{"id":1482,"date":"2019-05-17T11:00:40","date_gmt":"2019-05-17T04:00:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1482"},"modified":"2021-10-08T12:44:18","modified_gmt":"2021-10-08T05:44:18","slug":"kenapa-emang-kalau-suka-curhat-ke-orang-yang-belum-dikenal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-emang-kalau-suka-curhat-ke-orang-yang-belum-dikenal\/","title":{"rendered":"Kenapa Emang Kalau Suka Curhat ke Orang yang Belum Dikenal?"},"content":{"rendered":"<p>Pada dasarnya, manusia itu memang makhluk sosial yang\u2014disadari atau tidak\u2014memiliki ketergantungan kepada orang lain. Saling menolong juga ditolong, berkomunikasi satu sama lain\u2014juga melepas rasa penat pada hati, <em>uneg-uneg\u2014<\/em>dengan cara curhat. Iya, sekalipun dengan orang yang baru bertemu atau dengan yang telah lama dikenal\u2014baik secara langsung atau melalui berbagai media.<\/p>\n<p>Walau tidak menyelesaikan masalah seutuhnya\u2014atau saran yang diberikan tidak melulu <em>sreg\u2014<\/em>paling tidak dengan curhat, ada <em>insight<\/em> atau ide baru yang belum terpikirkan sebelumnya, karena adanya sudut pandang lain\u00a0 atau baru yang diberikan oleh orang lain. Hal ini berdasarkan pada pengalaman atau wawasan orang yang menjadi penerima curhat.<\/p>\n<p>Pada dasarnya para manusia ini suka curhat (termasuk saya), dari mulai menulis pada diary atau catatan harian, platform blog, sampai media sosial. Semua cerita dan masalah seperti ingin dituliskan, dicatat, di-<em>posting<\/em>, dan\u2014jika memungkinkan\u2014harus banyak orang yang tahu. Tujuannya entah untuk dapat perhatian atau bisa jadi menginginkan solusi, <span style=\"text-decoration: line-through;\">bisa juga untuk memancing perhatian si dia agar dihubungi lebih dulu. <\/span>Ada juga yang memang hanya untuk sembarang <em>posting<\/em> saja, agar nantinya bisa dikenang setahun kemudian dan secara otomatis akan muncul pada fitur <em>memories<\/em>, lalu di-<em>share<\/em> kembali pada tanggal yang sama, dengan caption, \u201cga kerasa udah setahun aja.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian, kebiasaan curhat ini berkembang dan seperti menemukan formula, <em>format<\/em>, dan wadah baru. Dalam lingkar pertemanan saya, sudah tidak ada lagi yang menulis curhatan di <em>diary<\/em>, saat ini banyak dari mereka yang curhat melalui <em>story<\/em> di Instagram, Whatsapp, dan <em>platform<\/em> lain, selain memang buat <em>thread<\/em> di Twitter <span style=\"text-decoration: line-through;\">tentang aib diri sendiri atau orang lain<\/span>, <em>sih<\/em>.<\/p>\n<p>Sampai akhirnya, seorang <em>selebtwit<\/em> yang juga penulis membuat atau membuka usaha curhat berbayar. Berawal dari jasa rangkai kata yang bayarannya terbilang mahal dan sampai dengan saat ini saya lihat sering di-iya-kan, disetujui oleh pelanggan. Sepertinya, julukan \u201csobat <em>missqueen<\/em>\u201d untuk pengguna Twitter sudah tidak <em>relate<\/em> lagi, karena pesanan yang masuk pun dapat dikatakan banyak via <em>direct message<\/em> twitter.<\/p>\n<p>Walau tarif jasa rangkai kata ini terbilang mahal bagi sobat (yang mengaku) , tak sedikit dari mereka yang merasa puas akan rangkaian kata yang diukir. Membuat haru, dapat menyelesaikan masalah, memberi solusi, membuat damai pasangan yang sedang berseteru. Dari situ, seakan berjalan beriringan, ada pelanggan yang <em>request<\/em> untuk curhat via Whatsapp, DM, atau telepon.<\/p>\n<p>Setelahnya, pertentangan dimulai. Saya cek pada kolom <em>reply<\/em> di salah satu twit (berupa <em>screenshot)<\/em> dari pendiri jasa rangkai tersebut yang berisikan <em>request<\/em> dari <em>customer<\/em> yang ingin curhat, lalu disetujui, namun dengan syarat berbayar. Seperti biasa, ada <em>netizen<\/em> budiman yang mengomentari \u201ctransaksi\u201d tersebut. Intinya, beberapa <em>netizen<\/em> lebih menyarankan curhat ke orang yang memang sudah dikenal sebelumnya, berkompeten di bidangnya, akan lebih bagus jika memiliki sertifikat.