{"id":14741,"date":"2019-05-17T12:00:37","date_gmt":"2019-05-17T05:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=14741"},"modified":"2021-10-08T12:44:00","modified_gmt":"2021-10-08T05:44:00","slug":"tipologi-aktivitas-anak-anak-di-bulan-ramadan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tipologi-aktivitas-anak-anak-di-bulan-ramadan\/","title":{"rendered":"Tipologi Aktivitas Anak-Anak di Bulan Ramadan"},"content":{"rendered":"<div class=\"post-head\">\n<p class=\"entry-title\"><span style=\"font-size: 15px; font-weight: 400;\">Kita sudah memasuki hari ke 11 Ramadan, tidak terasa dan berlalu begitu ringkas. <\/span><em style=\"font-size: 15px; font-weight: 400;\">Amaliyah-amaliyah<\/em><span style=\"font-size: 15px; font-weight: 400;\">\u00a0di bulan Ramadan kita sambut dan lakukan dengan penuh pengharapan sebagai sarana mendekatkan diri dengan Tuhan.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div class=\"item_inn tranz p-border\">\n<div class=\"entry\">\n<p>Tentu secara umum ada perbedaan bagaimana anak-anak dan orang dewasa dalam menyambut dan melakukan\u00a0<em>amaliyah-amaliyah<\/em>\u00a0di bulan suci ini, ya tidak menyangkal pula walau ada orang dewasa yang berlaku kekanak-kanakan.<\/p>\n<p>Saya jadi\u00a0<em>flashback<\/em>\u00a0ketika saya ada dalam fase anak-anak, sekitar usia 6 tahun sampai 14 tahun lah, sebelum beranjak masuk ke dunia SMA.<\/p>\n<p>Begitu riang gembira, gegap gempita, riuh, lunglai, dan lemas bersama teman sebaya menyambut siang demi siang, malam demi malam di bulan Ramadan.<\/p>\n<p>Berdasar pengalaman pribadi saya waktu saya kecil, buah penelitian disaat dewasa dan hasil dari semedi selama 1 bulan di gua, saya akan mencoba membagi macam-macam (<em>tipologi<\/em>) aktivitas anak-anak ketika bulan Ramadan.<\/p>\n<p>Silakan simak dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.<\/p>\n<p><strong>1. Aksi membangunkan sahur yang berjilid-jilid<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai seorang anak-anak yang harus dan masih dalam pengawasan orang tua keluar rumah pada saat dini hari adalah tergolong sebuah tindakan kenakalan. Tapi, para orang tua terkhusus di kampung memberikan\u00a0<em>rukhsah (<\/em>keringanan) kepada anak-anaknya dan\u00a0<em>rukhsah<\/em>\u00a0tersebut diberikan saat bulan Ramadan tiba.<\/p>\n<p>Aksi membangunkan sahur ini dilakukan oleh anak-anak dengan berskala alias berjilid-jilid, tidak hanya 1 periode sahur saja tapi secara berkelanjutan. Pada malam hari anak-anak sekreatif mungkin mempersiapkan alat musik (kentongan, galon, drum bekas) yang digunakan untuk membangunkan sahur pada dini hari nanti, alat musik seadanya ini terlebih dahulu dikumpulkan dan di simpan di\u00a0<em>basecamp<\/em>, biasanya sih samping pos ronda atau musala kampung.<\/p>\n<p>Setelah saatnya tiba, sesuai dengan kesepakatan kolektif, mereka berkumpul di titik kumpul dan siap untuk melakukan aksinya. Berjalan beriringan, konvoi dari barat ke timur, menulusuri jalan-jalan kampung sambil memukul alat musik yang menghasilkan irama merdu nan syahdu sembari meneriakkan,\u00a0<em>\u201csahur, sahur, sahur, sahur\u201d.<\/em><\/p>\n<p><strong>2. Ngabuburit<\/strong><\/p>\n<p>Sebenarnya\u00a0<em>ngabuburit<\/em>\u00a0ini berlaku untuk umum dan merupakan kebiasaan masyarakat adat Sunda dan Betawi ketika menunggu waktu berbuka tiba.<\/p>\n<p>Tapi, anak-anak kampung juga memiliki corak\u00a0<em>ngabuburit<\/em>\u00a0tersendiri. \u00a0Setelah seharian menyepi di kamar tidur, menahan lapar dan haus juga hawa nafsu, mereka mengisi waktu menjelang berbuka dengan berjalan kaki atau menaiki sepeda, bergerombol pergi ke pusat perbelanjaan tradisonal, sekedar membeli makanan dan minuman yang mereka sukai untuk disajikan sebagai hidangan berbuka, atau bahkan membeli petasan cabe untuk dijadikan amunisi perang sesama anak-anak antar kampung.<\/p>\n<p>Mereka berangkat dengan tangan kosong, pulang dengan membawa buah tangan.