{"id":145510,"date":"2021-10-18T10:00:04","date_gmt":"2021-10-18T03:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=145510"},"modified":"2021-10-18T07:47:33","modified_gmt":"2021-10-18T00:47:33","slug":"orang-yang-ngantuk-pas-nonton-film-dune-pasti-kapasitas-otaknya-pas-pasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-yang-ngantuk-pas-nonton-film-dune-pasti-kapasitas-otaknya-pas-pasan\/","title":{"rendered":"Orang yang Ngantuk Pas Nonton Film Dune Pasti Kapasitas Otaknya Pas-pasan"},"content":{"rendered":"<p>Durasi film <em>Dune<\/em> 2021 ini hampir tiga jam dan memiliki tempo yang sangat lambat, pun minim aksi. Dengan kondisi seperti itu, wajar jika banyak yang bosen, ngantuk, tidur, atau malah nggak kuat dan keluar studio.<\/p>\n<p>Buat mereka yang ngantuk nonton <em>Dune<\/em>, saya sungguh merasa kasihan karena kalian ketipu sama trailernya! Wong di trailer film ini yang ditampilkan bagian-bagian aksi yang megah, eh begitu nonton langsung, lebih banyak ngobrol ketimbang gelut dan tembak-tembakan. Saya yakin pasti dari mereka yang ngantuk pas nonton <em>Dune<\/em> mbatin, \u201cIki film opo, sih? Kebanyakan dialog, nggak gelut-gelut padahal setting-nya sudah kayak <em>StarWars<\/em> gitu!\u201d<\/p>\n<p>Masalahnya gini, banyak yang berharap bahwa <em>Dune<\/em> akan menjadi <em>StarWars<\/em>, padahal kenyataannya adalah <em>StarWars<\/em> yang menjadi <em>Dune<\/em>. Melansir <a href=\"https:\/\/www.forbes.com\/sites\/erikkain\/2020\/09\/09\/the-first-dune-trailer-puts-the-star-wars-sequels-to-shame\/?sh=1ac2c4b9521a\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Forbes, <\/a><em>Dune<\/em> adalah inspirasi George Lucas untuk <em>StarWars<\/em>.<\/p>\n<p>Novel <em>Dune<\/em> rilis pada 1965 dan menjadi sangat populer pada masanya. Dua belas tahun kemudian, film pertama <em>StarWars<\/em> tayang di bioskop dengan segala konsep yang mirip dengan <em>Dune<\/em>.<\/p>\n<p>Mulai dari konsep kekaisaran, sekelompok orang dengan kemampuan sihir (<em>Dune<\/em> memiliki Bene Gesserit dengan kemampuan mengendalikan orang lain yang disebut The Voice, dan <em>StarWars<\/em> memiliki Jedi dengan The Force mereka), dan tokoh utama yang berjuluk The One (makanya jangan heran kalau lihat Paul Atreides itu mirip-mirip Luke Skywalker). Bahkan, Frank Herbet, pengarang <em>Dune<\/em>, sempat mangkel sama Lucas yang kayak terang-terangan banget njiplak konsepnya.<\/p>\n<p>Bedanya, <em>StarWars<\/em> dibikin lebih banyak aksi sehingga mudah untuk disukai orang ketimbang <em>Dune<\/em>. Cerita di semesta <em>Dune<\/em> bisa dibilang lebih dalam ketimbang <em>StarWars<\/em>.<\/p>\n<p>Dalam <em>Dune<\/em>, kita bisa melihat betapa orang Fremen, penghuni asli planet Arrakis yang sepenuhnya gurun, adalah orang yang sangat beragama. Mereka yang terjajah oleh para penguasa dari kekaisaran selalu percaya bahwa suatu saat akan datang Lisan al-Gaib, atau Suara dari Dunia Luar, atau kadang juga disebut Mahdi, yang akan membantu mereka lepas dari kesengsaraan.<\/p>\n<p>Maka dari itu, ketika Paul Atreides, tokoh utama di serial <em>Dune<\/em> yang merupakan putra dari pemimpin House of Atreides datang pertama kali ke Arrakis, orang-orang Fremen berkumpul dan memanggilnya dengan istilah Lisan al-Gaib. Pasalnya mereka percaya Paul adalah sosok yang akan membebaskan mereka. Nabi mereka.<\/p>\n<p>Yo wis lah, kalau emang mau tetep dibandingin sama <em>StarWars<\/em>, anggap saja <em>Dune<\/em> ini adalah <em>StarWars<\/em> versi Syariah karena lekat dengan nilai-nilai keagamaan. Kurang syariah apalagi kalo sudah nyebut-nyebut Mahdi, Sayyidina, Lisan al-Ghaib, setting-nya kayak di timur tengah, ada pohon kurma, orang-orang berzikir pake tasbih, dan membawa-bawa kenabian?<\/p>\n<p>Selain <em>StarWars<\/em> Syariah, konon ada yang bilang kalo <em>Dune<\/em> itu mirip <em>Game of Thrones,<\/em> mulai dari konsep keluarga bangsawan sampai garis besar yang terjadi di <em>Dune<\/em> mirip apa yang terjadi di musim pertama serial TV <em>Game of Thrones<\/em>.<\/p>\n<p>Di <em>Game of Thrones<\/em>, Ned Stark harus ke Selatan untuk berkuasa, tapi berakhir celaka. Dune juga seperti itu. Leto Atreides, pemimpin House of Atreides, harus ke Arrakis untuk berkuasa, dan berakhir celaka juga. Kayak menjiplak <em>Game of Thrones<\/em> banget? Nggak lah, wong <em>Dune<\/em> terbit jauh sebelum novel <em>Game of Thrones<\/em> terbit.<\/p>\n<p>Lagi-lagi yang terjadi adalah kebalikannya. Banyak anggapan bahwa novel seri <em>A Song of Ice and Fire,<\/em> yang lebih dikenal dengan seri <em>Game of Thrones,<\/em> terinspirasi dari konsep <em>Dune<\/em>. Saking kompleksnya <em>Dune<\/em>, antara politik, agama, sains, dan mistisme, sampai-sampai menginspirasi banyak serial populer yang ironisnya lebih dulu sukses dan digandrungi banyak orang.