{"id":146457,"date":"2021-11-03T08:00:55","date_gmt":"2021-11-03T01:00:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=146457"},"modified":"2021-11-02T13:29:33","modified_gmt":"2021-11-02T06:29:33","slug":"yamet-kudashi-jerome-polin-dan-pembelajaran-bahasa-jepang-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yamet-kudashi-jerome-polin-dan-pembelajaran-bahasa-jepang-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Yamet Kudashi, Jerome Polin, dan Pembelajaran Bahasa Jepang di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu lagu \u201cY<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">amet Kudashi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d sempat viral di dunia maya. Kosakata ini sendiri merupakan plesetan dari bahasa Jepang \u201c<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yamete kudasai<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d yang berarti \u201ctolong hentikan\u201d. Mungkin tak banyak orang yang tahu asal mula kata ini, tetapi ada juga yang penasaran dari mana asal katanya. Menjelaskan artinya mungkin tak sulit, tetapi kalau membicarakan bagaimana konteks penggunaannya, ya panjang juga ceritanya. Selain urusan yamet-yamet, ternyata pembelajaran bahasa Jepang Indonesia sudah memiliki sejarah yang panjang, lho.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4>Perkara plesetan yamet kudashi dan konnijiwaaaa<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yamet kudashi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ara<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ara kimochii<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dari lagu yang sama memang berasal dari kosakata bahasa Jepang. Ketika tiba-tiba ditanya soal ini, sebenarnya nggak masalah untuk menjelaskan soal tata bahasanya. Namun, jadi ribet karena pikirannya jadi ke mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau ketika ditanya apa maksud &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sasageyo&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dari lagu &#8220;S<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">hinzou o Sasageyo&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">-nya OST<em> Attack on Titan<\/em>. Banyak OST anime maupun film Jepang yang sangat menarik perhatian orang awam untuk sekadar melirik lagu berbahasa Jepang atau menikmati juga animenya. Banyak, kok, orang yang tertarik lagu OST-nya dulu, baru kemudian nonton anime atau filmnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada juga olok-olok kalau membicarakan soal anime dan yang berbau Jepang, maka ia akan disebut sebagai seorang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">wibu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Padahal, menjadi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">otaku<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> maupun <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">wibu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ya nggak apa-apa juga, asal nggak halu dan berlebihan sampai merugikan orang lain, kan? Banyak juga yang tadinya suka anime, kemudian tertarik mempelajari bahasa ini lebih lanjut. Kemudian ada juga yang menjadikannya sebagai alat untuk mengais rezeki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">anime<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (animasi), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">manga<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (komik), dan drama\/film Jepang, tampaknya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jerome-polin-dan-waseda-boys-hanyalah-cerita-1-dalam-perkuliahan-di-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jerome Polin<\/a> juga memberikan warna tersendiri bagi para pembelajar bahasa Jepang di Indonesia. Meski tak secara khusus mengajarkan bahasa ini, orang bisa sedikit tahu dan belajar bahasa ini dengan menonton konten video YouTube-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata-kata seperti <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yabai<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (gawat\/parah), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sugoi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (keren\/ bagus), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">oishii<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (enak), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">meccha kakkoii <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">(keren banget), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">oshare<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (modis), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">onegaishimasu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (tolong), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kowai<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (takut), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">okashii<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (aneh), <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saikou<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> (mantap), dsb menjadi lebih mudah dihafal karena sering dipakai Jerome dan teman-temannya. Dalam videonya, ia juga membagikan kosakata baru bahasa Jepang agar mudah diingat penontonnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jerome sendiri dulu juga pernah membuat konten video khusus belajar bahasa Jepang, tetapi tak banyak orang menontonnya. Lagipula, konten begituan sudah banyak yang bikin. Setelah bertemu Waseda Boys, ia lebih sering membuat video kesehariannya dalam bahasa ini. Sebenarnya selain bahasa Jepang, kita juga bisa melihat budaya Jepang, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan orang Jepang, termasuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">unggah-ungguh<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan orang baru dikenalnya, cara memesan makan di restoran, dan berbelanja di supermarket.