{"id":145715,"date":"2021-10-19T10:00:03","date_gmt":"2021-10-19T03:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=145715"},"modified":"2021-10-19T01:06:10","modified_gmt":"2021-10-18T18:06:10","slug":"kalau-temanmu-resign-tugasmu-hanya-memberi-semangat-nggak-usah-komentar-yang-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-temanmu-resign-tugasmu-hanya-memberi-semangat-nggak-usah-komentar-yang-lain\/","title":{"rendered":"Kalau Temanmu Resign, Tugasmu Hanya Memberi Semangat, Nggak Usah Komentar yang Lain"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga bulan lalu saya mengundurkan diri dari perusahaan tempat saya bekerja selama hampir delapan tahun lamanya. Sudah dapat yang lebih baik? Ya belum. Lha kok berani? Ini rencana yang sudah saya pikirkan jauh sebelum pagebluk datang. Namun, seperti kebanyakan karyawan yang mengeluh tiap hari, resign tak jadi-jadi, tanpa terasa sudah hampir delapan tahun saya masih berada di tempat yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan saja titik puncak saya-tidak-bisa-bertahan-lebih-lama-lagi makin meruncing di tengah kondisi yang serba susah ini. Saya harus mengambil tindakan, walau penuh pertaruhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai cara saya lakukan jauh sebelum keputusan resign diambil. Wawancara pekerjaan sana sini belum ada yang klik. Berkali-kali melamar beasiswa <a href=\"https:\/\/www.beasiswapascasarjana.com\/2015\/03\/beasiswa-s2-2015-2016-lihat-peluangnya.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">S2,<\/a> berkali-kali juga ditolak. Yang terakhir membangun kios makanan di depan minimarket dan sekolah, eh pagebluk menyerang. Akhirnya, tutup juga. Saya sebenarnya memiliki usaha yang sudah dibangun dari masih berkuliah. Bapak saya hanya mendukung jika saya menjadi pekerja kantoran, bisnis saya itu berakhir menjadi usaha sampingan. Beralasan ingin fokus ke usaha yang sudah ada dan berbekal uang tabungan inilah, saya memutuskan untuk memulai perjalanan baru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan resign memancing berbagai respons. Tiba-tiba saja banyak yang ikut memberi masukkan dan saran tanpa diminta. Tidak semua respons menyenangkan. Ada respons-respons yang sebenarnya lebih baik disimpan sendiri saja daripada memadamkan mimpi orang.<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cNggak sayang?\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya bertanya begini untuk apa sih? Supaya orang yang sudah mantap dengan keputusannya jadi galau bahkan menyesal?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan adalah keputusan yang besar. Sebelum akhirnya sampai pada keputusan itu, pertanyaan yang sama sudah ditanyakan oleh dan ke diri sendiri. Banyak sekali yang perlu dipertimbangkan, mungkin sampai sedikit makan dan sulit tidur karena takut dan cemas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Temanmu itu hampir pasti sudah memikirkan secara matang persoalan sayang atau tidak dan persiapan ke depannya. Nggak bisa didukung saja begitu? Misal, \u201cSemangat ya! Apapun keputusan Kamu pasti yang terbaik\u201d. Lagian sayang itu kan nggak selalu harus bersama. Ya lain halnya kalau teman kamu yang resign itu ternyata masih meninggalkan utang. Wajar kalau kamu bertanya, \u201cNggak sayang? Nanti bayar hutangmu bagaimana?\u201d Kenyataannya waktu saya resign tempo hari, yang bertanya \u201cnggak sayang\u201d justru yang masih mengutang ke saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Berkomentar skeptis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan umum saat resign biasanya adalah mau pindah ke mana. Untuk kasus saya, jawabannya mau fokus di bisnis dulu. Salah seorang teman yang belum pernah merintis bisnis, langsung menasihati panjang lebar bahwa seharusnya memulai bisnis dilakukan selama masih menjadi pekerja kantoran. Sehingga, saat waktunya resign, bisnis tersebut setidaknya sudah berjalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya betul juga sih, bisnis saya sudah saya bangun bahkan sebelum menjadi pekerja kantoran. Dan sekarang, saya ingin fokus mengembangkannya. Mendengar itu, teman saya bilang lagi, bahwa bisnis bisa saja jatuh di tengah situasi pagebluk seperti