{"id":144611,"date":"2021-10-13T11:00:10","date_gmt":"2021-10-13T04:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=144611"},"modified":"2021-10-13T12:08:49","modified_gmt":"2021-10-13T05:08:49","slug":"bukan-jelek-tapi-5-film-indonesia-ini-emang-layak-dicaci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-jelek-tapi-5-film-indonesia-ini-emang-layak-dicaci\/","title":{"rendered":"Bukan Jelek, tapi 5 Film Indonesia Ini Emang Layak Dicaci"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perfilman Indonesia sudah banyak mengalami masa naik dan turun. Kita pernah punya masa merasa bahwa film Indonesia sedang di masa jaya, pernah juga merasa terpuruk. Kita punya banyak film-film berkualitas yang layak dipuji, tapi kita juga punya film-film yang layak dicaci. Eits, film yang layak dicaci itu maksudnya bagaimana? Film yang jelek?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam penciptaan dan pemaknaan sebuah karya, bagus atau tidak adalah hal yang wajar, termasuk soal film. Apalagi dalam masalah pemaknaan juga sulit terpisahkan dengan elemen subjektivitas. Bagi saya, film yang tidak bagus, atau kasarnya jelek, bukanlah masalah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah film yang dianggap jelek, ada para pemula yang sedang belajar bikin film, ada filmmaker yang punya niat dan usaha baik tapi terkendala kebijakan studio, hingga ada orang yang memang secara sengaja ingin bikin film yang jelek nan konyol untuk bersenang-senang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak hal yang bisa ditoleransi dari film jelek, bahkan beberapa orang menikmatinya. Tapi, kadang ada juga film yang tak bisa ditoleransi sampai-sampai merasa bahwa film tersebut layak dicaci. <\/span>Kali ini, saya mau berbagi daftar film lokal yang menurut saya pantas dicaci.<\/p>\n<h4>#1 Mr Bean Kesurupan Depe<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengalami masa ketika film Indonesia dipenuhi film horor esek-esek tidak jelas adalah sebuah penyiksaan bagi yang berharap pada film lokal. Kala itu, film horor Indonesia sedang ngetren memamerkan kemolekan tubuh wanita, menyandingkannya dengan para hantu-hantuan dan para karakter pemuda mupeng.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari dibintangi artis-artis bom sex, hingga mendatangkan pemain film porno, semua sudah dilakukan dengan berujung membuahkan beberapa judul yang layak dicela, mulai dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Suster Keramas, Rintihan Kuntilanak Perawan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan banyak judul ajaib lainnya. Semua judul itu layak dicela, tapi ogah juga saya membahas judul-judul ajaib itu. Bagi saya, yang paling ajaib dan paling layak dicaci adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mr Bean Kesurupan Depe<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini sungguh layak dicaci dari segi apa pun. Saya benar-benar tak bisa melihat sedikit pun ada maksud baik dalam pembuatan film ini. Mulai dari mencatut nama Mr Bean sembarangan yang bikin malu nama film Indonesia, judul yang tak sesuai isi, poster filmnya yang naudzubillah, gimmick marketing yang bikin geleng-geleng, dan tentu saja isi filmnya yang.. akkkhhh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KK Dheeraj selaku produser emang doyan banget bikin film-film yang minta dicaci. Tapi film ini rasanya sudah sangat ultimate sekali hancurnya yang bukan cuma patut dipertanyakan isi dan teknis filmnya sendiri, bahkan motivasi pembuatan filmnya ini sendiri patut dipertanyakan. Mau ngejar apa, sih? Nyari duit kok segitunya.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Benyamin Biang Kerok<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin utama kenapa film ini rasanya layak dicaci adalah persoalan bagaimana memperlakukan sebuah nama atau warisan seperti sosok legenda bernama Benyamin Sueb.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah salah satu contoh bagaimana suatu film <\/span>memanfaatkan Intellectual Property yang populer dengan motivasi yang kacau (Ehem, termasuk <i>Warkop DKI Reborn<\/i>-nya Aliando dkk, nih). Memanfaatkan nama besar Benyamin Sueb, film ini gagal menjadi sebuah tribute yang jauh dari kesan hormat. Dan ini adalah suatu penyakit yang tak boleh dibiasakan oleh PH lain ke depannya: memanfaatkan nama besar entah itu tokoh atau franchise sekedar nyari duit tanpa ada niat baik di baliknya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kok bisa, sudah punya sutradara seperti Hanung Bramantyo dan bintang utama dengan kemampuan akting sekelas Reza Rahadian masih kacau? Produsernya ngapain aja? Pantas dicaci sih ini, biar pada nggak sembarangan lagi kalau mau bawa-bawa tokoh legendaris, minimal secara niat.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: left;\">#3 Garuda Superhero<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang inget film ini nggak? Sebuah film ambisius yang merasa punya niat baik membangkitkan genre superhero lokal. Sejujurnya, saya menghargai niat baiknya, dan oleh karena itu ada keinginan untuk menyukai filmnya dan berharap film ini bagus. Apalagi, saat itu butuh nyali besar untuk bikin film yang berbeda di Indonesia, khususnya <a href=\"https:\/\/www.google.com\/amp\/s\/amp.tirto.id\/para-superhero-indonesia-yang-dihajar-politik-dan-komik-jepang-eiu7\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">superhero<\/a>, yang tidak punya jaminan laku malah cenderung merugi. Sebuah tekad.