{"id":142774,"date":"2021-10-09T13:00:10","date_gmt":"2021-10-09T06:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=142774"},"modified":"2021-10-09T06:50:58","modified_gmt":"2021-10-08T23:50:58","slug":"ciri-khas-dalam-percakapan-orang-makassar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ciri-khas-dalam-percakapan-orang-makassar\/","title":{"rendered":"Ciri Khas dalam Percakapan Orang Makassar"},"content":{"rendered":"<p><em>Dari mana ki\u2019? Kapan pi kita\u2019 datang? Bisa mi saya ambil bajuku?<\/em><\/p>\n<p>Tiga kalimat pertanyaan di atas sudah menunjukkan ciri khas dari dialek Makassar. Seperti yang kita tahu, persoalan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kamus-bahasa-makassar-sehari-hari-kenalan-sama-partikel-mi-ji-dan-ki\/\">mi, ji, ki, pi, dan sebagainya<\/a> adalah persoalan bahasa yang susah-susah gampang. Orang luar Makassar ada yang masih kesulitan memahami, sementara orang Makassar sendiri terkadang tidak selalu menjelaskannya dengan mudah.<\/p>\n<p>Namun, di luar mi, ji, ki, pi, dan saudara-saudaranya itu, masih ada lho hal-hal lainnya yang juga menjadi ciri khas atau katakanlah paling sering ditemui dalam percakapan orang Makassar. Apa saja itu? Mari saya perkenalkan beberapa di antaranya.<\/p>\n<h4><strong><b>#1 Penuh dengan kasih<\/b><\/strong><\/h4>\n<p>Makassar (baik suku maupun dialek dan bahasanya) terkenal kasar. Padahal sebenarnya Makassar itu penuh dengan kasih, lho. Dalam percakapan sehari-hari, kata &#8220;kasih&#8221; sangat sering digunakan.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p>Kasih pindah sai motormu, nda\u2019 bisa ka lewat! (Tolong pindahin motormu, dong, saya tidak bisa lewat!)<\/p>\n<p>Siapa kasih keluar ki ini meja? (Siapa yang mengeluarkan meja ini?)<\/p>\n<p>Sudahmi kukasih bersi(h) kamarmu (Kamarmu sudah saya bersihkan)<\/p>\n<h4><strong><b>#2 Menghilangkan\/mengganti huruf pada kata tertentu<\/b><\/strong><\/h4>\n<p>Seperti yang saya tulisakan pada contoh nomor tiga di atas, demikianlah yang biasa terjadi dalam dialek Makassar. Ada huruf akhir pada sebuah kata yang dihilangkan saat diucapkan. Hal tersebut biasanya terjadi pada kata berakhiran huruf h, t, dan k. Ada juga kata yang malah disingkat dengan menghilangkan beberapa huruf di dalamnya.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p>1. Marah\u2192mara<\/p>\n<p>Mara-marai mamakku (Mamaku lagi marah-marah)<\/p>\n<p>2. Cepat\u2192cepa\u2019<\/p>\n<p>Cepa\u2019 ko, buru-buruka! (Cepetan, saya buru-buru!)<\/p>\n<p>3. Tidak (ndak)\u2192nda\u2019<\/p>\n<p>Baik (baek)\u2192bae\u2019<\/p>\n<p>Jangan moko makanki, nda\u2019 bae\u2019 mi (Jangan kamu makan, sudah tidak baik)<\/p>\n<p>4. Pergi\u2192pi<\/p>\n<p>Selain berfungsi sebagai partikel, kata pi juga sering digunakan sebagai ganti\/singkatan dari kata pergi. Untuk membedakannya tentu saja kita harus melihat kalimatnya secara utuh.<\/p>\n<p>&#8211; Pi sebagai partikel<\/p>\n<p>Belum pi masak sayurku (Sayurku belum masak)<\/p>\n<p>&#8211; Pi sebagai ganti\/singkatan<\/p>\n<p>Mauko pi mana? (Kamu mau ke mana?)<\/p>\n<p>5. Santai\u2192sante<\/p>\n<p>Sante moko!\u00a0(Santai aja dong!)