{"id":142771,"date":"2021-10-04T13:00:07","date_gmt":"2021-10-04T06:00:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=142771"},"modified":"2021-10-04T12:36:34","modified_gmt":"2021-10-04T05:36:34","slug":"guru-guru-itu-tahu-kalau-siswanya-menyontek-udah-nggak-usah-pura-pura-polos-gitu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-guru-itu-tahu-kalau-siswanya-menyontek-udah-nggak-usah-pura-pura-polos-gitu\/","title":{"rendered":"Guru-guru Itu Tahu kalau Siswanya Menyontek, Udah Nggak Usah Pura-pura Polos Gitu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali ujian, saya selalu menemui setidaknya satu guru yang hobi menakut-nakuti siswanya. Dia akan berkata kepada kami, siswa-siswa yang diawasinya, agar mengerjakan ujiannya secara mandiri. Katanya, menyontek adalah perbuatan yang sia-sia. Secanggih apapun cara kami menyontek, ia sesumbar kalau ia akan tetap mengetahuinya. Sungguh, ucapan yang sangat kemlethe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya tidak langsung percaya. Saya menganggapnya hanya sebuah gertakan. Hingga suatu ketika, Tuhan menakdirkan saya menjadi seorang guru. Sewaktu mengawasi siswa-siswa ujian inilah, barulah saya menyadari apa yang diucapkan guru saya bertahun-tahun lalu. Guru saya tidak bohong. Mungkin ucapannya terkesan arogan, tapi mengenali siswa yang menyontek sewaktu ujian memang sangatlah mudah. Seolah di jidat-jidat para siswa sudah ada kodenya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pengalaman selama bertahun-tahun, berikut ini tanda-tanda yang sering saya jumpai ketika ada siswa menyontek sewaktu ujian.<\/span><\/p>\n<h4><b>Mereka menggunakan metode yang konvensional<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan pertama mengapa saya tahu murid menyontek adalah karena saya pernah juga sekolah. Saya terakhir mengenyam pendidikan SMA sekitar 12 tahun silam. Sudah cukup lama memang. Selama itu, sekolah memang banyak perubahan. Bangunan sekolah direnovasi, kurikulum pendidikan juga diganti. Namun sayangnya, cara anak-anak nyontek ternyata tidak banyak mengalami inovasi. Mereka masih menggunakan cara-cara yang mirip dengan waktu saya sekolah dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara pertama dan yang paling umum digunakan adalah dengan bisik-bisik. Siswa-siswa akan komat-kamit dengan suara pelan untuk bertukar jawaban. Tapi, karena ruangan saat ujian sangat senyap, bisikan sekecil apa pun jadi mudah didengar. Para pengawas yang sedari tadi duduk, pas mendengar siswa bisik-bisik, akan segera sadar dari mana sumber suara berasal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itulah, para siswa punya cara lainnya. Cara kedua, selain bisik-bisik, mereka juga bertukar jawaban dengan isyarat jari. Isyarat ini hanya efektif digunakan untuk soal berupa pilihan ganda. Caranya, siswa yang ditanya akan mengacungkan jari sebagai jawabannya. Mengacungkan jari telunjuk untuk jawaban A, mengacungkan dua jari untuk jawaban B, mengacungkan tiga jari untuk jawaban C, dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kode-kode ini juga ada variasinya. Tidak melulu menggunakan isyarat jari. Oleh karena isyarat jari terlalu sederhana dan rawan ketahuan, ada kalanya siswa menggunakan bagian tubuh mereka sebagai jawaban. Misalnya ketika pilihan ganda suatu nomor jawabannya A, siswa yang ditanya akan memegang alis sebagai kode. Misalnya jawabannya B, ia akan mengernyitkan bathuknya. Misalnya jawabannya C, ia akan memonyong-monyongkan cucuknya. Dan ketika ia tak tahu jawabannya, ia akan memegangi kepalanya. Mumet. Dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, metode yang dianggap sebagai terobosan dalam menyontek oleh para siswa ini, sudah ada sejak zaman Majapahit dulu. Pendek kata, ketika cara-cara ini muncul sewaktu tes, saya yo wis apal to bro dengan jurus-jurusmu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Bahasa tubuh yang merasa bersalah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para siswa sebenarnya tahu kalau menyontek itu salah. Oleh karena itulah, sekalipun mereka berusaha tampil cool, bahasa tubuh mereka justru menampilkan sebaliknya. Bahasa tubuhnya menunjukkan kalau mereka gugup, merasa bersalah, dan takut kalau kalau perbuatan mereka ketahuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah melakukan eksperimen, memelototi siswa yang hobi tengok sana tengok sini sewaktu tes. Hasilnya, saat ia tahu saya menatapnya, ia kemudian menundukkan pandangan. Tanpa berani menatap mata saya balik, ia bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Lungguh anteng, memasang wajah sok mikir dan kembali mengerjakan pekerjaannya sendiri. Batin saya, \u201cDapuranmu, Cah&#8230;\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa tubuh ini sebenarnya mirip dengan situasi ketika kita curi-curi pandang ke gebetan kita. Ketika kita memandang ke arahnya, dan ia memandang kita balik tanpa sengaja. Begitulah yang terjadi kira-kira. Kita jadi salah tingkah, hati berdebar-debar, dan berharap bahwa ia tak tahu apa yang kita lakukan sebelumnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kebijaksanaan guru<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada dua jenis menyontek yang biasanya dilakukan siswa. Pertama, nyontek dengan cara bertanya kepada teman. Kedua, membuat sebuah catatan kecil dan dimasukkan ke dalam ruangan tes. Untuk nyontek dengan bertanya kepada teman sudah saya jelaskan sebelumnya. Sementara untuk jenis kedua, sontekan berupa catatan, biasanya para guru sudah hafal di mana siswa menyembunyikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang sontekan dimasukkan saku, di kotak pensil, dimasukkan laci, kadang juga dimasukkan ke dalam tipe-x.\u00a0 Mereka simpan rapat-rapat di sana. Ketika suasana memungkinkan, catatan-catatan itu dikeluarkan. Kalau tidak, ya sudah dibiarkan ndekem di sana. Sayangnya, bapak ibu guru sudah hafal semua itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, kadang saya masih suka geleng-geleng kepala. Sebab yang saya temui dari tempat-tempat persembunyian bukan sekedar catatan. Melainkan sebuah kunci jawaban. Dari pilihan ganda hingga uraian, ada semua di kertas contekannya. Siswa yang saya tangkap basah mengaku, ia mengikuti bimbel di guru anu dari sekolah anu, dan mendapatkan kunci jawaban darinya. Alah telek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, tanpa mengaku sekalipun, saya bisa tahu kok siswa mana yang mendapatkan kunci jawaban. Cukup perhatikan lembar jawabannya di soal uraian. Kalau ada jawaban bertuliskan \u201ckebijaksanaan guru\u201d di sana, dengan atau tanpa sontekan, fix dia dapat kunci jawaban. Atau kalau tidak dapat kunci jawaban, ia nyontek temannya yang dapat kunci jawaban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah bagaimana kami, para guru, tahu bagaimana siswa saling menyontek. Jadi, mulai sekarang, kalian belajar dan berusaha sebaik mungkin. Soalnya, metode kalian udah kami hafal di luar kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kalau mau <a href=\"https:\/\/www.suara.com\/health\/2021\/01\/25\/070500\/ketahui-5-dampak-menyontek-bisa-rusak-masa-depan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nekat,<\/a> silakan berinovasi. Pun, kalian akan tetep ketahuan wkwkwk.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap kali ujian, saya selalu menemui setidaknya satu guru yang hobi menakut-nakuti siswanya. Dia akan berkata kepada kami, siswa-siswa yang diawasinya, agar mengerjakan ujiannya secara mandiri. Katanya, menyontek adalah perbuatan yang sia-sia. Secanggih apapun cara kami menyontek, ia sesumbar kalau ia akan tetap mengetahuinya. Sungguh, ucapan yang sangat kemlethe. Tentu saya tidak langsung percaya. Saya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":600,"featured_media":142855,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[2094,1532,4279,4281],"class_list":["post-142771","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-guru","tag-kebiasaan","tag-menyontek","tag-ujian"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142771","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/600"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=142771"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/142771\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/142855"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=142771"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=142771"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=142771"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}