ini. Ya benar, memang bisnis saya menurun tetapi masih berjalan setidaknya bisa pegangan selama 1-2 tahun ke depan dan saya optimis bisa tumbuh setelah keadaan membaik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun jika gagal, toh saya tidak penasaran lagi, mungkin malah menambah pengalaman. Begitulah kemudian dia terus menerus melempar pertanyaan yang skeptis. Saya tahu niat blio baik sekali, sungguh perhatian. Padahal blio cukup merespons \u201csemoga lancar dan sukses ya bisnisnya\u201d. Jangan sampai kamu begitu lho ya ke teman kamu yang resign. Malah terkesannya kamu iri karena belum lulus dari kantormu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kata Mba Jen Sincero di bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u200b\u200bYou Are a Badass: How to Stop Doubting Your Greatness and Start Living an Awesome Life<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, walaupun bertujuan memberikan perhatian, orang seringkali meletakkan kekhawatirannya kepada orang lain yang berani meninggalkan zona nyamannya karena dirinya sendiri belum tentu bisa melakukan itu.<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cMasih mau ngantor kan?\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru saja saya mendapat pesan WhatsApp dari seorang teman. Kalimatnya, \u201cMasih mau ngantor kan?\u201d, diakhiri dengan emoji menyeringai seperti takut menyinggung saya. Belakangan ketahuan itu hanya pembuka dirinya ingin menawarkan lowongan pekerjaan di kantornya. Baik sekali teman saya itu, walau kalimat pembukanya sempat membuat saya mengingat-ingat apa dia yang selama ini membiayai saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau teman kamu yang resign itu nggak kunjung terlihat kembali menjadi pekerja kantoran, biarin aja. Bertanya seperti itu terkesan temanmu itu adalah manusia tanpa kesibukan yang hidupnya hanya bergantung, bahkan menyusahkan orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi dia tidak kembali menjadi pekerja kantoran karena sedang menjalani rencana yang sudah lama ia susun. Kan lebih enak kalau kalimatmu \u201cSedang sibuk apa? Di kantorku ada lowongan di posisi A, Kamu tertarik?\u201d Lagian kerja itu nggak melulu kantoran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya orang-orang semacam itu jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Saya bersyukur lebih banyak orang di sekitar saya yang mendukung. Walau keputusan saya sangat tidak masuk akal untuk di masa sekarang. Bisa jadi juga hanya basa-basi, memberikan semangat sebagai formalitas bagian dari syarat pertemanan yang baik. Setidaknya saya atau teman kamu yang resign itu tetap yakin mengejar rencananya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya pun nanti di tengah jalan terhenti entah karena gagal atau lain hal, bukan karena kata-katamu. Melainkan karena ada proses yang harus dilalui dan pengalaman sedang mengajarkan temanmu sesuatu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri\u201d kalau katanya Paulo Coelho di buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Alchemist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Jalan yang temanmu ambil itu bukan urusanmu, kecuali konsekuensinya menyenggol hidup kamu. Terbiasalah mengucapkan selamat kepada teman yang resign atas keberaniannya mengambil keputusan yang sulit tanpa menghakimi, apalagi menyayangkan.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diem aja klean udah.<\/p>\n","protected":false},"author":1663,"featured_media":33027,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12911],"tags":[101,3305,1068,602],"class_list":["post-145715","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-bisnis","tag-komentar","tag-resign","tag-wirausaha"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145715","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1663"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=145715"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145715\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=145715"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=145715"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=145715"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}