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, niat saja tidak cukup. Ambisi yang ada tidak sejalan dengan usaha dan kewarasan para pembuat filmnya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Garuda Superhero<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> meramu filmnya menggunakan CGI full hingga 90%, termasuk untuk latar tempat yang seharusnya bisa tanpa CGI sekalipun. Hasilnya, kalau tidak salah sih banyak yang mengaku sakit mata saat itu. Yang paling disesalkan, kenapa nggak sekalian bikin film konyol saja, lha kok filmnya juga serius banget.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Modus<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, saat mengetahui circle YouTuber satu ini terjun ke dunia film, saya agak berharap pada mereka. Sayangnya, kehadiran mereka sejauh ini belum memberikan kontribusi apa pun ke industri perfilman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">YouTuber<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hingga film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bucin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sejauh ini belum ada yang memenuhi ekspektasi. Tapi, saya agak memaklumi beberapa judul yang sudah dibuat ini, dengan alasan, para YouTuber ini memang masih awam dengan pembuatan film. Jadi, saya masih menganggap masih ada niat baik untuk mereka sedang belajar lewat film-film itu, kecuali film berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Modus.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Modus<\/em> adalah film yang dibintangi rombongan YouTuber macam Andovi &amp; Jovial Da Lopez, Kemal Palevi, Tommy Limmm, hingga Reza Arap Oktovian. Tapi, bukannya belajar dari kegagalan film mereka sebelumnya, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">YouTuber<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mereka kembali mengulangi kesalahan yang sama, bahkan lebih buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toleransi saya mengenai mereka yang sedang belajar, otomatis tidak berlaku di film ini. Bukan cuma masalah para YouTuber ini yang tidak belajar (atau dimanfaatkan demi basis fans), saya jelas kecewa dengan orang-orang film berpengalaman yang ada di belakang mereka, mulai dari sutradara hingga produser. Bukannya membimbing malah terkesan menjerumuskan. Tapi, kalau ternyata ide ini memang dari para YouTuber itu sendiri, tentu mengecewakan dan layak dicela, sih.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Jenglot<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini sebenarnya masih senada dengan kelompok film horor esek-esek yang ada di poin pertama. Saat itu, film-film macam ini juga dikenal dengan istilah vividsm yang memiliki konotasi orang-orang yang menyukai film jelek (dalam konteks film horor esek-esek saat itu).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa sosok yang erat kaitannya dengan film-film ini. Mulai dari KK Dheeraj, Nayato, bahkan sosok sutradara horor yang sempat dikagumi masyarakat awal milenium seperti Rizal Mantovani pun ikut-ikutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu film Rizal yang bikin saya kesal kenapa dikemasnya semacam ini, yaitu<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Jenglot.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pada 2000-an, Rizal termasuk jago mengemas film horor yang berasal dari urban legend seperti<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Jelangkung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kuntilanak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Hal itu yang saya inginkan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jenglot<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kan saya penasaran, bagaimana Rizal Mantovani mengemas makhluk mungil satu ini dengan segala mitologi di baliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ndilalah, hasil akhirnya kok jadi film KW-nya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Piranha 3D<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Masih bisa di remake nggak, nih? Tapi yang serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekian daftar film-film Indonesia yang menurut saya pantas dicaci. Kenapa? Ada yang kurang? Apa Anda mencari film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? Hey, sesat Anda kalau ingin mencaci film ini.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kasihan mataku \ud83d\ude41<\/p>\n","protected":false},"author":1449,"featured_media":144625,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[20,13729,13098],"class_list":["post-144611","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-indonesia","tag-jelek","tag-pilihan-redaksi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144611","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1449"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=144611"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/144611\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/144625"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=144611"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=144611"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=144611"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}