<\/p>\n<h4><strong><b>#3 Lain di mulut, lain yang dimaksud<\/b><\/strong><\/h4>\n<p>Sudah jadi pengetahuan umum bahwa kata \u201ckita\u201d dalam dialek Makassar itu bukan bermakna saya dan kamu, tetapi kamu dalam tingkat yang lebih sopan. Bedanya, jika dalam bahasa Indonesia kata &#8220;kita&#8221; diucapkan datar-datar saja, dalam dialek Makassar ada penekanan khasnya. Makanya sering ditulis dengan kita\u2019. Nah, selain kita\u2019, masih ada kata lain yang dalam percakapan orang Makassar punya maksud berbeda dari arti sesungguhnya dalam bahasa Indonesia. Berikut beberapa di antaranya:<\/p>\n<p>1. Bikin<\/p>\n<p>Dalam KBBI, bikin berarti buat, sedangkan dalam percakapan orang Makassar, bikin bisa bermaksud ngapain atau lagi apa.<\/p>\n<p>Apako bikin? (Kamu lagi ngapain?)<\/p>\n<p>2. Bunuh<\/p>\n<p>Di Makassar, kami biasanya menggunakan kata &#8220;bunuh&#8221; untuk mematikan\/menghentikan aktivitas perabotan elektronik seperti kipas angin, AC, televisi, PC, laptop, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Bunuh sai itu laptopku!<\/p>\n<p>3. Jalan<\/p>\n<p>Dalam percakapan orang Makassar, kata &#8220;jalan&#8221; tidak selalu berarti tempat yang bisa dilalui, tetapi bisa juga berarti mengalir.<\/p>\n<p>Jalan mi air ka? (Apakah air sudah mengalir?)<\/p>\n<p>Tidak jalangi darahku (Darahku tidak mengalir)<\/p>\n<h4><strong><b>#4 Menambah huruf di belakang sebuah kata<\/b><\/strong><\/h4>\n<p>Kalau kalian menebak bahwa saya akan membahas tentang okkots (menambah huruf g pada kata berakhiran -n dan mengubah kata berakhiran -m menjadi -ng), kalian keliru karena selain okkots masih ada lagi penambahan huruf pada kata tertentu ala percakapan orang Makassar yang akan saya perkenalkan, yaitu menambah huruf a dan ya\/yya. Untuk ya\/yya khusus berlaku pada kata berakhiran huruf vokal a.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p>1. Televisi\u2192televisia<\/p>\n<p>Bunu(h)i dulu televisia<\/p>\n<p>2. Lampu\u2192lampua<\/p>\n<p>Kenapa belumpi dikasih nyala lampua?<\/p>\n<p>3. Sepeda\u2192sepeda(y)ya<\/p>\n<p>Siapa kasih masuki sepedayya?<\/p>\n<p>Nah, itulah beberapa hal selain partikel mi, ji, ki, pi, dan sebagainya yang juga sering ditemukan dan dipakai dalam percakapan orang Makassar. Dalam hal bahasa daerah, saya sendiri sepakat bahwa untuk mempelajarinya bukan perkara mudah. Bahkan saat menulis tentang bahasa daerah sendiri pun, saya masih harus berpikir keras untuk mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>Semoga ke depannya, saya dan teman-teman penulis\u2014dari dan di\u2014Makassar bisa memperkenalkan hal-hal lain lagi perihal Makassar, ya.<\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di luar mi, ji, ki, pi, dan saudara-saudaranya itu, masih ada hal-hal lainnya yang juga menjadi ciri khas dalam percakapan orang Makassar.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":143923,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2519,2380,3022],"class_list":["post-142774","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-daerah","tag-makassar","tag-orang-makassar"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=142774"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142774\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/143923"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=142774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=142774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=142774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}