{"id":149641,"date":"2021-11-11T15:00:54","date_gmt":"2021-11-11T08:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=149641"},"modified":"2021-11-11T14:02:45","modified_gmt":"2021-11-11T07:02:45","slug":"membuang-kucing-di-pasar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membuang-kucing-di-pasar\/","title":{"rendered":"Membuang Kucing di Pasar, Cara Pecundang Lari dari Tanggung Jawab"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang yang beranggapan bahwa membuang kucing di pasar merupakan pilihan paling bijak ketimbang membuang kucing di tempat lain. Bukan tanpa alasan, selama ini orang punya pandangan bahwa pasar merupakan tempat kumpulan para pedagang ikan dan daging. Dengan modal pengetahuan sebatas itu banyak manusia yang kemudian menyimpulkan bahwa pasar merupakan tempat tinggal ideal bagi para kucing buangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham bahwa pasar merupakan pusat jual beli, di mana banyak pedagang ikan pindang, daging ayam, ataupun daging sapi yang merupakan makanan kesukaan para kucing. Tapi mungkin orang-orang yang membuang kucingnya di pasar ini lupa satu hal. Para kucing ini nggak punya pekerjaan sama sekali, yang mana hal itu merupakan masalah utama dalam kehidupan bangsa kucing. Tanpa bekerja, otomatis mereka tak memiliki penghasilan. Tak memiliki penghasilan maka mereka tak punya uang, dan karena tak punya uang mereka pun tak beli ikan tongkol, daging sapi, ataupun sayap ayam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para kucing ini pun sadar diri kok, mereka tahu para pedagang ikan ini bekerja juga mencari nafkah untuk keluarganya. Ikan yang mereka jual pun juga merupakan dagangan, sehingga nggak bisa diberikan secara cuma-cuma setiap hari. Kalau ada pedagang yang baik, mereka bisa mendapatkan makanan gratis. Tapi, hal gratis kayak gini ikan nggak bisa diandalkan setiap kali perut lapar kan ya. Kalau pas apes jangankan bisa makan kotoran ikan di kolong meja, baru mendekat di lapak penjual ikan saja, kadang sudah kena tendang atau siraman air. Perlu diingat, nggak semua orang di pasar itu suka sama kucing!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi kan, di pasar banyak sisa-sisa makanan. Kucing bisa mengais sisa makanan tersebut!\u201d Ucap manusia bijak yang nggak pernah menginjak pasar tradisional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang yang sering pergi ke pasar tradisional, tentu sudah pada tahu kalau di pasar itu memang banyak sekali pedagang makanan. Tapi, yang membuang sisa-sisa dagangannya itu kebanyakan hanya pedagang sayuran yang sering menyisakan sayuran layu dan busuk. Memangnya sejak kapan para kucing berubah menjadi makhluk herbivora?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendapatkan makanan di pasar bagi kucing liar itu bukan perkara yang mudah seperti omongan orang-orang. Mereka biasanya cuma makan sisa-sisa tulang dari warung soto atau berburu tikus. Saya pernah sengaja keliling pasar tradisional di beberapa kota untuk mencari kucing-kucing liar. Pernah saya membawa ke dokter hewan seekor kucing kecil berusia tiga bulanan yang ususnya keluar. Kucing itu nampak trauma dengan manusia, sehingga pas saya tangkap dia berlarian keliling pasar karena takut. Beruntung orang-orang di pasar itu sangat baik dan mau membantu saya menangkap kucing tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dijahit, kata dokternya hal ini karena si kucing dari kecil sering makan makanan keras, sehingga ususnya sampai keluar. Seperti itulah realitasnya, mencari makan di pasar bagi kucing itu tak semudah yang dibayangkan. Selain itu, hampir 80 persen kucing pasar yang saya temui itu pada sakit. Entah jamuran hingga scabies parah, sakit mata, bahkan ada yang sampai kena tumor, kutuan, cacingan, flu, dan lain-lain. Bisa dibilang pasar itu kurang higienis sehingga menjadi sarangnya penyakit buat para kucing liar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetimbang dibuang di sawah atau disemak-semak yang jauh dari pemukiman, kan lebih mending membuangnya di pasar!\u201d Ucap manusia yang belum pernah dicampakan oleh kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manusia sekte mending-mending kayak gini memang paling sulit diberi pemahaman. Walaupun keadaannya sudah menyedihkan dan sangat buruk sekali, mereka selalu mencari pembenaran dengan kata pamungkas \u201cmending\u201d. Sebenarnya dalam kasus pembuangan kucing seperti ini nggak ada yang mending. Seperti perjanjian di awal, sekali kita memutuskan untuk memelihara kucing, sudah seharusnya kita menyelesaikan pekerjaan ini sampai paripurna. Nggak ada kata bosan ataupun jenuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagi saya, membuang kucing di pasar adalah cara-cara pecundang lari dari tanggung jawab. Nggak terima? Yer bisnis~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesekali kalau sedang berkunjung ke pasar tradisional, mohon sempatkan sebentar saja buat melirik kucing liar di pasar. Apakah benar mereka tumbuh dengan sehat, makmur, dan sejahtera kehidupannya dengan bergelimangan makanan gratis? Tentu saja tidak.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/pixabay.com\/id\/photos\/kucing-nyasar-sedang-tidur-satwa-3254571\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak yoi kalian itu.<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":149743,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13079],"tags":[337,5109,472],"class_list":["post-149641","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hewani","tag-kucing","tag-pasar","tag-penyakit"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149641","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=149641"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149641\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/149743"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=149641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=149641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=149641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}