{"id":150092,"date":"2021-11-15T10:12:57","date_gmt":"2021-11-15T03:12:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=150092"},"modified":"2021-11-15T10:12:57","modified_gmt":"2021-11-15T03:12:57","slug":"kirana-dewa-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirana-dewa-19\/","title":{"rendered":"Meskipun Enak dan Tenar, Lagu Kirana Dewa 19 Itu Sebenarnya Membosankan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak hal yang bisa dibicarakan mengenai Dewa 19. Mulai dari kontroversi, bongkar pasang personel, perilaku Ahmad Dhani selama ini, keengganan Dhani menciptakan lagu baru, kolaborasi dengan musisi muda, hingga buah dari kejeniusan Ahmad Dhani, dkk, yang tertuang dalam karya-karya Dewa 19. Seperti kita tahu, Dewa 19 memang tidak membuat banyak album, tapi di era 90-an sampai awal 2000, nyaris tidak ada karya-karya Dewa 19 yang jelek, termasuk salah satunya lagu \u201cKirana.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu \u201cKirana\u201d ini ada di album Pandawa Lima yang dirilis pada 1997. Album ini juga jadi salah satu album tersukses Dewa 19, dengan \u201cKirana\u201d dan \u201cKamulah Satu-Satunya\u201d yang jadi hits-nya. Situasinya saat itu, Dewa 19 sedang berada di awal bongkar pasang personelnya. Wawan, yang sebelumnya berada di belakang drum, digantikan oleh Aksan Sjuman (Wong Aksan) yang sebenarnya adalah drummer jazz, beda dengan Dewa 19 yang rock. Sedangkan Ari Lasso, sedang berada di masa tergelapnya, yang menjadikan album Pandawa Lima jadi album terakhir Lasso bersama Dewa 19.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah mendiang Erwin Prasetya, sosok jenius di balik pembuatan lagu \u201cKirana\u201d ini. Erwin, yang kita tahu pesonanya tidak sebesar Dhani atau Ari Lasso, ternyata mampu menciptakan sebuah musik yang cukup brilian. Selama ini, otak di balik karya-karya Dewa 19 selalu Ahmad Dhani, dan melalui lagu \u201cKirana\u201d, Dewa 19 seakan bisa membuktikan bahwa tidak hanya Dhani yang bisa bikin lagu. Ya meskipun di lagu \u201cKirana\u201d ini Erwin cuma bikin musiknya, dan liriknya tetap dibuat oleh Dhani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bicara soal lagu Kirana, agak susah memberi penjelasan yang mudah tentang lagu ini. Ada banyak hal yang bisa dibahas, mulai dari lirik, cerita di balik lagu ini, hingga komposisi dan pattern musik yang diciptakan Erwin di lagu ini. Terlalu kompleks, dan membingungkan. Maka dari itu, saya akan membukanya dengan sebuah pernyataan, bahwa lagu \u201cKirana\u201d ini sebenarnya adalah lagu yang membosankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan kuat mengapa \u201cKirana\u201d adalah lagu yang membosankan adalah komposisi lagu ini yang gitu-gitu aja. Ini adalah lagu yang datar, tidak ada naik turunnya, seperti tidak ada klimaksnya. Sudah gitu, suasananya juga suram, abu-abu banget. Pattern-nya pun terlalu repetitif, diulangi terus-menerus. Muter di situ-situ saja. Tidak ada reff, hanya bagian song saja. Tidak heran Ari Lasso selalu deg-degan kalau membawakan lagu ini, sebab takut lupa karena terlalu repetitif tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di satu sisi lagu ini memang membosankan, namun di sisi lain, lagu ini adalah lagu yang cukup rumit. Secara chord, notasi, dan ketukan, ini adalah lagu yang tentu saja tidak mudah dibawakan. Apalagi bagian solo gitarnya, susah! Berbeda dengan lagu \u201cKamulah Satu-Satunya\u201d, misalnya, yang lebih jelas komposisinya, lebih \u201cnyaman\u201d di telinga, dan tentunya lebih mudah dimainkan. Membosankan, rumit, tapi kok ya laku. Sungguh betapa kontradiktifnya lagu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau soal lirik, tidak perlu dijelaskan lagi, lah, gimana Ahmad Dhani meramu kata-kata menjadi sebuah lirik lagu. Penggunaan frasa-frasa yang puitis seperti dalam lirik, \u201cHanya usung sahaja kudamba Kirana. Ratapan mulai usang, nur yang kumohon,\u201d seakan menutupi kebosanan yang terdapat di lagu ini. Ini lirik yang Dhani banget, lah. Puitis, maknanya samar (tidak ada yang tahu pasti apa makna sebenarnya kecuali Dhani), dan \u201ccinta-sentris.\u201d Terlihat dari judulnya, \u201cKirana\u201d, yang mengambil dari nama Dewi Kirana (Dewi Cinta).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ditanya \u201cKirana\u201d bercerita tentang apa, maka bait ini sebenarnya jadi jawabannya. \u201cAyah bunda tercinta satu yang tersisa. Mengapa kau tiupkan nafasku ke dunia. Hidup tak kusesali mungkin kutangisi. Kuingin rasakan cinta.\u201d Ini kalau menurut penjelasan yang saya baca, lagu ini, atau bait ini, menceritakan seseorang yang broken home, bingung mencari pelampiasan, sehingga berakhir di lembah hitam dunia malam. Itu cerita yang beredar, namun kembali lagi, mungkin hanya Dhani, mendiang Erwin, dan personel Dewa 19 lainnya yang tahu makna sesungguhnya dari lagu ini .Siapa tahu ada makna yang lain, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah \u201cKirana\u201d, tabrakan dari beberapa elemen yang saling bertolak belakang. Lagunya membosankan, banyak repetitif, liriknya abu-abu (tidak pop), susah dimainkan, tapi enak didengar dan laku keras, bahkan masih diputar hingga sekarang. Mboseni tapi masih enak didengar, gimana coba itu?<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/pixabay.com\/id\/photos\/hadirin-lampu-latar-konser-1850119\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau bukan Dewa 19, nggak yakin bisa bagus.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":150287,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[7283,14076,13098],"class_list":["post-150092","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-dewa-19","tag-kirana","tag-pilihan-redaksi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=150092"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/150092\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/150287"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=150092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=150092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=150092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}