{"id":142775,"date":"2021-10-04T13:20:21","date_gmt":"2021-10-04T06:20:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=142775"},"modified":"2021-10-05T13:59:52","modified_gmt":"2021-10-05T06:59:52","slug":"tembakau-perokok-dan-repetisi-debat-yang-bikin-muak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tembakau-perokok-dan-repetisi-debat-yang-bikin-muak\/","title":{"rendered":"Tembakau, Perokok, dan Repetisi Debat yang Bikin Muak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebentar, tho, jangan ke sana dulu. Ini kan perdebatan rutin hampir tiap tahun. Coba kamu ceritain dulu, yang sekarang ini pemicu debatnya apa?\u201d Potong Cak Narto kalem, setelah menjejerkan ceret teh manis, gorengan dan beberapa batang kretek di gelas kaca ke hadapan Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tahu bahwa mengerjakan skripsi hanyalah alasan Solikin untuk menumpang Wi-Fi di teras rumahnya, Cak Narto tetap meladeni pertanyaan-pertanyaan Solikin. Dan seperti tak bisa ditahan, sejak lepas Isya\u2019 tadi Solikin nyerocos tentang keramaian debat usang tentang rokok di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau sejauh pantauanku, sih, karena Pemprov DKI Jakarta membuat aturan yang melarang toko-toko memajang reklame produk rokok, Cak. Dari sana muncul kontroversi, pro dan kontra, yang akhirnya merembet ke mana-mana. Termasuk ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Historia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, media tentang sejarah favoritku itu. Ia dituding tidak kredibel karena sebagian pemodalnya adalah perusahaan rokok, Cak.\u201d Terang Solikin diiringi seruputan teh manis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOoo&#8230;Terus, di debat ini, posisimu ada di mana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebagai seorang terdidik, aku setuju beberapa pandangan kaum antirokok, Cak. Penjelasan akademis mereka klir dan berdasarkan data-data. Tapi sebagai perokok, aku juga kurang setuju dengan sikap lebay mereka, kaum antirokok ini.\u201d Ia menggeleng lemas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, lha itu kamu sudah ngerti gitu kok, kalau mereka lebay. Itu sudah bagus sebagai permulaan, Kin.\u201d Balas Cak Narto menggoda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hening menyela perbincangan. Angin kemarau dari arah persawahan yang memasuki musim panen tembakau menampar-nampar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCoba kamu lanjutin, Kin, alasanmu setuju itu tadi. Sebagai orang sekolahan yang terdidik, seperti katamu tadi itu. Dari segi apa saja, gitu.\u201d Tanya Cak Narto memecah hening.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHa jelas tho, Cak. Dari segi kesehatan dan ekonomi, kita sama-sama sepakat, bahwa sebenernya mudharat rokok lebih banyak ketimbang manfaatnya.\u201d Seperti ingin menguatkan argumen, buru-buru Solikin meletakkan kembali batang kretek yang baru saja ia comot dari gelas di hadapannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menutupi canggung, Solikin meraih gorengan dan memamahnya cepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOoo ya sebentar dulu. Kok tahu-tahu kita sepakat. Wong aku belum bilang apa-apa kok, perihal logika kesehatan dan ekonomi terkait ini.\u201d Asap dari mulut Cak Narto sengaja ditiupkan ke muka Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa maksud Sampean rokok nggak bikin sakit, Cak? Rokok menyehatkan, gitu?\u201d Gerutu Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha kamu pikir gorengan yang sedang kamu kunyah itu menyehatkan, Kin? Nggak bisa bikin sakit, gitu?\u201d Cak Narto balas bertanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho ya beda tho, Cak. Kalau ini kan jelas manfaatnya, minimal bikin kenyang. Paling kalau kebanyakan, kolesterol jadi tinggi. Hehehe. Ha kalau rokok, emang bikin kenyang?\u201d Diraihnya sepotong lagi gorengan di piring logam itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah di situ kuncinya, Kin. Di dunia ini tidak semua orang mencari kenyangnya perut. Ada bentuk \u2018kenyang\u2019 lain yang bisa didapatkan seseorang dari tembakau. Maka, rokok ini masalah preferensi saja. Pakem dunia kesehatan belum bisa menjawab fenomena itu.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbok nggak usah bersufi-sufi dulu. Aku juga ngerokok, Cak, tapi aku tetap nggak setuju kalau rokok mengenyangkan. Dan, yang Sampean maksud fenomena itu tadi apa?\u201d Kejar Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu karena kamu tidak memaknai filosofi dan manfaat ciptaan Tuhan yang satu ini, Kin.\u201d Seolah malas berdebat, asap dari mulutnya ditembakkan ke arah langit-langit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWoi, Cak, fenomena apaaa?\u201d Solikin merasa tak terima diabaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa fenomena tentang orang yang merasa lebih sehat dengan merokok itu, Kin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAlah mbel, Cak, mana ada orang yang lebih sehat karena merokok. Kalaupun ada itu mungkin sugesti aja, Cak. Plasebo itu.\u201d Ironis, Solikin mengatakan itu diiringi gemeretak bunyi tembakau dan cengkeh yang terbakar di ujung bibirnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha itu Mbah Radjiman, umur 80 tahun masih nyangkul sawahnya tiap hari, dari pagi sampai sore. Orang-orang terpelajar itu, mengabaikan sosok seperti Mbah Radjiman, Kin. Atau itu, Partono, yang kuat ngaduk adonan semen, ngangkat berember-ember, naik turun tangga, sambil ngemut kretek. Memangnya itu nggak fenomenal di matamu, Kin?