<\/p>\n<p>Makanya, kalau kemudian film <em>Dune<\/em> 2021 ini menjadi lambat dan banyak ngobrolnya, ya karena emang banyak yang harus dijelaskan biar nggak pada bingung. Film berdurasi 2 jam 35 menit itu sukses menampilkan semesta <em>Dune<\/em> yang megah, penuh intrik politik, mistis, canggih, dan tentu saja memanjakan mata penonton dengan sinematografi super dahsyat itu.<\/p>\n<p>Saya bisa ngeri pas melihat sekumpulan Bene Gesserit yang berpakaian serba hitam itu berkumpul. Saya bisa takjub dengan bentangan gurun pasir yang membentang di Arrakis. Saya bisa deg-degan sewaktu cacing gurun super guedeee itu muncul dan mencaplok mesin penambang di gurun. Ah, pokoknya pembangunan semesta <em>Dune<\/em> super sukses di film ini sehingga saya memilih untuk nggak nggubris film <em>Dune<\/em> pada 1984 yang super ngaco itu.<\/p>\n<p>Ditambah lagi sama musik dari Hans Zimmer, walah, udah kelar itu. Musik Hans Zimmer dan sinematografi ciamik nggak pernah bisa salah. Kok, bisa-bisanya bilang Dune bikin ngantuk dengan segala keindahan itu? Oh iya, katanya yang bikin ngantuk juga karena terlalu banyak karakter yang ada, jadinya bingung ngenalin satu sama lain.<\/p>\n<p>Ya gimana ya, wong semestanya aja luas, jadinya ya wajar kalo karakternya banyak. Dan sebagai film pertama, sebenarnya wajar kalau penonton nggak langsung apal mana si ini dan mana si itu. Emangnya kalian langsung apal semua karakter di <em>Game of Thrones<\/em> musim pertama pas pertama kali nonton? Nggak, kan? Ya, <em>Dune<\/em> juga gitu, perlu waktu untuk memahami karakter yang ada, meski sayangnya<strong> (spoiler)<\/strong> banyak yang keburu meninggal.<\/p>\n<p>Untungnya, sang sutradara yakni Denis Villeneuve, menggandeng artis-artis top di Hollywood untuk jajaran pemeran film ini. Sebut saja Josh Brolin yang memerankan Thanos. Ada Dave Bautista yang memerankan Drax, ada pula Jason Momoa yang jadi Aquaman, ada Zendaya yang jadi MJ di trilogy <em>Spiderman Homecoming,<\/em> dan masih banyak lagi. Timothee Chalamet nggak usah disebut lah, ya. Ya kali ada yang nggak bisa nginget tokoh utama di film ini.<\/p>\n<p>Nah, jajaran pemain yang sudah sering kita lihat itu bikin mudah buat kenal sama karakter mereka. Misal pas ada yang nyebut nama Gruney, pasti langsung mikir, \u201cOh si Thanos.\u201d Atau pas nyebut Duncan, langsung kepikir \u201cOh, Akuamen.\u201d Dan seterusnya. Maka dari itu, kalau ada yang bilang kebanyakan karakter dan susah ngapalin, kayaknya alasan itu nggak berdasar deh, kecuali emang saking nggak ngikuti dunia film dekade ini.<\/p>\n<p>Kalau kalian ngantuk dan bosen nontonnya, saya bisa nebak pasti kalian juga nggak demen sama film keren kayak <em>Interstellar, Arrival, The Shape of Water,<\/em> atau film-film nominasi Oscar gitu, lah. Secara, sudah pasti sih <em>Dune<\/em> bakal dapet banyak nominasi Oscar nanti.<\/p>\n<p>Kalau emang Anda sukanya film aksi jedar jedor, ngapain juga memaksa nonton <em>Dune<\/em>? Ini film baru part 1 saja, belum merangkum novel pertama Dune sepenuhnya. Masih ada part lanjutannya. Nanti, kalau filmnya bisa mayan sukses, bakal lanjut ke novel kedua yang judulnya <em>Messiah<\/em>. Kalau sukses lagi, bakal lanjut ke semua novel. Total ada enam novel.<\/p>\n<p>Nah, mampus nggak kalian yang sok-sokan mau ngikutin <em>Dune<\/em> dengan kapasitas kepala pas-pasan? Sana nonton <em>Shang-Chi<\/em> aja.<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=1EI-UrAweXE\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">YouTube Smasher<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anda pusing dan ngantuk? Skip aja. <\/p>\n","protected":false},"author":702,"featured_media":145535,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[13780,49,13098,13781],"class_list":["post-145510","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-dune","tag-game-of-thrones","tag-pilihan-redaksi","tag-starwars"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145510","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/702"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=145510"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/145510\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/145535"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=145510"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=145510"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=145510"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}