<\/p>\n<p>Mungkin <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/pedasnya-indomie-rendang-nggak-ada-apa-apanya-dibanding-hujatan-netizen\/\">netizen<\/a> yang memberi komentar tidak salah, namun, perlu diketahui, sekalipun mau curhat ke Psikolog, umumnya kan tidak saling mengenal di awal, setelah bertemu, basa-basi, baru bisa saling mengenal. Sebagai intervensi, saya rasa tidak perlu sertifikat untuk mendapatkan saran yang tepat. Jika ada yang berkomentar tarifnya mahal, bahkan lebih mahal dari yang memang ahlinya, tanpa maksud lebih condong membela satu pihak, tarifnya sendiri sudah didiskusikan sebelumnya, begitu <em>deal<\/em> barulah curhat sampai dengan selesai.<\/p>\n<p>Penerima curhat sudah menegaskan bahwa tarif yang disetujui adalah sebagai kompensasi atau pengganti dari waktu yang terbuang di rumah, yang seharusnya bisa dipakai untuk bermain dengan anak. Lagipula, sepertinya memang sudah bawaan seseorang <span style=\"text-decoration: line-through;\">sejak lahir<\/span>, seringkali curhat dengan orang yang belum dikenal sebelumnya. Jika tidak ada keberatan bagi kedua belah pihak, maka itu bukan masalah.<\/p>\n<p>Lebih dari itu, bahkan saat ini sudah ada akun Instagram yang menerima curhatan dari para lelaki, yang ketika saya baca beberapa diantaranya, kebanyakan tentang aib pribadi. Kalau mau <em>fair<\/em>, akun ini juga layak diberi komentar. Sebab adanya akun ini, kita semua jadi tahu, yang suka curhat\u2014bahkan cerita soal aib pribadi\u2014bukan hanya perempuan, tapi juga lelaki. Ternyata, sebagian dari kaum lelaki pun suka curhat dengan orang yang belum dikenal sama sekali, bahkan, ini akun anonim. Tidak tahu latar belakangnya apa, dan apakah cerita akan betul-betul terjaga, dijamin kerahasiaannya.<\/p>\n<p>Para lelaki ini kenapa, sih? Memang tidak ada kah teman terdekat yang bisa dipercaya, untuk berbagi cerita, kenapa mau dengan mudah menggadai aib hanya untuk konten pihak lain semata? Belum lagi adanya pro dan kontra, tidak semua setuju, tidak semua mendukung. Apa kalian tidak sadar, ada sebagian pembaca yang tertawa nyinyir sambil menggerutu akan masalah kalian? \u201cini apaan, sih, ada-ada aja yang di<em>share<\/em>\u201d, begitu kira-kira.<\/p>\n<p>Disamping itu, menurut saya pribadi, ketidakpedulian orang terdekat pun menjadi salah satu penyebab seseorang lebih memilih curhat dengan orang yang tidak dikenal. Bagaimana tidak, baru saja mau curhat, seringkali sudah dibilang, \u201cah, gitu aja nangis\u201d, \u201clemah banget, sih. Aku tuh ya, dulu lebih parah dari itu..\u201d.<\/p>\n<p>Perlu disadari, tidak semua orang memiliki ketahanan emosional dan kondisi psikis yang sama. Pahami situasi dan kondisi mereka lebih dulu dibanding mencaci. Tidak heran jika banyak orang lebih memilih curhat ke para <em>stranger<\/em>, karena mereka lebih mendengar dan solutif, meski harus bayar dengan tarif yang cukup mahal dan akan menjadi konten bagi akun anonim.<\/p>\n<p>Sampai akhirnya kita sadar hanya kepada Tuhan lah kita kembali dan hanya Tuhan yang dapat menerima segala keluh kesah kita\u2014tanpa tarif, tanpa harus ditertawakan orang lain, dengan segala solusi dan janji yang pasti.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada dasarnya para manusia ini suka curhat (termasuk saya), dari mulai menulis pada diary atau catatan harian, platform blog, sampai media sosial. <\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":1517,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[383,384,385],"class_list":["post-1482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-curhat","tag-manusia-makhluk-sosial","tag-sambat"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1482\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1517"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}