{"id":144728,"date":"2021-10-15T07:00:51","date_gmt":"2021-10-15T00:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=144728"},"modified":"2021-10-15T11:08:03","modified_gmt":"2021-10-15T04:08:03","slug":"rekomendasi-7-film-horor-dari-korea-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-7-film-horor-dari-korea-selatan\/","title":{"rendered":"Rekomendasi 7 Film Horor dari Korea Selatan yang Sesuai dengan Ekspektasi Penonton Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, saya merasa Korea Selatan bukan negara yang memiliki obsesi pada film horor hantu-hantuan jika melihat kuantitasnya. Korea Selatan memang memiliki ciri khasnya tersendiri dalam memandang apa itu horor, khususnya konsep hantu dalam film horor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film-film horor Korea Selatan memang tidak selalu hantu-hantuan. Kadang, film horor di sana bersanding dengan berbagai genre seperti gore thriller, sci-fi, dan banyak mix genre lainnya. Hal itu bisa terlihat lewat film-film yang diklasifikasikan sebagai horor seperti<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> I Saw The Devil, The Host,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Forgotten.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyoal hantu-hantuan, film Korea Selatan kadang tidak selalu bermaksud menakuti dengan sosok hantu. Kadang hantu-hantu tersebut adalah manifestasi akan sesuatu atau juga kendaraan dalam menyenggol isu tertentu. Seperti perwujudan dari rasa bersalah, soal dendam, mengenai ketidakberdayaan, hingga tekanan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini jelas agak berbeda dengan budaya tontonan horor di Indonesia yang memaknai cerita horor sebagai seru-seruan atau kadang sudah melebur dalam kepercayaan akan hal-hal mistis. Namun, bukan berarti penonton Indonesia tidak bisa menikmati sajian horor dari Negeri Ginseng. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka juga memiliki film horor hantu-hantuan yang sesuai dengan ekspektasi penonton Indonesia. Berikut 7 rekomendasi film horor dari Korea Selatan:<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 The Wailing<\/b><\/h4>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Wailing <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sampai saat ini masih saya anggap sebagai film horor Korea Selatan terbaik. Bercerita soal suatu desa yang sedang mengalami berbagai kejadian aneh, mulai dari wabah, masalah kerasukan, kutukan, kematian, dan berbagai macam hal aneh lainnya. Film ini juga menyoroti <a href=\"https:\/\/www.merdeka.com\/dunia\/korea-selatan-dilanda-demam-dukun.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perdukunan Korea Selatan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini begitu sabar dan rapi baik dalam membangun cerita maupun keseraman. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Wailing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berhasil menciptakan situasi yang depresif nan frustasi, seolah-olah penonton pun merasa ikut tidak berdaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini juga bermain dengan misteri dan twist, suatu aspek yang menjadi daya keunggulan film-film Korea Selatan pada umumnya. Sehingga, selain mendapatkan keseraman yang unik dan cerita yang rapi, kita juga akan menikmati alur misteri yang cukup seru mengenai apa yang sebenarnya terjadi.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 A Tale of Two Sisters<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini termasuk dalam film horor yang slow burn, di mana alur berjalan lambat agar lebih menekankan pada suasana dan kedalaman karakter. Film ini sukses sebagai psychological horror drama dengan menonjolkan kesan atmosfer menakutkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bercerita mengenai dua bersaudari, Su Mi dan Su Yeon, yang baru kembali dari rumah sakit jiwa. Sayangnya, mereka disambut kurang menyenangkan oleh ibu tirinya, karena memang mereka memiliki masalah. Di tengah situasi tersebut, kedua saudara itu menyadari ada sesuatu di rumah mereka.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Whispering Corridor<\/b><\/h4>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Whispering Corridors <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah salah satu film yang penting untuk Korea Selatan. Selain dianggap sebagai pionir film horor sekolahan, film yang rilis pada gelombang awal kebangkitan film Korea Selatan ini memiliki isu-isu penting mengenai dunia pendidikan di sana, khususnya soal isu bullying, perilaku abusive para pendidik, dan soal kerasnya persaingan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, film ini berkembang jadi seri film populer di Korea yang kini sudah mencapai 6 film. Namun, keenamnya tidak memiliki kesinambungan cerita, alias sebuah seri dengan cerita antologi dengan latar sekolah dan pendidikan sebagai benang merahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Whispering Corridors<\/em> menceritakan teror di sekolahan yang