{"id":147922,"date":"2021-11-01T09:00:21","date_gmt":"2021-11-01T02:00:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=147922"},"modified":"2021-11-01T07:13:20","modified_gmt":"2021-11-01T00:13:20","slug":"wayan-made-nyoman-ketut-makna-di-balik-nama-orang-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wayan-made-nyoman-ketut-makna-di-balik-nama-orang-bali\/","title":{"rendered":"Wayan, Made, Nyoman, Ketut: Makna di Balik Nama Orang Bali"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap daerah tentu memiliki ciri khas atau keunikannya tersendiri. Keunikan itu pun beraneka ragam, misalnya berkaitan dengan penggunaan nama. Salah satunya soal nama orang Bali yang menganut sistem unik sesuai dengan tradisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kamu bertemu dengan orang Bali atau punya teman orang Bali, tentu kamu sering mendengar nama khas Bali seperti I Wayan, I Made, Ni Nyoman, Ni Ketut, dan sebagainya. Semua nama itu ternyata ada artinya, lho. Mari kita telisik lebih jauh.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Nama orang Bali berdasarkan jenis kelamin<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unsur jenis kelamin biasanya mengawali nama orang Bali. Nama depan \u201cI\u201d atau \u201cNi\u201d dipakai untuk membedakan jenis kelamin. \u201cI\u201d bermakna laki-laki. Sementara \u201cNi\u201d sebagai penanda jenis kelamin perempuan. Jadi, \u201cI\u201d dan \u201cNi\u201d memiliki makna seorang lelaki dan wanita dari keluarga masyarakat kebanyakan, tidak berkasta disebut orang jaba.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Nama orang Bali berdasarkan urutan kelahiran<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama orang Bali juga tersusun berdasarkan urutan kelahiran. Ada empat macam penamaan orang Bali, yaitu Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama Wayan digunakan untuk anak pertama. Wayan berasal dari kata \u201dwayahan\u201d yang berarti paling matang atau tua. Untuk anak pertama, sinonim yang biasa digunakan antara lain Putu, Kompiang, atau Gede.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana dengan anak kedua? Anak kedua dipanggil Made yang berasal dari kata \u201cmadya\u201d atau berarti tengah. Anak kedua juga bisa diberi nama Nengah yang artinya tengah, atau Kadek yang artinya adik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak ketiga diberi nama Nyoman yang berasal dari kata \u201canom\u201d yang artinya muda atau kecil. Anak ketiga juga bisa dinamakan Komang yang berasal dari kata \u201cuman\u201d yang artinya \u201csisa\u201d atau \u201cakhir\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut pandangan hidup orang Bali, sebaiknya sebuah keluarga cukup memiliki tiga anak saja. Setelah memiliki tiga anak, orang Bali disarankan untuk lebih \u201cbijaksana\u201d. Hal tersebut dikaitkan dengan masyarakat Bali yang berpatokan dengan jumlah tiga, tak terkecuali dalam jumlah anak karena identik dengan konsep Hindu Bali, seperti Tri Hita Karana, Tri Murti, Tri Kaya Parisudha, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara anak keempat diberi nama Ketut yang secara etimologis berasal dari kata \u201cketuut\u201d yang artinya mengikuti atau membuntuti lantaran anak ini disebut ikut lahir setelah anak ketiga tadi. Ketut adalah anak \u201cbonus\u201d yang tersayang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak, maka mulai dari anak kelima, biasanya orang Bali akan mengulang siklus penamaan di atas. Misalnya, anak kelima diberi nama Wayan, keenam Made, dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Nama orang Bali berdasarkan sistem kasta<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unsur terakhir yang membentuk nama orang Bali adalah berdasarkan golongan sosial atau kasta. Kasta yang tercantum dalam catur wangsa terdiri dari empat golongan, yaitu kasta Brahmana, kasta Ksatria, Waisya, dan Sudra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasta Brahmana merupakan keturunan pemuka agama yang dipercaya memimpin upacara keagamaan pada masa kerajaan. Mereka yang berasal dari kasta ini biasanya akan diberi nama Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, kasta Ksatria merupakan keturunan raja, bangsawan, atau golongan kerajaan di masa lalu. Mereka yang berasal dari kasta ini biasanya akan diberi depan Anak Agung, Cokorda, atau Gusti. Sedangkan untuk perempuan umumnya bernama Dewa Ayu Desak atau Sagung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu untuk kalangan Waisya yang merupakan keturunan pedagang dan pengusaha di zaman kerajaan, biasanya diberi nama Ngakan, Kompyang, Sang, dan Si.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir adalah kasta Sudra yang dulunya berprofesi sebagai buruh atau petani. Mereka yang berasal dari kasta ini menggunakan urutan kelahiran sepenuhnya tanpa ada gelar tertentu, seperti Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah sekilas tentang sistem penamaan orang Bali yang berdasarkan pada tiga patokan, yaitu jenis kelamin, urutan kelahiran, dan kasta. Semoga kamu yang membaca tidak bingung lagi jika menemui nama orang Bali yang unik ini, ya.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/pixabay.com\/id\/photos\/menari-orang-bali-tradisional-4271941\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada 3 patokan yang biasa digunakan, yaitu berdasarkan jenis kelamin, urutan kelahiran, dan kasta.<\/p>\n","protected":false},"author":1615,"featured_media":148257,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9507,1529,1671],"class_list":["post-147922","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bali","tag-nama","tag-tradisi"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147922","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1615"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147922"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147922\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/148257"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147922"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147922"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147922"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}