{"id":143060,"date":"2021-10-05T07:00:11","date_gmt":"2021-10-05T00:00:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=143060"},"modified":"2021-10-05T06:46:07","modified_gmt":"2021-10-04T23:46:07","slug":"si-gundul-harusnya-jadi-mensos-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/si-gundul-harusnya-jadi-mensos-saja\/","title":{"rendered":"Si Gundul Harusnya Jadi Mensos Saja"},"content":{"rendered":"<p><span data-contrast=\"auto\">Saya ingin sekali membuka tulisan ini dengan satu pertanyaan: kurang sosial apa lagi sih si Gundul itu? Ia lebih trengginas dari anak pramuka, lebih tepat dan akurat layaknya aparat yang menggulung massa demonstran, juga lebih sat set ketimbang sekadar marah-marah tanpa makna dan konteks belaka. Si Gundul adalah definisi homo sociocus yang selama ini para cerdik cendikia bahas di ruang-ruang kuliah.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Jadi Mensos bagi si Gundul, kok, rasanya tepat, ya? Nggak kebanyakan gimmick, nggak kebanyakan mengembangkan citra, tinggal sat set sat set. Nggak ada yang namanya marah-marah ketika ada kesalahan di lapangan. Adanya justru pertanyaan macam, \u201cAda yang bisa saya bantu, Bu?\u201d atau, \u201cOh, iya, Buk\u201d. Beberapa kalimat yang bisa Anda dengar dan rasakan, kan? <\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Tapi saya heran, orang seluhung Gundul kenapa ya masih saja bantu-bantu urusan kaum rural? Mbabati suket, ngiris brambang, majat aren, hingga ngangon sapi, misalnya. Kan semua itu berkutat di desa atau pinggiran. Harusnya Gundul sadar, bakat alam tiada tara miliknya itu bisa digunakan lembaga sekaliber KPK atau KPI.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Eh, tapi tunggu dulu, terlalu banyak kepentingan di dua lembaga itu. Biarlah Gundul jadi Mensos saja semisal Bu Risma capek marah-marah. <\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Begini lho, bukannya makar, tapi Bu Risma ini kalau kebanyakan marah, nggak cocok dengan metode pemerintahan Pakde yang notabene kalem, santuy, yang penting kerja, kerja, kerja.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Siapa yang hobinya kerja, kerja, dan kerja? Gundul lah! Edan po? Lagi gabut we blio pasti bertanya, \u201cAda yang bisa saya bantu, Bu?\u201d Maka, beginilah jadinya semisal Gundul jadi Mensos:<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cHari ini aku pergi ke Jakarta, Lur. Kata Simbok di desa, di kota itu lebih membutuhkan bantuan ketimbang di desa. Kata Simbok, kota itu adalah tampilan lanskap yang mengisahkan penderitaan dan kekalahan manusia.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">&#8220;Kata Simbok, di desa hanya butuh bantuan ngulen adonan. Sedang di kota, kita butuh ngulen apa itu baik dan buruk yang bedanya amat tipis sekali. Apakah bener, ya, Lur? Mari ikuti saya, Lur.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cDi Jakarta, tujuanku hanya satu, pengin membantu Indonesia ngurusi bidang sosial. Ngeri gereh, Lur, ngurusi bidang ini. Buktinya Pak Juliari bahkan nggak kuat dan harus makan uang rakyat. Ah, lemah. Aku saja pernah ngurus kas desa, nggak pernah tergoda buat korup buat beli kroto, Lur.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cAku naik sepeda onthel dari Thamrin sampai ke Gedung Kementrian Sosial di Jalan Salemba. Gembrobyooos, Lur. Namun bukan soal, demi bangsa dan negara. Begitu tekadku.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Ya, seperti itulah kiranya opening Si Gundul misal jadi Mensos. Kebayang nggak, ada yang manggil Gundul di dalam Gedung Kemensos dengan sapaan begini, \u201cNduuul! Sini, Ndul!\u201d Gitu? Lantas Gundul menjawab begini, \u201cTiba-tiba Mbak Tika memanggilku, kemudian aku menjawab, \u2018Nggih, sakedap, mbak\u2019.\u201d<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">Beberapa was wes wos kemudian, Gundul disuruh Mbak Tika untuk ngurusi bantuan sosial yang remoook selama di bawah kepemimpinan Juliari. Tentu saja, dengan kiat informatif dan juga dengan cara yang kalem nggak marah-marah, Gundul membagikan tiap tutorial dengan transparan dan juga santai.<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cBaru saja ngaso sak nyukan duduk setelah naik onthel, Mbak Tika ngendikan bahwa aku harus membagikan bantuan sosial secara merata dan tepat sasaran. Ini agak tricky, Lur. Kemudian aku menjawab tantangan Mbak Tika, &#8216;Nggih, Mbak. Saya bantu-bantu ya, Mbak&#8217;.&#8221;<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cDan, inilah cara membagikan bantuan sosial kepada masyarakat secara merata dan tepat sasaran, Luuur. Pertama, jangan aduk secara rata antara masyarakat yang mampu dan yang nggak. Pula jangan ulen antara mereka yang punya kepentingan dan nggak. Intinya satu, formula ini harus kalis, tanpa adanya campur tangan pihak lain.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cKedua, aku onceki brambang, eh, maksudku onceki data secara berimbang antara penduduk yang beneran miskin dan yang pura-pura miskin, Lur. Ngetarani miskin dan enggak ki gampang, lihat saja matanya. Kalau warnanya kuning, kemungkinan mau isuk bar maem endog godog. Kuwi wong sugih, Lur.<\/span><\/p>\n<p><span data-contrast=\"auto\">\u201cKetiga, beli dengan kejujuran dan sesuai anggaran perihal budget dan barang-barang yang mau dibeli. Ha ra lucu, Lur, kalau membeli beras yang banyak tumo. Atau beli mi instan yang sudah gabes. Mbok yang jujur sejak dalam pikiran. Bansos itu buat kaum miskin, bukan untuk kaum pekok.\u201d<\/span><span data-ccp-props=\"{&quot;201341983&quot;:0,&quot;335559739&quot;:160,&quot;335559740&quot;:259}\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=pJKDh2fnB1g\">YouTube Trans7 Official<\/a><\/em><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kurang sosial apa lagi sih Si Gundul itu?<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":143073,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[4036,7804,12588,8062,13098],"class_list":["post-143060","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bu-risma","tag-jejak-si-gundul","tag-juliari-batubara","tag-mensos","tag-pilihan-redaksi"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143060","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=143060"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/143060\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/143073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=143060"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=143060"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=143060"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}