{"id":14499,"date":"2019-09-24T11:30:40","date_gmt":"2019-09-24T04:30:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=14499"},"modified":"2022-02-25T14:02:42","modified_gmt":"2022-02-25T07:02:42","slug":"jadilah-society-of-spectacle-yang-baik-dan-tidak-meresahkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadilah-society-of-spectacle-yang-baik-dan-tidak-meresahkan\/","title":{"rendered":"Jadilah Society of Spectacle yang Baik dan Tidak Meresahkan"},"content":{"rendered":"<p>Kita mungkin sadar\u2014atau bisa jadi tidak\u2014kalau setiap hari kita sedang bermain di atas panggung dan mempertontonkan diri kita kepada semua orang. <em>This is me<\/em>. Kita berlomba-lomba menunjukkan <em>the best (or even the worst) version of ourselves <\/em>untuk dikonsumsi oleh orang lain. <em>I try to make this as simple as possible <\/em>untuk mengenal sebuah konsep\u2014yang bahkan saya baru sadar bahwa ada konsep yang membahas ini\u2014bernama <em>Society of Spectacle <\/em>atau masyarakat tontonan<em>.<\/em><\/p>\n<p>Saya baru berkenalan dengan <em>Society of Spectacle <\/em>ini saat belajar di mata kuliah Budaya Populer\u2014<em>one of my favorite<\/em> <em>lessons in college<\/em>\u2014di tahun ketiga saya berkuliah. Sejujurnya semua topik yang saya pelajari di mata kuliah ini berkaitan satu sama lain, namun saya di sini bukan mau menjadi <em>dosen <\/em>untuk para pembaca saya. Saya hanya ingin berbagi sedikit mengenai salah satu konsep yang sudah saya buka tadi karena, bagi saya, <em>Society of Spectacle <\/em>ini sangat dekat dengan kehidupan kita semua.<\/p>\n<p>Guy Ernest Debort, sang pelopor, pada awalnya membuat konsep ini sebagai bentuk kritik terhadap masyarakat modern <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sebut-indonesia-kapitalis-liberal-surya-paloh-kritik-jokowi-egk8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">kapitalis<\/a> alias masyarakat tontonan. Bagi Debort, segala bentuk kehidupan manusia itu adalah akumulasi dari tontonan yang pada akhirnya bertransformasi menjadi representasi. <em>Bingung<\/em>? Baiklah, saya akan membahasnya dengan sesuatu yang <em>relate <\/em>dengan kita.<\/p>\n<p>Jadi, beberapa hari lalu, saya melihat tulisan seseorang di media <em>online <\/em>semacam Terminal Mojok yang membahas tentang bagaimana orang-orang sebenarnya memanfaatkan Instastory<em>\u00a0<\/em>di media sosial Instagram untuk menunjukkan siapa dirinya, seperti salah satunya nge-<em>capture <\/em>layar Spotify dan mengunggahnya di Instagram <em>story<\/em> agar orang-orang tahu selera musik dia\u2014<em>baiklah, untuk yang ini agak menyentil saya yang pernah melakukannya meski tidak dengan tujuan agar orang-orang tahu selera musik saya<\/em>. Namun, tak bisa dipungkiri, begitulah sebenarnya yang terjadi\u2014setidaknya menurut konsep Debort.<\/p>\n<p>Sebenarnya, inti dari semua yang dibahas oleh penulis itu adalah bahwa semua kita adalah bagian dari pelaku <em>Society of Spectacle<\/em>\u2014terima nggak terima, yah memang gitu. Apapun tujuannya, kita sedang menjadi tokoh di atas panggung kita dan mempertontonkannya di hadapan banyak orang. Bahkan, lebih dari itu, semua prosesnya akan berakhir menjadi <em>appearing<\/em>. Konsep <em>appearance <\/em>ini tak jauh dari kata <em>spectacle <\/em>alias tontonan.<\/p>\n<p>Media sosial telah memberi ruang dengan menyediakan panggung yang baik untuk mewujudkan peran kita di atasnya. Konsep <em>Society of Spectacle <\/em>mungkin akan kerap dikenal dengan pamer dan menunjukkan citra diri.<\/p>\n<p>Setelah bangun dari tidur di pagi hari, hal yang pertama kali dilakukan, biasanya, membuka ponsel pintar. Membuka satu persatu <em>stories <\/em>di Instagram. Melihat kegiatan teman-teman maya kita yang tentunya sedang mereka pertontonkan. Tak mau kalah, kitapun mungkin akan melakukan hal-hal yang ingin mereka konsumsi\u2014memfoto selimut dengan latar lampu <em>warm white <\/em>kelap-kelip yang menempel di tembok dengan <em>caption <\/em>\u201cGood morning, World\u201d.