<\/p>\n<p><strong>3. Perang Sarung<\/strong><\/p>\n<p>Perang sarung ini kadang terjadi tanpa pemicu atau sumber konflik yang jelas. Perang sarung terjadi dengan seketika tanpa perencanaan dan tidak menggunakan skema perang atau taktik perang layaknya tentara.<\/p>\n<p>Prosedural perang sarung ini sangatlah hemat caranya, perseteruan yang sifatnya periodik ini hanya bermodalkan alutsista sederhana, cukup dengan sarung yang di gulung lalu dilipat pada ujung sarungnya sehingga menyerupai pedang asasin yang dapat menikam musuh.<\/p>\n<p>Setelah dirasa sarung kita sudah tajam maka saat itu pula sarung layak dan siap untuk dijadikan senjata. Dan tentu harus ada 2 kubu yang menyepakati baik tempat maupun waktu untuk melakukan peperangan.<\/p>\n<p><strong>4. Kepo ini rakaat ke berapa<\/strong><\/p>\n<p>Di Indonesia mayoritas masyarakat Muslim melaksanakan salat\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/komen\/versus\/bulan-ramadhan-eh-ramadan-jangan-lupa-taraweh-eh-tarawih\/\">tarawih<\/a>\u00a0sejumlah 20 rakaat ditambah salat witir 3 rakaat dan yang melaksanakan 8 rakaat salat tarawih ditambah 3 rakaat salat witir.<\/p>\n<p>Umumnya tarawih dan witir dikampung menggunakan yang pertama yakni 23 rakaat. Dengan jumlah rakaat yang amat banyak ini, sedikit membuat jemu anak-anak, kapan tarawih akan selesai?<\/p>\n<p>Maka timbul pertanyaan ditiap-tiap rakaatnya, pertanyaan ini dilontarkan anak-anak kepada sesamanya atau bahkan yang lebih tua darinya.<\/p>\n<p><em>A : Wey ini rakaat keberapa?<\/em><br \/>\n<em>B : Kurang tau, masih lama<\/em><br \/>\n<em>A : Pak baru rakaat berapa?<\/em><br \/>\n<em>C : 21 rakaat lagi<\/em><\/p>\n<p>Demikian, anak-anak terus menanyakan ini rakaat keberapa di tiap-tiap jeda lantunan\u00a0<em>bilal<\/em>\u00a0tarawih.<\/p>\n<p><strong>5. Tim pukul bedug<\/strong><\/p>\n<p>Tim ini dibentuk berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat di antara komunitas anak-anak, sehingga di antara mereka memainkan peran yang berbeda dan tentu semuanya mendapatkan kesempatan untuk memukul bedug pada hari yang berlainan.<\/p>\n<p>Biasanya bedug ini berpasangan dengan kentrongan, 1 bedug dipukul oleh 1 anak-anak, dan 1 kentrongan bisa oleh 3 atau 4 anak-anak. Tidak kehabisan akal mereka yang belum jadwalnya, membawa kentongan pribadinya ke mushola agar mereka nggak nganggur-nganggur amat ketika waktu\u00a0<a href=\"https:\/\/alif.id\/read\/hamzah-sahal\/agamaku-dan-bedug-b204674p\/\"><em>nabeuh bedug<\/em><\/a>\u00a0(mukul bedug) tiba.<\/p>\n<p>Tim pukul bedug ini beroperasi setelah sang imam tarawih mengucapkan lafal niat puasa dengan para jamaah, ketika ketukan itu terdengar sesuai dengan aba-aba maka tim pukul dengan refleks dan seksama memukul bedug dan kentongan dan menghasilkan nada khasnya yang hanya bisa didengar di momentum Ramadan seperti ini.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"gtx-trans\" style=\"position: absolute; left: 541px; top: 754px;\">\n<div class=\"gtx-trans-icon\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak-anak, begitu riang gembira, gegap gempita, riuh, lunglai, dan lemas bersama teman sebaya menyambut siang demi siang, malam demi malam di bulan Ramadan.<\/p>\n","protected":false},"author":325,"featured_media":14743,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[382,53,3563],"class_list":["post-14741","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-anak-anak","tag-ramadan","tag-tipologi-aktifitas"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14741","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/325"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14741"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14741\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14743"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14741"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14741"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14741"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}