelas Hendy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada temuan yang tidak sesuai dengan dokumen, hasil akhir audit akan disampaikan dalam bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">non-conformity report<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau laporan ketidaksesuaian. Perusahaan lantas diberi waktu untuk memperbaiki. Kalau dalam tenggat waktu yang diberi perusahaan bisa memperbaiki, sertifikat bakal dikasih. Kalau nggak, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sertifikat tidak diberikan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Perusahaan bisa segera mengajukan kembali permintaan sertifikasi setelah bagian yang bermasalah diatasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya tanya apakah Hendy pernah terpikir membuat satu merek dagang lagi dengan nama Tropical International Palm Station sehingga kedua usaha miliknya bisa digabung menjadi TIPS &amp; TRIC, beliau tak menggubris. Sudah bisa diduga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPun kalau sudah lulus sertifikasi, kami masih melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">monitoring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> apakah dia konsisten [bekerja sesuai prosedur]. Secara resmi, kami melakukan audit setahun sekali. Namun, kalau ada laporan dan keluhan yang masuk, maka kami bisa lakukan audit khusus yang tiba-tiba, namanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">short-notice audit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d tambah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hendy<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Keluhan bisa datang dari warga sekitar, lembaga pemantau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">independen<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, lembaga swadaya masyarakat, atau asosiasi pekebun sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kunci kepercayaan publik, khususnya konsumen produk sawit berumur muda kayak saya, kepada lembaga pemberi sertifikasi seperti TRIC tentu saja bergantung pada netralitas dan independensi yang mereka punyai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menjawabnya, Hendy menceritakan proses TRIC mendapatkan akreditasi sebagai lembaga sertifikasi perusahaan sawit. Pertama, TRIC mengajukan akreditasi kepada Komite Akreditasi Nasional (KAN) terlebih dahulu. Dari sana, KAN menilai tiga hal: dokumen lembaga, kompetensi sumber daya manusia, dan apakah ada keterkaitan antara lembaga dengan perusahaan sawit. \u201cBiar enggak ada konflik kepentingan,\u201d jelas Hendy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selayaknya lembaga sertifikasi mengawasi perusahaan sawit, KAN memiliki tugas mengawasi kerja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Lembaga Sertifikasi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Apabila ada laporan bahwa kerja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Lembaga Sertifikasi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> enggak bener, maka KAN bisa menegur. \u201cPerusahaan sawit, lembaga sertifikasi, dan KAN saling menjaga satu sama lain,\u201d kata Hendy. Sebenarnya, Saya ingin bertanya apakah kegiatan saling menjaga ini bisa berujung saling cinta, tapi niat tersebut saya urungkan karena takut dicuekin lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lantas mengeluhkan banyaknya praktek nakal perusahaan sawit. Hendy tidak memungkiri, doi menceritakan salah satu praktek nakal yang kerap terjadi adalah perusahaan sawit menanami sawit pada lahan yang masuk kawasan hutan, entah secara diam-diam atau karena batas-batas wilayah yang tumpang tindih. \u201cKalau ada kelakuan menyimpang kemungkinan dari manajemennya, pengelolaan yang tidak tepat di lapangan,\u201d cerita Hendy. Di sanalah peran wasit jadi penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TRIC berharap pengguna produk sawit untuk lebih melek soal ISPO. Minimal, sebelum membeli produk turunan sawit, baiknya diperhatikan dahulu apakah ada logo ISPO di kemasan. \u201cKalau dari konsumennya udah menuntut ada sertifikat, maka produsennya bakal ngikut. Ketika konsumen milih yang bersertifikat, ujung-ujungnya produsen akan naikin level ke memiliki sertifikat karena yang nggak bersertifikat jadi enggak laku,\u201d tutup Hendy.<\/span><\/p>\n<p><em>Artikel ini ditayangkan atas kerja sama Mojok.co dan <span style=\"font-weight: 400;\">PT Trifos Internasional Sertifikasi.<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil atau ISPO adalah salah satu cara konsumen mengenali produk sawit yang diproduksi secara benar.<\/p>\n","protected":false},"author":1501,"featured_media":150453,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[13581,14088,14090,14091,13098,14089],"class_list":["post-150427","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-advertorial","tag-ispo","tag-kelapa-sawit","tag-perkebunan","tag-pilihan-redaksi","tag-trifos"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150427","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1501"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=150427"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150427\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/150453"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=150427"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=150427"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=150427"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}