<\/p>\n<p>Lalu, bergegas mandi dan sampailah di momen di mana kita merasa bingung dengan padanan <em>outfit <\/em>yang akan kita pakai hari ini, merasa \u2018tak punya\u2019 baju dan pada akhirnya memutuskan memakai pakaian beberapa hari yang lalu di tempat yang berbeda, pikir kita a<em>h, tak ada yang tau aku pernah pakai ini<\/em>. Memilih dengan cermat warna baju, jenis sepatu dan tas, juga gaya rambut yang ingin ditampilkan dengan tujuan yang terselubung maupun yang terpampang. Huh, dasar kita <em>Society of Spectacle.<\/em><\/p>\n<p>Di kendaraan umum, membaca buku atau mendengarkan musik untuk membuang jenuh. Lalu, turun dari kendaraan umum dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan mereka. Lagi-lagi <em>Society of Spectacle.<\/em><\/p>\n<p>Di kampus, bertanya saat dosen memberi kesempatan untuk bertanya, diam saat berdiskusi, maupun rajin mencatat. Lalu setelahnya, pulang ke tempat kos atau lanjut berkumpul dengan teman-teman organisasi membahas proker atau rapat. <em>Society of Spectacle<\/em>? Sepertinya begitu.<\/p>\n<p>Bosen. Buka-buka galeri ponsel, nemu foto <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/komen\/versus\/istilah-lawas-bikin-confuse-dari-tustel-hingga-potlot\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">jadul<\/a> yang cantik. Pakai baju merek X, sepatu merek Y, di tempat makan merek Z. Bikin <em>caption <\/em>unik dan menarik perhatian. <em>Upload. <\/em>Yap, jadilah masyarakat tontonan.<\/p>\n<p>Sebelum pulang, nonton film baru. Foto tiket dan <em>upload<\/em>. Kasih ulasan dan jumlah bintang. Atau bahkan mengunggah cuplikan film di bioskop\u2014duh, yang ini nggak banget, tolong. Si masyarakat tontonan.<\/p>\n<p>Malam hari, sebelum tidur berbagi <em>news of the day<\/em> di Indonesia hingga luar negeri atau <em>quotes <\/em>dari orang terkenal di <em>Insta stories <\/em>atau <em>Twitter<\/em>. Baca buku dan dicekrek untuk, lagi-lagi, di-<em>share <\/em>di media sosial. Hm, ya tentu bagian dari masyarakat tontonan.<\/p>\n<p>Jadi, sadar nggak sadar, setiap hari kita sedang <em>show up <\/em>diri kita ke seluruh dunia, entah dengan tujuan apapun itu. Kita membiarkan diri kita dikonsumsi orang lain tanpa kita resah dan keberatan. Tidak ada yang salah dengan konsep <em>Society of Spectacle<\/em> ini, tapi cobalah untuk tidak mengganggu ruang publik dengan mempertontonkan hal-hal yang tak semestinya. Semua orang bebas menunjukkan siapa dirinya, tapi caranya juga harus baik dan benar\u2014tidak mencemari dan meresahkan para penonton lain.\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA <a class=\"bump-view\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/contoh-pertanyaan-interview-kerja-yang-sering-muncul-dan-tips-menjawabnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-bump-view=\"tp\">Contoh Pertanyaan Interview Kerja yang Sering Muncul dan Tips Menjawabnya<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rode-sidauruk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rode Sidauruk<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya baru berkenalan dengan Society of Spectacle ini saat belajar di mata kuliah Budaya Populer di tahun ketiga saya berkuliah.<\/p>\n","protected":false},"author":220,"featured_media":14578,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[401,436,34,102,3534],"class_list":["post-14499","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kritik-sosial","tag-kuliah","tag-mahasiswa","tag-media-sosial","tag-society-of-spectacle"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14499","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/220"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14499"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14499\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14578"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14499"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14499"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14499"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}