{"id":14549,"date":"2019-09-24T12:00:56","date_gmt":"2019-09-24T05:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=14549"},"modified":"2022-02-25T13:57:05","modified_gmt":"2022-02-25T06:57:05","slug":"bagi-yang-ikut-demo-semangat-buat-yang-nggak-ikut-demo-nggak-boleh-ngata-ngatain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-yang-ikut-demo-semangat-buat-yang-nggak-ikut-demo-nggak-boleh-ngata-ngatain\/","title":{"rendered":"Bagi yang Ikut Demo Semangat, Buat yang Nggak Ikut Demo Nggak Boleh Ngata-ngatain"},"content":{"rendered":"<p>Hari Senin 23 September 2019 mahasiswa bersama masyarakat ramai-ramai <a href=\"https:\/\/tirto.id\/demo-jogja-hari-ini-mahasiswa-turun-aksi-meski-tak-didukung-kampus-eizH\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">turun ke jalanan<\/a> dan memenuhi sekitaran gedung DPRD dengan lautan manusia. Mereka semua menyuarakan tuntutan untuk menolak RUU KUHP dan Revisi UU KPK. Tagar \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/daf\/esai\/halo-buzzer-jokowi-sori-ya-aksi-gejayan-memanggil-tak-sesuai-harapan-kalian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gejayan Memanggil<\/a>\u201d dan \u201cMosi Tidak Percaya\u201d itu pun sukses mengguggah semangat membara dari mahasiswa lain untuk ikut andil dalam sejarah untuk mengikuti aksi tersebut.<\/p>\n<p>Saya sendiri pun sudah geram dan panas sejak adanya isu RUU KUHP dan Revisi UU KPK, sayang saya tidak dapat mengikuti aksi hari itu karena menjadi asisten dosen. Sungguh, ada beban moral tersendiri rasanya.<\/p>\n<p>Saya baru sadar setelah dua dari empat setengah jam saya harus berada di kelas, kalau adek tingkat yang saya dampingi itu ada yang tidak masuk. Saya mencari di kolom <em>chat<\/em>, takut-takut dia izin tidak masuk dan mungkin <em>chatnya<\/em> tenggelam. Tiba-tiba ketua kelas menyeletuk kepada saya, \u201c<em>Mbak, tak pikir sampean ndak ngasdos-i kita<\/em>.\u201d Saya mengerutkan dahi yang dalam imajinasi saya kerutan itu membentuk tanda tanya segede-gede gaban. Kemudian dia menambahi, \u201c<em>tak pikir sampean ikut aksi<\/em>.\u201d<\/p>\n<p><em>Maaakjleeeeb<\/em> rasanya, cuma saya ketawai saja itu adek tingkat yang sudah genit ke saya sejak jadi asdos di kelasnya. Lalu, dia menambahi, \u201cSyukron (temannya) loh Mbak nggak masuk hari ini, katanya ikut aksi.\u201d<\/p>\n<p><em>Kuaamppreettt!\u00a0<\/em>Saya bela-belain masuk demi mendampingi mereka, lah kok nggak masuk dan ikut aksi. Tidak masalah sih, jujur di dalam lubuk hati saya, saya malah iri sama si Syukron yang bisa ikut aksi. <em>huhu<\/em> Meskipun si Syukron nggak masuk kelas tanpa izin dan ketinggalan materi kuliah hari itu, dia sudah jadi sejarah dalam perjuangan. Saya jadi makin iri.<\/p>\n<p>Saya duduk di belakang, memperhatikan dosen yang memberikan penerangan materi sambil nyuri-nyuri pegang <em>handphone<\/em>, ingin tahu kabar kawan-kawan saya yang sedang berjuang. Tak lama dosen duduk di samping saya. Saya buru-buru matikan <em>handphone<\/em>. Sebenarnya sih dosen tidak melarang saya untuk buka <em>handphone<\/em>, saya saja yang sungkan. Sambil menunggu adek-adek tingkat saya berdiskusi dan di tengah dosen saya yang coret-coret makalah, saya ajak dosen basa-basi mengenai aksi demo hari itu dengan menggunakan si Syukron yang tidak masuk sebagai bahan. <em>hehe<\/em><\/p>\n<p>\u201c<em>Kok bisa i lo<\/em> nggak masuk kuliah karena ikut demo. Nggak izin pula,\u201d timpal dosen saya. Aduh, di situ kok saya merasa berdosa, harusnya saya nggak menggunakan Syukron sebagai bahan. Toh, dosen nggak tau kalau Syukron nggak masuk hari itu.<\/p>\n<p>\u201cBoleh-boleh aja sih ikut demo, saya nggak melarang, mau ambil jatah nggak masuk kuliah juga nggak apa-apa. Itu kan haknya. Tapi kenapa kok sampek nggak izin saya?\u201d tambahnya. <em>Uhhh<\/em>, saya lega. Nggak jadi merasa berdosa saya menggunakan Syukron sebagai bahan dasar perbincangan saya. <em>hehe<\/em>. Lain kali saya harus hati-hati dalam memulai perbincangan.<\/p>\n<p>Ya sudah perbincangan jadi mulai melunak dan dosen saya malah bertanya setelah itu, \u201cmemang demonya itu tentang apa sih Mbak?