{"id":149704,"date":"2021-11-12T12:00:00","date_gmt":"2021-11-12T05:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=149704"},"modified":"2021-11-12T01:21:54","modified_gmt":"2021-11-11T18:21:54","slug":"dragonball-evolution-live-action-manga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dragonball-evolution-live-action-manga\/","title":{"rendered":"Dragonball Evolution dan Argumen Usang Lainnya dalam Membahas Live Action Manga"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Netflix baru-baru ini mengumumkan deretan cast dari serial live action <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Secara pribadi, saya menyukai deretan pemeran yang sudah diperkenalkan karena elemen comic accurate-nya. Ya iya dong, apalagi yang bisa dinilai dari pengenalan cast selain dari masalah tampilan karakternya? Tapi, ragam respon yang muncul ternyata tidak semua sepemikiran dengan saya. Masih ada beberapa nada sumbang menyuarakan keskeptisannya pada live action manga\/anime yang sayangnya, argumennya cuma gitu-gitu doang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Argumen yang paling sering terdengar adalah cemoohan atau ketakutan akan terjadinya kembali tragedi adaptasi film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragonball Evolution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Saking seringnya dipake jadi argumen andalan, saya sampai enek sendiri dan menyangka orang-orang ini sudah ignorant dan tidak paham dengan apa yang sedang dia ucapkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang benar, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragonball Evolution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> meninggalkan trauma yang besar bagi pecinta manga dan anime. Film itu tidak membawa aspek apa pun dari sumber materialnya selain nama-nama karakter yang jadi tempelan. Semenjak itu, rasanya sulit sekali punya keyakinan bahwa media manga dan anime yang memiliki dunia yang luas serta desain karakter yang komikal bakal bisa dieksekusi dengan baik dalam media film. Kalau argumen ini dipakai 10 tahun yang lalu sebagai senjata ungkapan ekspresi skeptis, maka hal ini masih relevan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, kini argumen tersebut sudah usang. Pasalnya, sejak saat itu, sudah ada beberapa live action manga yang dianggap berhasil. Seperti Rurouni Kenshin yang dipakai sebagai representasi keberhasilan live action, hingga keberhasilan Hollywood menggarap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Alita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Edge of Tomorrow<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dibintangi Tom Cruise. Sehingga, rasanya udah nggak relevan lagi untuk membawa film terkutuk satu itu ke pembahasan. Udah ketinggalan jaman dan ada referensi yang lebih baru loh, sekalipun untuk merujuk contoh proyek yang gagal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya apa-apa, meskipun film Goku-nya Amerika ini pantas dihukum untuk diingat sebagai kegagalan dan penghinaan, tapi film tersebut menghasilkan argumen-argumen yang seterusnya sering dipakai untuk mengkritik proyek live action. Mau relevan atau nggak, pokoknya sikat rata aja. Apa saja itu?<\/span><\/p>\n<h4><b>Ketidakpercayaan pada Hollywood<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih banyak yang skeptis, live action manga dieksekusi oleh Hollywood tidak akan berhasil. Sebenarnya wajar, mengingat ada banyak judul yang gagal. Selain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragonball Evolution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ada judul-judul yang dianggap gagal seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ghost In The Shell<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Death<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Note<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Netflix). Sekalipun ada yang sukses, itu pun bukan dari judul manga shounen populer, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Alita <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Edge of Tomorrow.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Track recordnya masih terbilang buruk sih, tapi tidak seharusnya menjadikan track record sebagai vonis kepastian proyek kedepannya bakal gagal dong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang yang memakai intisari argumen ini pun bagi saya adalah orang-orang ignorant. Pasalnya, tentang dari mana pihak yang memproduksi bukanlah suatu jaminan. Seolah-olah tutup mata dengan proyek live action Jepang yang juga tak kalah hinanya. Ehem, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Attack on Titan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h4><b>Isu whitewashing dan rasial<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semenjak ramainya isu whitewashing (menempatkan aktor kulit putih untuk memerankan karakter non-kulit putih) pada film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ghost In The Shell<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragonball Evolution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pun ikut terbawa dalam pembahasan tersebut. Saya sendiri merasa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragonball Evolution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukanlah whitewashing, kan Goku emang bukan orang Jepang, tapi orang Saiyan, jadi masih boleh-boleh aja. Tapi semenjak itu, isu whitewashing dalam anime jadi sering dibawa-bawa. Jadinya, orang menganggap karena anime dari Jepang, yang meranin harus Jepang atau orang Asia juga. Padahal kan, latar cerita anime juga macam-macam, bisa negara lain hingga dunia lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece pun mendapatkan komentar seperti ini, meskipun minoritas. Tentu saja saya makin curiga orang-orang ini cuma mau berisik saja padahal ignorant. Buktinya cuma pakai argumen template doang, yang usang pula. Soalnya orang-orang ini tak mau peduli kalau Kru Topi Jerami ini multikultural, serta dunia One Piece tidak memiliki struktur bumi dan kenegaraan yang sama seperti di dunia nyata. Oda Sensei bahkan sudah mengkonfirmasi tentang hal ini,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini juga berlaku dengan anime-anime lain. Kalau ada live action yang memiliki latar non-Jepang seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Attack on Titan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Fullmetal Alchemist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, nggak apa-apa dong, kan nggak pakai nama Jepang.<\/span><\/p>\n<h4><b>Akurasi karakter dan plot<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya hal ini memiliki kesamaan kasus dengan film adaptasi novel. Kalau ada karakter atau plot yang diotak-atik atau dihilangkan, pasti ada orang yang menyayangkan. Tapi bagi penonton anime, isu ini sering digaduhkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam merespon kabar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini, masih saja ada yang kaget apakah bisa mengadaptasi semua arc-nya. Tentu tidak dong. Dalam pengumuman cast terbaru saja bisa dipastikan bahwa cerita setidaknya hanya dalam ruang lingkup East Blue saja. Sementara untuk plot cerita, saya malah mengira akurasinya tidak akan terlalu tinggi. Dan ini sah-sah saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Argumen satu ini memang sering diributkan. Meskipun untungnya keributan tidak terjadi setelah karya telah ditonton. Sebab, kalau hasilnya bagus walau tidak akurat, tetap disambut baik. Ributnya hanya di awal-awal saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya malah penasaran, bagaimana respons terhadap adaptasi lepas, yang latar, plot, hingga karakternya bakal diotak-atik tanpa menghilangkan poin utama sumber materialnya. Kalau melihat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Death Note<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Netflix sih agak susah yah. Banyak yang ribut soal karakter yang tidak akurat. Padahal, film itu bisa dianggap sebagai adaptasi lepas yang melakukan pengandaian bagaimana kalau buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Death Note<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak jatuh di Jepang, tapi Amerika.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/pixabay.com\/id\/photos\/dragon-ball-bola-vegeta-animasi-4683231\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nga bosen apa, Gaes?<\/p>\n","protected":false},"author":1449,"featured_media":149800,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[2775,14047,14048,4109],"class_list":["post-149704","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-anime","tag-dragonball-evolution","tag-live-action","tag-manga"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149704","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1449"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=149704"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149704\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/149800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=149704"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=149704"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=149704"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}