{"id":1476,"date":"2019-05-17T09:00:51","date_gmt":"2019-05-17T02:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1476"},"modified":"2021-10-08T12:44:26","modified_gmt":"2021-10-08T05:44:26","slug":"menyelami-pikiran-kawan-hedon-yang-hobi-minta-utang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyelami-pikiran-kawan-hedon-yang-hobi-minta-utang\/","title":{"rendered":"Menyelami Pikiran Kawan Hedon yang Hobi Minta Utang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik saat saya menuliskan hal ini, sungguh sedalam-dalamnya saya mencoba untuk merelakan uang saya tak kunjung dikembalikan oleh rekan-rekan penganut hedonisme yang begitu eksis di media sosial. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah setelah tulisan ini selesai maka usai pula rasa penasaran saya? <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Entahlah. Yang jelas, saya hanya bermaksud untuk berempati terhadap mereka yang berutang pada saya, mengulur waktu kalau ditagih tetapi gaya hidupnya bak sosialita yang biasa saya lihat di majalah seharga iuran <a href=\"https:\/\/bpjs-kesehatan.go.id\/\">BPJS<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini bermaksud untuk menyelami, apa yang sebenarnya ada di dalam benak para tukang utang yang berani-beraninya menunjukkan kehedonan di media sosial. Yah, seperti kata orang bijak, kalau kamu mau memahami pikiran seseorang, maka masukilah tubuhnya, gunakan kulitnya sebagai kulitmu. Kira-kira begitu.<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, mulai dari paragraf ini, <strong>saya<\/strong> di sini artinya tukang utang yang hedon yang mewakili tokoh teman saya. <\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika bangun tidur, saya melihat dua hal yang bertolak belakang: rekening dan juga media sosial. Media sosial menunjukkan kepada saya tentang makna YOLO alias <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">You Only Live Once. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, saya pun mendadak ingin memeluk seluruh dunia, menyambangi sudutnya satu per satu dan menghamburkan uang di sana. <\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, rekening menunjukkan bahwa bagi dunia ini, keberadaan saya tak berarti apa-apa. Namun, saat melihat media sosial, otak saya pun mengingatkan: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kamu punya beberapa kenalan yang menganggap keberadaanmu cukup penting. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya adalah \u2018teman dekat\u2019.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, saya pun kemudian menghubungi mereka dan berkata kalau saya sangat membutuhkan bantuan. Bantuan ini tentunya berupa uang tunai, penambahan digit angka di rekening saya. Ah, mereka pasti punya belas kasihan yang besar! Tentu saja, bagi mereka, saya adalah salah satu sudut dunia yang cukup penting: mereka punya kenangan tentang saya.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, uang itu saya gunakan untuk menyambung hidup: makan, nonton film, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/brb\/corak\/fiksi\/membalas-undangan-minum-kopi-lintas-waktu\/\">minum kopi.<\/a> Soalnya, uang gaji atau uang dari orangtua sudah habis. Dan buat kalian yang hobi mengkritik, ingat-ingat ya, bahwa menonton film adalah kebutuhan primer untuk jiwa, begitu juga mengonsumsi kopi kekinian dengan campuran <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">red velvet <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan gula jawa.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Nanti, pada tanggal tertentu, saya akan mendapatkan uang. Tentu sebetulnya, jauh di lubuk hati yang paling dalam, saya bermaksud untuk mengembalikan uang teman saya. Namun, saya rasa kalau uang itu dihabiskan untuk membayar utang, lantas dengan apa saya akan makan di restoran? Membayar dompet digital? Belum lagi, setelah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Avengers: Endgame, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">datang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Detective Pikachu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, kemudian apa lagi? Para sineas \u00a0kapitalis yang tak henti-hentinya mengeruk uang saya!<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Lagipula, kawan saya ini sungguh beruntung. Hidupnya teratur. Suaminya cukup mapan. Uang tiga ratus empat ratus ribu tak berarti bukan baginya? Plus, dia belum menagih saya dan tak bilang bahwa saya harus membayar, kok!<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, saya pun merasa kalau utang itu tak perlu dibayar secepatnya. Bukannya hubungan persahabatan hampir sekental darah?<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari, entah mengapa teman saya itu menagih utang. Sungguh waktu yang tak tepat! Saya sedang tak punya uang. Teman saya ini baru pulang dari Singapura, jadi saya pikir uang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">segitu <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tidak berarti baginya, kan? Maksud saya, bayangkan, biaya hidup di Singapura itu kan tinggi.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saya bilang kepadanya bahwa saya sedang tak punya uang dan baru akan mendapatkan uang bulan depan. Untungnya atas nama pertemanan, dia berkata tak masalah. Dan semenjak saat itu, dia tak pernah menagih saya lagi.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, apakah salah saya bila di kemudian hari, saya mendapatkan omongan buruk yang berasal dari teman saya tersebut? Bukankah dia yang kemudian tak menagih lagi?<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir, kalau dia tegas kepada saya terkait utang tersebut, saya bisa mengusahakannya. Masalahnya, cara teman saya begitu <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">amical, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">alias hangat. Kalau sudah begini, siapa yang munafik?<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Dan tolonglah, para bapak dan ibu pembuat kebijakan. Gaji anak muda zaman sekarang begitu kecil. Katanya teknologi itu penting, tetapi, giliran kami menggunakan uang untuk meng-<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">upgrade <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">gawai serta menonton film, mengapa kami dihardik?<\/span><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, begitulah. Saya sudah selesai menyelami pikiran teman-yang-berutang-tapi-hedon-dan-tak-kunjung-bayar-utang. Sungguh, saya ingin berpikir bahwa teman saya baik dan tak layak dicoret dari daftar pertemanan. Namun, kadang saya merasa sakit hati bila tetes keringat saya saat bekerja dikonversi jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">caramel latte <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan harga berlipat-lipat ganda.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan ini bermaksud untuk menyelami, apa yang sebenarnya ada di dalam benak para tukang utang yang berani-beraninya menunjukkan kehedonan di media sosial.<\/p>\n","protected":false},"author":54,"featured_media":1493,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[379,380,209,378],"class_list":["post-1476","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-hedon","tag-hedonisme","tag-keuangan","tag-utang"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1476","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/54"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1476"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1476\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1476"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1476"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1476"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}