{"id":147489,"date":"2024-02-19T09:00:30","date_gmt":"2024-02-19T02:00:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=147489"},"modified":"2024-02-18T23:04:30","modified_gmt":"2024-02-18T16:04:30","slug":"cara-menjelaskan-letak-kabupaten-lumajang-biar-mudah-dipahami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menjelaskan-letak-kabupaten-lumajang-biar-mudah-dipahami\/","title":{"rendered":"Cara Saya Jelaskan Letak Kabupaten Lumajang biar Mudah Dipahami"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya pengalaman seru saat ke luar kota dan mendapat pertanyaan berasal dari mana. Saya selalu dengan bangga bilang saya dari Kabupaten Lumajang. Meski ada juga teman saya yang nggak mau bilang berasal dari Lumajang. Biasanya, mereka ngaku orang Jember. Alasannya satu, karena Lumajang nggak terkenal. Alias susah banget menjelaskan letak kabupaten ini. Padahal ada lho di peta meski kecil banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, saya selalu tidak menyerah apabila orang-orang tanya di mana Lumajang itu. Dengan hati-hati saya menjawab. Tahu Probolinggo? Mereka selalu bilang tahu. Terus saya tanya lagi nih, tahu Jember nggak? Mereka juga jawab tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sana sudah lega, jelas nggak bakal sulit menjelaskannya. Saya bilang kalau<\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Lumajang\"> <span style=\"font-weight: 400;\">kabupaten ini terletak di tengah-tengah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> antara Probolinggo dan Jember. Jadi, kalau kamu mau ke Jember, bisa tuh ngelewatin Lumajang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, jawaban mereka tetap tidak tahu. Mereka selalu menganggap setelah Probolinggo, ya Jember. Fiuh. Kalau sudah kayak begitu, saya baru mengeluarkan jurus-jurus andalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lumajang itu tempatnya Gunung Semeru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah tahu kan kalau Gunung Semeru jadi Gunung Berapi yang tertinggi di Pulau Jawa? Makanya, banyak sekali pendaki yang ke Gunung Semeru. Apalagi setelah nonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">5 CM<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Beuh, Semeru makin rame. Ya, meski saat perjalanannya, seingat saya sih, mereka (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">5 CM<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) lebih menyebut Malang ketimbang Kabupaten Lumajang. Padahal, kan, Semeru ada di Lumajang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi Mylove, diingat-ingat ya kalau Semeru itu ya di Lumajang. Kalau kalian mau mendaki, ya masuknya di daerah Lumajang. Begitu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Coba ketik Kota Pisang di Google, Lumajang bakal muncul di pencarian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba tengok di Google, ketik aja Kota Pisang, pasti yang bakal muncul adalah Kabupaten Lumajang. Meski banyak kota lain yang juga membranding diri sebagai Kota Pisang, tapi kabupaten yang termasuk dalam daerah tapal kuda Jawa Timur ini masih jadi yang terunggul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah masuk ke daerah Lumajang nih, di sepanjang jalan kita bakal nemuin pohon pisang. Baik di lahan-lahan warga maupun di pinggir-pinggir jalan. Pohon pisang ini ada di mana-mana. Saking banyaknya pisang, sampai-sampai pisang ini dikasih ke kambing, Gaes. Soalnya, ada beberapa pisang dengan nilai jual rendah yang jadi cemilannya si embek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, pisang yang terkenal di sini adalah Pisang Agung. Seperti namanya, pisangnya guede banget, selengan orang dewasa untuk 1 buahnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sukses dengan pisang agungnya, Pemkab Lumajang kemudian membranding pisang kirana yang imut-imut itu. Tapi kalau buat buah tangan, masih unggul si pisang agung, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dibeli saat masih belum diolah, biasanya para wisatawan juga beli olahannya yaitu keripik pisang. Sayangnya, banyak orang yang masih belum tahu ke-khasan pisang agung kalau udah jadi keripik. Biasanya, mereka lebih milih keripik pisang Lampung. Padahal, kan&#8230;.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tempat ibadahnya umat Hindu Bali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu nggak sih kalau di Lumajang ada Pura Mandara Giri Semeru Agung? Lokasinya di di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Pura ini disebut paling tua di Nusantara. Konon, Pura ini dibangun sekitar 1960 sampai 1970-an.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunung Semeru erat kaitannya dengan masyarakat Hindu. Saat itu, umat Hindu di Bali kerapkali mengambil air suci di Patirtaaan Watu Kelosot, di kaki Gunung Semeru. Lantaran lamanya waktu tempuh Bali ke Lumajang, ini membuat warga harus menginap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya tidak masalah apabila menginap di hotel atau homestay di Lumajang. Hal yang jadi persoalan menurut beberapa cerita, tidak etis apabila air suci tersebut dibawa ke hotel. Oleh karena itu, warga berinisiatif untuk membangun Pura di Lumajang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap tahunnya, umat hindu Bali selalu datang ke Lumajang. Mereka melakukan upacara Piodalan. Kalau udah begini, Lumajang super ramai. Sebab, warga Bali tumplek blek di sana. Mulai dari pejabat hingga rakyat biasa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tragedi Salim Kancil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama Lumajang itu hampir jarang banget terdengar di kancah nasional. Tapi sekalinya booming, malah ada<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/salim-kancil\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">tragedi Salim Kancil<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Tepatnya pada 26 September 2015, Salim Kancil, seorang petani dan aktivis lingkungan hidup dibunuh secara keji. Ia dibunuh sesaat sebelum demo menolak tambang pasir di Selok Awar-awar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada sekitar 40 orang yang melakukan pengeroyokan terhadap Salim Kancil. Ia kemudian diseret hingga 2 kilometer ke Balai Desa. Salim Kancil pun meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tragedi ini sekaligus sebagai pengingat, jika kehadiran tambang pasir di Lumajang begitu pesat hingga merusak lingkungan. Sampai saat ini, tragedi Salim Kancil diperingati tiap tahunnya. Tentu sebagai pengingat dan kontrol di kabupaten ini. Supaya tidak ada \u201cSalim Kancil\u201d lain yang jadi korban<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa cara saya untuk menjelaskan kepada orang-orang letak Lumajang. Semoga membantu kamu memahaminya, ya!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Maya Rahma<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keadaan-jlt-lumajang-yang-memprihatinkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keadaan JLT Lumajang yang Memprihatinkan: Pesona Alamnya sih Indah, tapi Lubang Jalannya Bikin Celaka<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sini-sini biar pengetahuanmu update!<\/p>\n","protected":false},"author":541,"featured_media":263401,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13875,2501,13873,13874],"class_list":["post-147489","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunung-semeru","tag-jawa-timur","tag-lumajang","tag-salim-kancil"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147489","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/541"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=147489"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/147489\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=147489"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=147489"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=147489"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}