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin bergeming.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPakem dunia kesehatan memang selalu dinamis, Kin. Kebanyakan orang lupa, bahwa di awal kemunculannya, rokok itu ya dikonsumsi hampir semua kalangan. Dari dokter, atlet, politisi sampai kaum sudra seperti kita. Sekarang aja, gara-gara perang industri nikotin, dikampanyekan rokok menyebabkan penyakit ini dan itu.\u201d Nada Cak Narto tersengar kesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi negara ini, kita para perokok didiskreditkan setengah mati. Dikasih stempel macem-macem: yang nggak peduli kesehatan lah, nggak peduli pendidikan dan kecukupan gizi keluarga lah, yang tidak tahu norma sosial lah, penyumbang polusi lah.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPadahal, di tengah banyak sektor ekonomi yang morat-marit akibat korona, penerimaan cukai dari rokok tetap tercapai, bahkan melebihi target. Tapi, lihat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah: tarif cukai dinaikkan, iklan rokok dipersulit, ruangan merokok di tempat-tempat umum yang nggak manusiawi itu. Haisshhh.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBelum lagi tudingan perokok mencemari lingkungan. Itu apa nggak konyol namanya, ketika industri otomotif yang nyumbang polusi karbon justru di kasih karpet merah oleh pemerintah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin ingin membalas bahwa argumen Cak Narto naif belaka karena ia seorang perokok, tapi ia urungkan kalimat itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus, tudingan bahwa kita nggak peduli dengan ekonomi dan kecukupan gizi anggota keluarga dari para peneliti itu, yang katamu berdasarkan data-data, itu kan sinisme yang kelewat lebay, Kin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cData nggak pernah bohong, Cak. Memang seperti itu. Faktanya, Cak, di sebagian besar keluarga kaum perokok, yang notabene orang miskin itu, biaya bulanan untuk rokok memang lebih besar dibanding biaya untuk beli makanan bergizi atau untuk pendidikan anak, Cak. Data lho yang bilang, bukan aku.\u201d Tegas Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti tak terima Cak Narto memajukan badannya, \u201cAlmarhum bapakmu perokok, to? Apa pernah beliau nggak bayar SPP-mu dengan alasan uangnya mau dipake buat beli rokok? Atau pernah kamu berangkat sekolah nggak sarapan karena uang bapakmu habis dipakai beli rokok?\u201d Solikin menggeleng, kemudian bergeming.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah itu, di Indonesia ini ada banyak perokok seperti almarhum bapakmu itu. Secara hitungan ekonomi biaya rokoknya memang terlihat besar, tapi nyatanya toh anak-anak mereka pada berangkat kuliah. Perut-perut mereka kenyang. Di bagian mana mereka ini abai terhadap pendidikan dan kesehatan keluarga?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMasalah lebih bergizi mana daging atau tempe, itu preferensi lidah dan faktor budaya saja, Kin. Itu bisa diperdebatkan lagi. Masalah seorang anak perokok kuliahnya di kampus negeri atau swasta, bergengsi atau ecek-ecek, itu juga hal lain lagi.\u201d Cak Narto kembali menyandarkan punggungnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenanam padi, sudah pupuknya mahal dan kerap langka, begitu musim panen ya harganya anjlok. Nanam cabe begitu panen malah dibanjiri produk impor. Nanam tomat dan sayur mayur ya harga jualnya kelewat murah karena katanya over supply. Sekarang nanam tembakau pun mau dipermasalahkan dengan alasan-alasan lebay semacam itu?\u201d Gurat kesal bertumpuk di jidat Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin tercekat. Di hadapannya berkelebat sosok mendiang ayahnya, seorang perokok berat yang sangat gigih berjuang demi pendidikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musim panen tembakau selalu dinantikan seantero desa. Darinya, dapur-dapur mengepulkan asapnya dan anak-anak berangkat ke kota untuk bersekolah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari seberang sungai, kerlip lampu yang menerangi tempat perajangan daun tembakau tampak redup. Lamat suara tembang \u201c<a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=SQhOMQo-yBk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Langen Tayub<\/a>\u201d dan cengkerama para ibu yang menata rajangan daun tembakau untuk dijemur esok hari bersahutan ritmis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari arah entah sebelah mana burung hantu berbalas puisi dalam gulita. Mereka seolah merangkai bait-bait tentang betapa tidak adilnya cara berfikir orang kota tentang tembakau dan tentang apa itu bahagia.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rokok begini, rokok begitu.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":22672,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[3842,3404,820],"class_list":["post-142775","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-cukai","tag-cukai-rokok","tag-tembakau"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=142775"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142775\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22672"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=142775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=142775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=142775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}