{"id":149138,"date":"2021-11-07T08:00:45","date_gmt":"2021-11-07T01:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=149138"},"modified":"2021-11-07T09:26:23","modified_gmt":"2021-11-07T02:26:23","slug":"ahmad-dhani-dan-kenangan-tentang-kontroversi-konyol-lagu-satu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ahmad-dhani-dan-kenangan-tentang-kontroversi-konyol-lagu-satu\/","title":{"rendered":"Ahmad Dhani dan Kenangan tentang Kontroversi Konyol Lagu Satu"},"content":{"rendered":"<p>Menyebut nama Ahmad Dhani, rasanya tidak akan lepas dari kata kontroversi. Sejak kiprahnya melambung tinggi bersama Dewa 19, perilaku, perkataan, hingga beberapa karyanya ada saja yang membuat gaduh. Belum lagi kiprahnya di luar dunia musik (baca: politik), yang tidak hanya membuat gaduh, tapi bikin kita semua terheran-heran. Namun, saya tidak akan membahas Ahmad Dhani dari sisi politik, melainkan dari sisi seorang musisi yang karyanya dulu dianggap kontroversial, salah satunya adalah lagu \u201cSatu\u201d.<\/p>\n<p>Sebagian besar dari kita mungkin ingat, di sekitar tahun 2009, muncul sebuah video berjudul \u201cDewa dan Yahudi\u201d yang menyatakan bahwa Ahmad Dhani adalah seorang Yahudi. Latar belakang keturunannya menjadi salah satu dalih untuk menyebut Ahmad Dhani sebagai Yahudi (dan menyebarkan agama Yahudi). Tak berhenti di situ, salah satu lagu Dewa 19 berjudul \u201cSatu\u201d juga jadi sasaran, yang mana kali ini tak sekadar Yahudi, tapi pemuja dajal, iluminati, dsb.<\/p>\n<p>Dalam lagu \u201cSatu\u201d, lebih tepatnya dalam video klip lagu \u201cSatu\u201d, memang ada beberapa adegan yang agak ambigu. Ada beberapa simbol dalam video klip lagu tersebut yang dianggap orang sebagai bentuk pemujaan pada dajal atau iluminati. Ada simbol mata satu yang entah itu digambarkan hanya mata atau digambarkan dengan adegan Once (vokalis Dewa 19 saat itu) hanya setengah wajah. Ada juga simbol mata satu yang digambarkan dengan piramida, logo khas yang kerap dikaitkan dengan pemuja dajal dan iluminati.<\/p>\n<p>Lirik lagunya pun mendapat perlakuan yang sama. Bagian reff: \u201cTak ada yang lain selain dirimu, yang selalu ku puja\u201d dianggap bentuk ungkapan pemujaan terhadap dajal dan iluminati. Belum lagi cocokologi konyol ketika kata \u201cdirimu\u201d di sebagian besar lagu ini selalu sinkron dengan penggambaran simbol mata satu. Frasa \u201cdirimu\u201d dalam lagu ini seakan dianggap sebagai dajal atau tuhan Yahudi. Pokoknya, lagu ini diperas habis, di-framing seakan-akan \u201cbermasalah.\u201d<\/p>\n<p>Inilah yang menjadi bahan untuk \u201cmenyerang\u201d Ahmad Dhani\u2014dan juga Dewa 19\u2014saat itu. Apakah \u201cserangan\u201d itu berhasil? Bisa dibilang berhasil. Sebab, isu mengenai lagu \u201cSatu\u201d sempat jadi pembicaraan banyak orang, dan video penjelasan tentang keterkaitan Ahmad Dhani dengan pemuja dajal, iluminati, atau penyebaran agama Yahudi, beredar di mana-mana. Bahkan, saya yang saat itu masih SD, juga menjadi korban isu konyol ini. Saya yang masih kecil sampai benci terhadap lagu \u201cSatu\u201d, hingga akhirnya saya dewasa dan sadar bahwa semua ini hanya kekonyolan.<\/p>\n<p>Padahal kalau mau ditelaah lebih lanjut, penggambaran simbol mata satu itu adalah langkah yang cukup bagus. Secara visual bagus dan autentik. Jarang-jarang ada yang berani seperti itu. Dan kalau bicara soal kualitas, video klip &#8220;Satu&#8221; keren sekali. Bahkan sampai saat ini, menonton video klip \u201cSatu\u201d masih terasa kerennya. Respek untuk Tepan Cobain yang membuat video klip ini.<\/p>\n<p>Liriknya pun sebenarnya bagus. Kalau ditelaah, lirik lagu \u201cSatu\u201d malah bisa diartikan sebagai hubungan manusia dengan Tuhannya. Bagian reff yang katanya kontroversial, malah sebenarnya jadi poin penting dari lagu ini. \u201cTak ada yang lain selain dirimu, yang selalu kupuja. Ku sebut namamu, di setiap hembusan napasmu. Ku sebut namamu\u201d ini malah terlihat mirip seperti lagu religi. Terlihat dari liriknya yang seperti arti kalimat tauhid. Jadi, sangat tidak masuk akal kalau lagu ini, baik lirik, video klip, Dewa 19, atau Ahmad Dhani, dikaitkan dengan dajal, iluminati, atau Yahudi.<\/p>\n<p>Isu ini berlangsung lama dan didiamkan oleh Ahmad Dhani. Hingga pada Januari 2020, Ahmad Dhani mengunggah semacam video klarifikasi melalui kanal \u201cVIDEO LEGEND.\u201d Secara umum, ia membantah semua tuduhan konyol tentang dirinya sebagai Yahudi, pemuja dajal, atau iluminati. Dan khusus untuk \u201cSatu\u201d, Ahmad Dhani juga membantah segala tuduhan yang ada.<\/p>\n<p>\u201cSaya nggak ada hubungannya dengan lambang-lambang itu,\u201d kata Ahmad Dhani.<\/p>\n<p>Bayangkan, Ahmad Dhani baru klarifikasi setelah lebih dari 10 tahun ketika dihantam isu konyol itu!<\/p>\n<p>Sebagai orang yang waras, rasanya kita tidak perlu percaya tentang segala kontroversi konyol lagu \u201cSatu\u201d. Kelihatan sekali cocokologinya dan sangat terasa dibuat-buat. Seni memang bebas diintepretasikan, namun kalau sudah ngawur begini, rasanya kok ya kurang pantas.<\/p>\n<p>Oke kalau kalian benci dengan Ahmad Dhani atau Dewa 19, tapi mengintepretasikan lagu \u201cSatu\u201d dengan sangat ngawur sebagai pembunuhan karakter jelas bukan pilihan yang manusiawi. Semoga saja sudah tidak ada yang percaya dengan isu konyol ini.<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/2Tx4pavQwvI\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kontroversi konyol lagu &#8220;Satu&#8221; kelihatan sekali dibuat-buat.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":149139,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[3520,7283,13098,13987],"class_list":["post-149138","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-ahmad-dhani","tag-dewa-19","tag-pilihan-redaksi","tag-satu"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149138","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=149138"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149138\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/149139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=149138"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=149138"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=149138"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}