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mempelajari budaya juga menjadi paketan dalam mempelajari bahasa karena harus tahu bagaimana menyesuaikan konteks penggunaan bahasanya. Agak ribet sih, tetapi kenyataannya memang seperti itu kalau mempelajari bahasa asing. Ya, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelihaian dan kecakapan Jerome berinteraksi dengan orang Jepang di videonya juga membuat pembelajar bahasa ini lebih bersemangat lagi belajar. Seperti yang diketahui, Jerome yang sebelumnya belum pernah belajar bahasa Jepang ternyata bisa memiliki sertifikat kemampuan bahasa Jepang tertinggi, yakni level N1. Hal ini merupakan impian semua pembelajar bahasa ini. Dengan sertifikat ini, akan mudah sekali melamar pekerjaan dengan gaji tinggi di perusahaan Jepang karena konon katanya sudah dianggap menguasai bahasa Jepang secara lisan maupun tertulis. Mendapatkan sertifikat tersebut tentu tak mudah, karenanya pembelajar harus giat belajar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, karena Jerome ini pula, ketika mengajarkan salam selamat siang (<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">konnichiwa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">) dan selamat malam (<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">konbanwa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">) kepada anak yang baru belajar bahasa ini, ada juga yang refleks menjawab dengan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">konnijiwaaaa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">konbanjiwaaaa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Itu merupakan \u201cplesetan\u201d yang sering Jerome pakai untuk mengawali konten videonya. Waduh.<\/span><\/p>\n<h4>Pembelajaran bahasa Jepang di Indonesia<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mempelajari bahasa asing (selain bahasa Inggris) memang memiliki tantangan tersendiri. Selain bahasa Inggris sebagai bahasa asing wajib yang dipelajari sejak SD (kalau saya dulu sih SMP), bahasa Asia maupun Eropa lainnya tentu hanya menjadi pilihan opsional saja. Bahasa Mandarin, Korea, Spanyol, dan Jepang misalnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi sekarang memang tak separah belasan tahun lalu karena jumlah peminat bahasa ini sudah banyak dan semakin bertambah. Menurut data dari Japan Foundation, pembelajar bahasa ini di Indonesia menduduki urutan ke-2 di dunia setelah China dan terbanyak di Asia Tenggara, dengan total 709.477 orang pada tahun 2018. Setidaknya, ada 2.879 institusi yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa Jepang di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan utama pembelajar bahasa ini di Indonesia karena tertarik komik, anime, fashion, dll (66,0%), tertarik bahasa Jepang (61,4%), tertarik budaya Jepang (52,4%), studi di Jepang (46,7%), dan pekerjaan plus wisata (masing-masing 41,1%).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia sendiri, semakin banyak sekolah formal yang mengajarkan bahasa ini sebagai mata pelajaran bahasa asing wajib (semua siswa wajib mempelajarinya), pilihan wajib (semua siswa wajib memilih salah satu dari bahasa asing yang ditawarkan), maupun ekstrakurikuler (kegiatan di luar sekolah dan kadang bersifat pilihan). Kalau dulu sangat populer diajarkan bahasa Prancis dan Jerman, sekarang bahasa Jepang ikut meramaikan kancah pembelajaran bahasa asing lainnya, bersama bahasa Arab, Mandarin, dan Korea.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa kelas bahasa SMA misalnya, bahasa ini juga sudah menjadi bahasa asing yang wajib dipelajari. Beberapa SMK yang mewajibkan ada pelajaran bahasa asing pun, mulai melirik bahasa asing ini sebagai pilihannya karena prospek yang berhubungan dengan pekerjaan lulusannya nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain sekolah formal, jumlah LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) juga semakin bertambah. LPK ini menawarkan program belajar bahasa dan budaya kerja Jepang secara intensif sebagai bekal untuk bekerja di Jepang. Ada berbagai jenis pekerjaan yang ditawarkan di Jepang dan kita juga bisa melamarnya sendiri. Biasanya, perusahaan Jepang menginginkan calon karyawannya paham bahasa Jepang, setidaknya sampai level percakapan. Jadi, kalau kamu ingin bekerja di Jepang, sebaiknya belajar bahasa ini terlebih dahulu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tak mudah mempelajari bahasa asing, adanya anime, komik, drama, dan vlog YouTube dengan bahasa Jepang sangat membantu mempermudah pembelajar sekarang. Pembelajaran aspek bahasa (pendengaran, mengarang, membaca, berbicara) sekarang bisa mudah dilakukan dengan bantuan teknologi. Juga bisa dilakukan secara otodidak maupun dengan bantuan guru daring atau konten video pembelajaran. Membaca bisa juga dilakukan dengan membaca berita online berbahasa ini. Berbeda dengan belasan tahun silam, internet masih sangat terbilang mewah dan tak biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran kemajuan teknologi ini, tak heran kalau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yamet kudashi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ara-ara kimochi, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">konnijiwaa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi warna-warna tersendiri dalam pembelajaran bahasa Jepang di Indonesia. Tulisan huruf Jepang seperti dalam produk Erigo dan kemasan produk makanan\/minuman lainnya juga sangat membantu menarik perhatian. Bagaimana, tertarik belajar <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yamet<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">kudashi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan teman-temannya?<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/ct58n7B6WbI\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash.com<\/a><\/em><\/p>\n<h5><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ara-ara kimochiii~<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":148527,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[6526,2567,13930,13929],"class_list":["post-146457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-bahasa-jepang","tag-jerome-polin","tag-konnijiwaa","tag-yamet-kudashi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=146457"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/146457\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/148527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=146457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=146457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=146457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}