{"id":144910,"date":"2021-10-14T14:00:05","date_gmt":"2021-10-14T07:00:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=144910"},"modified":"2021-10-14T01:29:27","modified_gmt":"2021-10-13T18:29:27","slug":"jagabaya-tunabrata-dan-kemarahan-yang-sia-sia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jagabaya-tunabrata-dan-kemarahan-yang-sia-sia\/","title":{"rendered":"Jagabaya Tunabrata dan Kemarahan yang Sia-sia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kaum jagabaya ini sedang ada di fase lupa akan jati dirinya. Lupa akan hakikat tugas dan amanah dari rakyat yang yang ditaruh di pundak mereka. <\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMinum dulu, Kin.\u201d Kanapi mengulurkan botol kaca bekas sirup yang diisi air putih dari kulkas. Dengan cepat Solikin menyambar dan lantas menenggaknya. Hampir setengah botol ia tandaskan, tapi dadanya masih tampak naik-turun, nafasnya sedikit terengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni dibakar dulu sebatang, biar nggak kemerungsung lagi, Kin.\u201d Goda Pardi diiringi lemparan sekotak rokok. Menyaksikan pemandangan itu, Cak Narto yang masih bertudung sarung hanya cekikikan di atas jok motornya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari selepas isya sampai menjelang warung Yu Marmi tutup, perdebatan penuh nuansa kemarahan, belum juga usai. Melihat itu Kanapi mengajak forum untuk bergeser ke depan bengkelnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSampean jangan cuma prengas-prenges, Cak. Ini lho mbok Solikin dihibur, biar nggak ngomel-ngomel terus. Kasihan dia nggak bisa melampiaskan kemarahannya. Hehehe.\u201d Goda Kanapi sambil menggelar tikar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa lagi yang mau dibahas, Pi. Wong semua sudah jelas gitu, kok.\u201d Cak Narto melompat ke atas tikar, melipat kaki, dan menggosokkan kedua telapak tangan, mengusir dingin hawa kemarau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau semua sudah jelas, berarti Sampean sama saja sepakat dengan apa yang mereka telah lakukan, Cak. Kesewenang-wenangan, kekerasan, dan penindasan mereka, polisi-polisi itu\u201d tembak Solikin lugas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho lho lho, ya nggak gitu dong, Kin. Diam bukan berarti setuju. Aku diam karena menurutku, memang hanya itu yang bisa dilakukan\u2026\u201d Cak Narto menggerus kreteknya yang sisa seisap, \u201c&#8230;sebab rasanya semua usaha sudah dicoba, dan nyatanya sia-sia belaka.\u201d Dibakarnya cepat batang kretek baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa harus dilawan dong, Cak. Karena diam adalah pengkhianatan\u201d tukas Solikin geram. Kepalannya dipukulkan ke telapak kakinya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMelawan dengan metode apa, Kin? Wong protes lewat unjuk rasa damai, ya digebukin, kayak teman-temanmu mahasiswa itu. Dan seperti yang sudah-sudah, melawan mereka dengan benturan fisik sudah pasti kita, orang sipil begini, pasti kalah telak. Wong mereka terlatih dan dipersenjatai, kok.\u201d Asap dari mulut Cak Narto berhamburan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIbarat pertandingan, metode perlawanan berbasis fisik sudah jelas bukan pertandingan yang seimbang, Kin. Sudah bisa ditebak siapa pemenangnya.\u201d Tambahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMau perang gagasan lewat tulisan? Menurutku kok ya percuma. Itu kemarin liputan investigasi yang begitu bernas saja malah distempel sebagai berita hoax sama mereka. Lantas medianya diserang sampai nggak bisa diakses lagi. Besoknya sudah menjadi perang trending dan arak-arakan tagar di medsos. Percuma, Kin. Sia-Sia.\u201d Tandas Cak Narto agak lemas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hening menyela. Suara tonggeret dari persawahan menggerus suasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEnggg&#8230; kalau aku, Cak, tetap pada posisi melawan. Menurutku metode yang paling pas saat ini, ya itu tadi: anarkisme. Dihapus aja konsep bernegara, toh memang tidak menciptakan kesejahteraan. Dan dihapus juga semua perangkat yang menumbuhsuburkan penindasan itu\u201d ujar Solikin berapi, sambil mengacungkan telunjuk kiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAish&#8230; ra mashoook\u201d Tanpa aba-aba Kanapi dan Pardi menyela argumen Solikin berbarengan. Cak Narto tambah cekikikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWajar saja, Kin, kamu masih muda. Jiwa berontak dan melawanmu masih meledak-ledak. Nanti seiring bertambahnya usia juga kamu akan ngerti apa yang aku maksud dengan \u2018kesia-siaan\u2019 itu tadi.\u201d Cak Narto menyeka linang air mata tawanya, \u201cDan bahwa melawan kekerasan dengan kekerasan hanya akan menghasilkan kehancuran.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian, Kin\u2026\u201d belum selesai rupanya kalimatnya, \u201c&#8230;sehancur apa pun reputasi mereka di media massa, toh nyatanya profesi seorang polisi tetap menjadi salah satu impian sebagian besar masyarakat kita, tho.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya ya, Cak. Fenomena ini unik juga, ya. Di satu sisi masyarakat menghujat, tapi di sisi lain antrean untuk jadi polisi tetap nggak pernah sepi tiap tahun.\u201d Tukas Pardi heran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTermasuk orang-orang sini to, Ndes. Sampai rela jual sawah dan ternak demi mewujudkan cita-cita punya anak berpangkat dan nenteng bedhil.\u201d Tambah Kanapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, ya\u2026 lucu juga, ya.