\u201d <em>Beuuhh<\/em> mendengar itu dengan semangat 45 dan berapi-api saya menginformasikan ke dosen saya dan beliau manggut-manggut, dengan mikroekspresi yang saya tangkap, saya rasa beliau mulai tertarik. \u201cIya sih Mbak, saya emang belum baca berita akhir-akhir ini.\u201d Sambil kemudian meraih laptopnya dan membuka laman <em>browsing<\/em>, menyuruh saya memberitahu berita-berita mana yang harus beliau baca.<\/p>\n<p>Selesai menjalani hampir setengah hari saya menjadi asdos, saya buru-buru ke kantin karena sudah lemas, baru ingat kemarin seharian hanya mengonsumsi sebotol air mineral dan sebungkus jajanan kentang sebab sibuk mendengarkan curhat teman-teman saya yang sedang <em>ambyar<\/em>. Saya memang begitu, suka lupa makan. Tentu mas pacar akan menasehati kalau tahu saya tidak makan, padahal dia setiap waktu mengingatkan. Dan juga mungkin teman saya akan datang membawakan makanan kalau tahu saya sedang proletar sehingga tidak makan, padahal dia juga sering mengingatkan, tapi tentu saja saya tidak mau merepotkan. <em>Eh<\/em>, bahas apa sih ini? <em>Lanjut~<\/em><\/p>\n<p>Jadi saya makan di kantin, tidak sengaja bertemu teman-teman saya yang sekarang sudah beda kelas peminatan. Salah satu dari mereka adalah anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA). Kali itu, kami tidak <em>mengghibah<\/em> seperti biasanya. Kami mengobrol tentang aksi demo yang sedang berlangsung di depan gedung DPRD. Kami jadi saling bertukar informasi dan berdiskusi ringan.<\/p>\n<p>Selesai makan, seperti perkumpulan biasanya, kami saling sibuk membuka <em>handphone<\/em>, cek media sosial. Ya Tuhan! Ramenya netizen. Bukannya mengulas tentang RUU KUHP dan Revisi UU KPK, mereka malah meributkan dan membagi kubu menjadi yang ikut demo dan yang tidak ikut demo. Kurang lebih netizen mengungkapkan bahwa, ngapain sih mahasiswa demo-demo sampe bolos kuliah gitu, mending kuliah yang bener, biar jadi orang bener terus bisa menata negara.<\/p>\n<p>Duh, kelamaan! Masalahnya tuh <em>urgent<\/em> sekarang, nggak bisa nanti-nanti. Nungguin lu pada jadi orang bener keburu ketok palu, ancur nih negara. Lu pikir siapa yang bikin penguasa 32 tahun lengser kalau bukan mahasiswa yang demo? Udah deh, kalau lu nggak mau, nggak bisa ikut demo diem bae nggak usah bacot. Kesel deh. Nggak bisa bantu, <em>bacot terooss!<\/em> Eh, lupa netizen kan Maha Benar atas segala kebacotannya. <em>Hiyaa hiyaa! Maap deh kalau gitu~<\/em><\/p>\n<p>Begitu ya teman-teman. Mungkin yang masih nggak paham kenapa mahasiswa dan masyarakat turun ke jalanan harus melek politik dulu, baca-baca berita dulu, biar ngerti, dan kalau bisa ikut aksi juga. Kalau pun nggak bisa ikut aksi karena punya tanggung jawab lain\u2014seperti saya ini, ya nggak apa-apa, paling nggak ajak orang-orang sekitar Anda basi-basi atau diskusi ringan biar mereka juga pada tahu, pada ngerti kalau Indonesia sedang tidak baik-baik saja.<\/p>\n<p>Semangat untuk teman-teman saya yang ikut demo! Yang nggak ikut demo, nggak boleh ngata-ngatain. (*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seberapa-kontroversial-pasal-rkuhp-yang-mengundang-kontroversi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Seberapa Kontroversial Pasal-pasal RUU KUHP yang Mengundang Kontroversi?<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/mita-berliana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mita Berliana<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cBoleh-boleh aja sih ikut demo, saya nggak larang, mau ambil jatah nggak masuk kuliah juga nggak apa-apa. Itu haknya. Tapi kenapa sampek nggak izin saya?\u201d<\/p>\n","protected":false},"author":205,"featured_media":14600,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[3532,3287,278,34],"class_list":["post-14549","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gejayanmemanggil","tag-aksi","tag-demo","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14549","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/205"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14549"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14549\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14600"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14549"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14549"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14549"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}