{"id":14819,"date":"2019-09-26T11:45:53","date_gmt":"2019-09-26T04:45:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=14819"},"modified":"2022-02-14T14:46:41","modified_gmt":"2022-02-14T07:46:41","slug":"alip-ba-ta-dan-dunia-fingerstyle","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alip-ba-ta-dan-dunia-fingerstyle\/","title":{"rendered":"Alip Ba Ta dan Dunia Fingerstyle"},"content":{"rendered":"<p>Bagi warganet, khususnya yang <a href=\"https:\/\/tirto.id\/pertemuan-gitar-dan-kendang-cHFQ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">hobi gitar<\/a> sudah pasti tak asing dengan sosok Alip Ba Ta. Blio muncul dengan <em>skill<\/em> gitar yang luar biasa. Menjadi sorotan dan bahkan dipuji oleh beberapa gitaris dunia.<\/p>\n<p>Selain kepiawaiannya bermain gitar, penampilan dan latar video yang &#8220;merakyat&#8221; juga ciri khas blio. Mungkin benar kata Sherlock Holmes, <em>bakat seni paling murni seringkali mengambil wujud paling aneh<\/em>. Alip Ba Ta pun seakan ingin menegaskan bahwa bermain gitar itu hanya soal jari, rasa dan keharmonisan, sisanya biarlah (nanti) ditanggung sponsor.<\/p>\n<p>Sebelum kemunculan dan viralnya Alip Ba Ta, saya selalu ngintip dan ikuti beberapa nama seperti Tommy Emmanuel, Andy Mckee, Sungha Jung, Igor Presnyakov, Jubing Kristianto, dan beberapa yang lain. Mereka berani menggantungkan nasib sepenuhnya pada keahlian gitar.<\/p>\n<p>Di tengah pasar global yang ketat, mewabahnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-orang-yang-sayang-dan-perhatian-pada-pasangannya-justru-diolok-olok-sebagai-bucin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">bucin<\/a>, dugem, boyband, drakor, horor. Para artis gitar itu tak gentar. Mereka mantap dengan jalannya sendiri dan tetap memiliki penggemar setia. Saya tidak mengulas sejarah dan perkembangan gitar solo. Atau menjelaskan perbedaan gitar klasik dan <em>fingerstyle<\/em>, kawan-kawan bisa telusuri sendiri.<\/p>\n<p>Namun yang jelas, animo masyarakat terhadap <em>fingerstyle<\/em> bisa jadi sebuah peluang. Sekiranya industri kreatif Indonesia nantinya lebih beragam dan terus berkembang. Namun ada beberapa hal yang buat saya pesimis bahwa <em>fingerstyle<\/em> masih belum cukup dijadikan jenis profesi di Indonesia.<\/p>\n<p>Sebagaimana para <em>standup comedian<\/em> disebut komika, atau penambahan &#8220;er&#8221; bagi <em>blogger<\/em> maupun <em>vlogger<\/em>, yang buat mereka terkesan seperti pekerja spesialis. Belum ada sebutan khusus yang <em>catchy<\/em> bagi para penggiat <em>fingerstyle<\/em>. Dan menurut saya kurang afdol jika para penggiat <em>fingerstyle<\/em> ini nantinya dikenal dengan sebutan <em>fingerstyl-er<\/em>. Bisa-bisa disangka penjual es teler.<\/p>\n<p>Menurut Frederickdass dalam halaman WordPress-nya; prinsip utama <em>fingerstyle<\/em> itu &#8220;one man &#8211; one band&#8221;. Dalam permainan <em>fingerstyle<\/em>, sudah ada bass line, rhythm, melodi line bahkan ditambah drum atau perkusi. So, menurut saya, sebutan gitaris pun cenderung <em>mainstream,<\/em> dan (mungkin) kurang memuaskan bagi para pemain <em>fingerstyle<\/em>.<\/p>\n<p>Kebanyakan orang Indonesia suka gratisan. Salah satu penghalang berkembangnya industri <em>fingerstyle<\/em> yaitu kesusahan para penggiat, khususnya proletar seperti saya ini buat beli gitar dan alat rekaman yang memadai. Syukur kalo situ anak juragan atau pejabat. Tak jadi masalah.<\/p>\n<p>Harga gitar pabrikan dan peralatan <em>home recording<\/em> lumayan mahal dan belum bersubsidi. Okelah, negara kita ini rajanya bajakan alias KW. Banyak toh di luar sana, gitar-gitar murah. Sekedar untuk latihan sih bisa, tapi bagaimana jika ada kesempatan<em> live perform<\/em> di cafe atau kondangan. Tentunya perlu gitar yang berkualitas.<\/p>\n<p>Coba bandingkan dengan industri <em>standup<\/em> yang sekarang laris dan mulai diterima di pasaran. Belajar menjadi seorang komika tidak perlu keluarin modal lebih. Cukup banyak riset, racik kumpulan <em>beat<\/em> dan <em>oneliner<\/em>, lalu banyakin <em>open mic,<\/em> dan siap kena <em>bomb<\/em>.<br \/>\n<em>Fyi aja nih<\/em>, <em>bomb<\/em> itu istilah buat komika yang garing dan gagal diketawain. <em>Beat<\/em> ialah kumpulan joke dengan sebuah topik tertentu dan <em>oneliner<\/em> berarti lelucon singkat.<\/p>\n<p>Salah satu penghalang belum masifnya industri <em>fingerstyle<\/em> yaitu tidak adanya stasiun TV yang berani mengadakan ajang kompetisi khusus <em>fingerstyle<\/em>. Kita memasuki zaman yang benar-benar membingungkan. Saya tidak tahu, apakah mungkin karena kadar micin berlebih atau ada hal lain di luar sana. Salah satu kendala para penggiat <em>fingerstyle<\/em> adalah berjuang menjinakkan calon <em>subscriber<\/em> yang lebih doyan konten-konten alay. Dan semoga hambatan yang terakhir ini hanyalah hoaks belaka.<\/p>\n<p>Terlepas dari beberapa hambatan di atas, kemunculan sosok Alip Ba Ta, sanggup menjadi inspirasi dan pemicu semangat para penggiat <em>fingerstyle<\/em>. Jika yakin kalian berbakat, teruslah belajar dan mengasah kemampuan..<\/p>\n<p>Bagi siapa saja yang selama ini beranggapan; menjadi musisi harus lewat sekolah musik atau diwarisi garis keturunan. Itu tidak sepenuhnya berlaku.<\/p>\n<p>Di atas segalanya, kerja keras yang menentukan semuanya. Saya catut sebuah pepatah lama yaitu <em>kerja keras bisa mengalahkan bakat, jika bakat tidak bekerja keras<\/em>. Dan bagi semua penggiat gitar <em>fingerstyle, <\/em>jangan menyerah!\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aku-kalau-demo-demo-boleh-gosong-jangan-skincaremahal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aku Kalau Demo: Demo Boleh, Gosong Jangan #SkincareMahal<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/semji-frans\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Semji Frans<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alip Ba Ta seakan ingin menegaskan bahwa bermain gitar itu hanya soal jari, rasa dan keharmonisan, sisanya biarlah (nanti) ditanggung sponsor.<\/p>\n","protected":false},"author":329,"featured_media":14900,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[3588,3589,3590,1412,157],"class_list":["post-14819","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-alip-ba-ta","tag-fingerstyle","tag-gitar","tag-tutorial","tag-youtube"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14819","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/329"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14819"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14819\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14900"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}