\u201d Ujar Pardi sambil menggaruk kepalanya yang tidak benar-benar gatal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenurutku jawabannya sederhana, Ndes. Fenomena ini, animo masyarakat untuk jadi polisi itu, adalah salah satu residu Orde Baru.\u201d Jawaban Cak Narto mengambang. Mereka bertiga malah saling berpandangan dengan kening yang mengernyit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini lho, Ndes, kan Orde Baru berkuasa begitu lama. Dan selama itu supremasi kaum jagabaya bersenjata sangat luar biasa. Narasi superioritas dan kegagahan jagabaya itu dijejalkan sedemikian rupa, dari pusat hingga pelosok desa, sampai akhirnya secara tidak sadar masyarakat, terutama kelas bawah, ingin menjadi bagian dari mereka. Setidaknya mencicipi rasanya hidup dengan kuasa semacam itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOoo\u2026\u201d bibir Solikin mecucu, \u201cNarasi gimana maksud Sampean, Cak?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa macam-macam, Kin, tapi menurutku yang paling berhasil adalah narasi sejarah. Bahwa kemerdekaan bangsa kita itu semata-mata diraih lewat jalan angkat senjata kaum jagabaya dengan mengabaikan peran diplomasi-diplomasi tokoh sipil.\u201d Cak Narto menjeda, mengisi ulang cangkir kopinya yang mulai kosong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHal itu sedikit banyak berefek ke mimpi-mimpi masyarakat sipil untuk menjadi bagian dari mereka, kaum jagabaya ini. Lain kali deh kita ngomongin sejarah. Hehehe.\u201d Entah mengapa kali ini Cak Narto yang nampak kikuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hening kembali menelusup. Pardi menatap kosong ke arah lampu balai desa di seberang jalan. Tapi, tiba-tiba ia melontarkan tanya, \u201cMeski begitu, Cak, sejarah mencatat keberadaan jagabaya sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari masyarakat kita. Majapahit aja punya <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bhayangkara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bhayangkara,<\/a> sebagai institusi jagabaya kerajaan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah itu dia, Ndes\u2026\u201d Cak Narto mengatur duduknya, \u201c&#8230;itulah mengapa gagasan anarkisme nggak relevan bagi bangsa kita. Keberadaan mereka memang sangat penting bagi keberlangsungan hidup bersama. Hehehe.\u201d Mendengar itu air muka Solikin semakin mlotrok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau memang sebegitu adiluhungnya peran mereka, kenapa yang terjadi justru sebaliknya, Cak? Penindasan dan kesewenang-wenangan yang menjadi makanan sehari-hari. Sampean jangan pura-pura tidak tahu gitu, dong.\u201d Solikin melengos kesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pardi dan Kanapi yang kali ini cekikikan saling sikut. Melihat Cak Narto dibombardir oleh Solikin selalu menjadi hiburan bagi mereka berdua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBerkelindan, Kin. Ruwet.\u201d Kilah Cak Narto, \u201cLha gimana, Ndes. Memang begitu situasinya. Kaum jagabaya ini sedang ada di fase lupa akan jati dirinya. Lupa akan hakikat tugas dan amanah dari rakyat yang ditaruh di pundak mereka. Mereka seperti seorang tunabrata: tak mampu mengendalikan diri. Lupa akan sumpah dan janji-janjinya. Lupa bahwa pisau kuasa yang sedang ada di tangan adalah titipan dari rakyat. Jangan malah digunakan untuk menusuki rakyat.\u201d Nada putus asa seperti menggantung di ujung kalimat Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAishhh, manusia kok ndak solutip. Kalau cuma fafifu wasweswos mah siapa saja bisa, Cak.\u201d Ejek Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Cak, mbok ya dipungkasi dengan solusi gitu lho. Setidaknya biar Solikin pulang nanti nggak mecucu gitu terus. Hehehe.\u201d Pardi malah mengompori.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto berdiri, menggerus kreteknya dengan tumit. Sarungnya ditarik menutupi kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTidak semua permasalahan ada solusi konkritnya, nDes. Kalaupun ada, tanpa dibarengi kerendahan hati dan kesadaran, semua itu akan sia-sia belaka. Kita cuma bisa berharap dan berdoa supaya mereka, kaum jagabaya ini, sadar dan ingat apa hakikat keberadaan mereka. Meski itu adalah selemah-lemahnya iman.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiba-tiba Cak Narto sudah di atas jok motor, \u201cAkhir kata, matur nuwun kopi dan gorengannya, wassalamualaikum.\u201d Tanpa mengindahkan forum, motor butut itu dipacu menggerus aspal desa, menembus halimun subuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iring-iringan sepeda para ibu penjual sayur menuju pasar tampak begitu rapi. Diselingi tawa, lamat-lamat terdengar cerita bangga seorang dari mereka, anaknya minggu depan dilantik menjadi seorang bintara, katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semburat kemuning pagi membanjiri desa. Di pepohonan, burung bercericit saling beradu bait. \u201cCelakalah nasib orang yang terbuai kuasa dan lupa akan hakikat hidupnya&#8221;, kata seekor burung dungu di ujung dahan.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Lamat-lamat terdengar cerita bangga seorang dari mereka, anaknya minggu depan dilantik menjadi seorang bintara, katanya.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":144926,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[13735,13734,2504],"class_list":["post-144910","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-brutal","tag-jagabaya","tag-polisi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144910"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144910\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144926"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}