{"id":147708,"date":"2021-10-30T10:00:46","date_gmt":"2021-10-30T03:00:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=147708"},"modified":"2021-10-30T02:20:13","modified_gmt":"2021-10-29T19:20:13","slug":"kok-bisa-ada-warga-jogja-bangga-sama-spot-foto-ala-squid-game-ra-isin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kok-bisa-ada-warga-jogja-bangga-sama-spot-foto-ala-squid-game-ra-isin\/","title":{"rendered":"Kok Bisa Ada Warga Jogja Bangga sama Spot Foto ala Squid Game? Ra Isin?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em>Kok bisa ada warga Jogja yang membela spot foto cringe ala Squid Game? Ra isin?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya pelaku wisata Jogja adalah golongan manusia bebal. Bahkan setelah dihujat kiri kanan karena \u201cJogja rasa Ubud\u201d, mereka masih saja bikin gebrakan ra mashok blas. Yah mungkin lagunya Tulus yang berjudul \u201cManusia Kuat\u201d itu memang ditujukan kepada para pelaku wisata Jogja. Terbukti mereka kuat untuk dihujat bahkan dicaci maki warganet. Maklum ya, uang wisatawan itu memang menambah kekuatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu bukti kebebalan itu adalah munculnya spot wisata berbasis viral. Yaitu spot foto bertema <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Squid Game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Spot foto yang jelas berbayar ini viral di Tiktok lalu berlanjut ke media sosial lain. Tentu viralitas menjadi alasan yang menambah vitalitas mental eksploitatif pelaku wisata. Dan ketika akun-akun wisata Jogja mulai berebut mengiklankan spot foto ra cetho ini, tentu gunjingan menyambar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cukup banyak yang merasa kagum dan ingin mendatangi spot foto <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Squid Game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tadi. Tidak sedikit pula yang menghujat spot foto yang saya enggan sebut di mana lokasinya ini. Ada yang bilang cringe. Ada juga yang merasa muak dengan viralnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Squid Game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sisanya memandang spot foto ala serial Korea ini tidak menunjukkan pribadi dan budaya Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, suara kontra ini bertemu balasannya. Salah satu komentar negatif tentang spot foto ini dibalas dengan membabi buta. Ada yang menuntut penulis komentar untuk tidak ikut campur. Ada yang bilang ini demi mendongkrak pariwisata. Ada yang memuji Jogja penuh kreativitas. Bahkan ada yang balik menyerang si penulis komentar yang tidak berkontribusi bagi pariwisata Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau menghadapi kebebalan pelaku wisata, saya sih sudah capek. Selama uang wisata menjadi sumber energi mereka, telinga pelaku wisata akan setebal tembok Beteng Kraton yang segera menggusur warga. Tapi, yang kini menarik perhatian saya adalah para warga Jogja sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu yang saya tunjuk adalah mereka yang seperti pembela spot foto <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Squid Game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka yang merasa apa pun di Jogja selalu baik. Bahkan lebih baik daripada daerah manapun meskipun UMR mereka lebih manusiawi. Pokoknya mereka yang selalu merasa diri istimewa karena warga daerah istimewa. Apalagi yang anggota grup aspal gronjal bimbingan Om Yanto itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu pertanyaan sederhana, \u201cNggak malu membela spot foto <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Squid Game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?\u201d Saya tidak habis pikir ketika ada warga Jogja yang mau membela eksploitasi ruang kreativitas itu. Kok bisa ada yang pede untuk bangga pada spot foto yang memalukan karena minim inovasi itu? Bahkan membanggakan sebagai jawaban dari krisis yang menelanjangi Jogja ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir, perilaku membela berlebihan ini punya alasan kuat. Warga Jogja sangat malu untuk mengakui realitas negerinya. Mungkin ini beban moral label \u201ckeistimewaan\u201d yang tersemat di dada mereka. Oleh karena sudah dilabel istimewa bahkan dapat dana keistimewaan, mereka harus bangga dengan Jogja. Meskipun bobrok dan tidak pernah mencicipi manfaat dana keistimewaan, harus bangga pada Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka saya mulai maklum ketika artikel saya dihujat karena mengkritik Jogja dan Kraton. Bukan karena mereka ingin menjaga harga diri penduduk, namun menjaga label keistimewaan yang terlanjur dipamer-pamerkan. Apa lacur, mau tidak mau mereka harus selalu membela Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin di belakang layar, warga Jogja Pride ini mengeluhkan gaji kecil. Mereka mungkin sesak dengan gelombang wisatawan. Mereka mungkin benci klitih. Tapi kalau ada orang lain yang menyuarakan itu, jiwa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0keistimewaan mereka berkobar. Apalagi yang komentar warga luar Jogja dan pakai \u201clu gua\u201d. Sudah pasti disemprot pertanyaan \u201cKTP mana bos?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa sadar, warga Jogja yang model demikian hanyalah kelompok munafik. Kelompok yang mati-matian melindungi keistimewaan, namun membenci bagaimana daerah istimewa ini memperlakukan warganya. Bahkan jika tidak mau mengaku, segala keluh kesah warga Jogja Pride ini bermuara pada perkara yang sama. Tapi hebat juga lho. Sudah diperkosa birokrasi tumpang tindih, ditelanjangi pandemi, bahkan dihajar \u201cperampasan\u201d tanah kas desa oleh Kraton, ada jiwa istimewa yang harus dibela.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironis sih, warga Jogja yang cenderung ndlogok ini membela keistimewaan ini salah sasaran. Ketika keistimewaan jadi spirit, yang dibela adalah ide-ide hasil daur ulang dari bangsa lain. Ketika membela pariwisata dengan semangat keistimewaan, yang dibela adalah para investor yang tidak berniat melindungi budaya Jogja. Pekok sekali, bukan?<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/pixabay.com\/photos\/cat-ginger-striped-funny-pose-3602557\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pixabay<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kok bisa ada warga Jogja yang membela spot foto cringe ala Squid Game? Ra isin? Sepertinya pelaku wisata Jogja adalah golongan manusia bebal. Bahkan setelah dihujat kiri kanan karena \u201cJogja rasa Ubud\u201d, mereka masih saja bikin gebrakan ra mashok blas. Yah mungkin lagunya Tulus yang berjudul \u201cManusia Kuat\u201d itu memang ditujukan kepada para pelaku wisata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":147709,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[10914,115,11111,13495],"class_list":["post-147708","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-cringe","tag-jogja","tag-spot-foto","tag-squid-game"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147708","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147708"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147708\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147709"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147708"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147708"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147708"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}