membuat karyawannya mati satu per satu. Hal ini berkaitan dengan pembalasan dendam akan peristiwa kelam di masa lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski film ini masih punya kekurangan teknis di sana sini, bagi saya film ini tetap memiliki sisi lebih lainnya. Yaitu soal bagaimana film ini jadi dianggap penting akan konteksnya sebagai pionir film horor modern korea dengan berbagai isu penting didalamnya mengenai dunia pendidikan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Gonjiam: Haunted Asylum<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah film horor dengan kemasan found footage biasanya akan ampuh menciptakan kehebohan bagi penontonnya. Oleh karena itulah\u00a0<em>Gonjiam: Haunted Asylum<\/em> cocok ditonton bareng-bareng buat seru-seruan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bercerita mengenai sekelompok YouTuber yang ingin membuat konten horor dengan cara mengeksplor Rumah Sakit Jiwa Gonjiam. Rumah sakit terbengkalai ini memiliki kisah masa lalu yang kelam, sehingga ada desas desus menyeramkan yang menyelimuti rumah sakit jiwa ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awalnya, penonton harus bersabar menghadapi tingkah para pemeran film yang menyebalkan dan berisik. Namun, menjelang akhir, penonton akan mendapatkan keseruan yang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 #Alive<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak akan merekomendasikan <em>Train to Busan<\/em> karena rasanya semua orang sudah tahu film ini. Namun, saya punya film zombie lain untuk direkomendasikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>#Alive<\/em>\u00a0bercerita mengenai Oh Joon Woo yang menghadapi perubahan dunia yang cepat, yaitu berubahnya orang-orang menjadi zombie. Uniknya, dia harus menghadapi bencana ini dengan berdiam diri dan melindungi diri di apartemennya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan sensasi ruangan terbatas, film zombie ini memiliki sensasi yang cukup menghibur dengan keterbatasan ruangnya. Sayang, bagi saya film ini tidak memanfaatkan semua potensi unik dan terbaiknya. Meski begitu film horor ini tetap asyik untuk ditonton beramai-ramai,<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Whispering Corridors 3: Wishing Stairs<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini termasuk dalam bagian seri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Whispering Corridors<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tapi, ceritanya tidak nyambung karena ini adalah seri film antologi mengenai kehidupan sekolah Korea Selatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kali ini, cerita menyoroti soal mitos tangga keramat yang ada di sekolah tersebut. Katanya, jika kamu menaiki tangga dan berhasil menginjak tangga ke-29 di ujung, maka kamu punya kesempatan untuk mewujudkan keinginan. Sayangnya, terkabulnya keinginan bukanlah jalan keluar masalah, malah menimbulkan masalah lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, ini adalah film terbaik ketimbang seri <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Whispering Corridors<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lainnya. Alasannya, <em>Whispering Corridors 3: Wishing Stairs<\/em> memiliki cerita dan elemen horor yang solid jika dibandingkan seri lainnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#7 Warning: Do Not Play<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Warning: Do Not Play<\/em> bercerita tentang sutradara yang ingin membuat film horor. Dalam proses mencari inspirasi, dia mendengar rumor soal film horor yang dilarang 8 tahun lalu. Hal itu membuat sutradara tersebut terjebak dalam obsesinya, dan mengarahkannya pada kasus-kasus yang janggal nan mengerikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya ini film horor yang standar dan normal, bahkan klise. Meski begitu, bagi saya film ini tetap memiliki cerita yang cukup menarik dan punya beberapa momen yang berhasil bikin saya takut.<\/span><\/p>\n<p>Itulah 7 film horor yang bisa kalian nikmati dari Negeri Ginseng. Semoga saja 7 rekomendasi film di atas dapat memenuhi ekspektasi penonton Indonesia. Kalau kalian punya rekomendasi film horor Korea Selatan lainnya, silakan beri tahu di kolom komentar, ya.<\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biar taunya nggak cuma film romantis aja, sesekali nonton horornya Korea, dong.<\/p>\n","protected":false},"author":1449,"featured_media":145027,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[13630,1175,29,13098,3854],"class_list":["post-144728","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-korea-selatan","tag-hantu","tag-horor","tag-pilihan-redaksi","tag-rekomendasi-film"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1449"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144728"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144728\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/145027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}