{"id":141986,"date":"2021-09-28T14:00:45","date_gmt":"2021-09-28T07:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=141986"},"modified":"2021-09-28T13:24:25","modified_gmt":"2021-09-28T06:24:25","slug":"mahasiswa-mengamen-buat-danus-itu-bunuh-rezeki-orang-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-mengamen-buat-danus-itu-bunuh-rezeki-orang-lain\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Mengamen buat Danus Itu Bunuh Rezeki Orang Lain"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak hal positif yang saya syukuri selama pandemi ini. Pertama, tentu naiknya kesadaran masyarakat atas kesehatan. Kedua, saya bisa melihat Jogja yang selama ini dipuja-puja akhirnya ditelanjangi dan dipamerkan borok pembangunannya. Ketiga, karena saya melihat kreativitas masyarakat diasah untuk tetap hidup dan waras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, tentu karena saya tidak lagi melihat mahasiswa mengamen dan jualan bunga mawar di perempatan jalan besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda membaca tulisan saya sebelumnya, pasti Anda ingin nyinyir. \u201cLho bukannya situ membela pengamen yang mengganggu. Kok sama mahasiswa yang cari dana malah membenci? Standar ganda ya?\u201d Jika Anda berpikir ini standar ganda, saya yakinkan bahwa Anda salah besar. Bukan standar ganda, tapi memang ada standar berbeda yang harus saya tekankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bicara perkara mahasiswa dahulu. Kita bisa bersepakat bahwa mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang diakui memiliki intelektualitas yang lebih. Dibanding dengan masyarakat umum, mahasiswa dipandang penuh percikan gagasan dan siap mempraktikkan langsung gagasan mereka demi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saya melihat banyak mahasiswa keblinger dengan kebanggaan intelektualitas ini. Dan keblinger ini diejawantahkan dengan membunuh rezeki rakyat lain dengan kondisi ekonomi lemah. Tidak usah jauh-jauh bicara gagasan dalam level nasional. Sejak melakukan proyek dana usaha (danus) saja, mereka sering membunuh rezeki orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang saya maksud adalah mahasiswa mengamen dan jualan bunga tadi. Budaya danus yang berangsur kuno ini masih saja dilakukan. Dan mentalitas \u201cuang mudah\u201d dengan mengamen dan jualan di perempatan jalan ini benar-benar memuakkan, bahkan tidak manusiawi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa mahasiswa mengamen saya sebut membunuh rezeki? Tentu karena para mahasiswa ini memang merebut mata pencaharian orang yang sudah kesulitan secara ekonomi. Mereka bersaing dengan para pengamen lain yang berusaha bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara jualan bunga di perempatan jalan juga sama saja. Mereka merebut ruang usaha orang lain yang jelas lebih membutuhkan daripada para mahasiswa. Namun, dengan semangat berapi-api mereka tetap berjualan tanpa ada rasa sesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan mahasiswa mengamen, para pengamen dan penjual jalanan menggantungkan hidup mereka. Mereka mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka jualan di bawah panas dan hujan untuk makan. Tidak ada mimpi-mimpi revolusioner selain untuk menyambung hidup di keesokan harinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan para mahasiswa ini merebut lapak mereka dengan segala privilege. Dengan alat musik lengkap serta penampilan menarik, mereka merebut jatah hidup orang demi kepuasan semu ala pemuda penuh gagasan. Kalau tidak mendanai makrab, paling mendanai kegiatan kampus yang sifatnya tentu kalah genting ketimbang orang yang menyambung hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu kehadiran mereka menyingkirkan para pengamen \u201cbeneran\u201d dari panggung peristiwa. Mereka saja datang penuh kesiapan, dan sering beramai-ramai. Para pengamen mungkin, mungkin lho ya, akan jiper di hadapan agen perubahan ini. Tidak ada persaingan sempurna antara pengamen dan mahasiswa yang mengamen. Yang ada panggung jalanan direbut muda-mudi yang harusnya memanfaatkan privilege dan potensi mereka bagi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal para mahasiswa ini punya akses ke sumber daya kapital. Bermodal posisi mereka, mahasiswa bisa mengajukan proposal untuk acara mereka. Jangan mengeluhkan dana kampus yang kecil, soalnya emang nggak bakal gede dan nggak kepikiran ngasih gede. Kalian semua punya akses menuju pemodal. Mengamen Anda bisa dilakukan di depan pemodal dengan membawa bargaining power.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak mampu (keterlaluan sih) ngamen dengan <a href=\"https:\/\/www.bola.com\/ragam\/read\/4317283\/contoh-proposal-pengajuan-dana-yang-baik-dan-benar-untuk-berbagai-kegiatan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">proposal,<\/a> mahasiswa masih punya banyak privilege untuk mendanai kegiatan mereka. Mulai dari berjualan jasa atau barang, membuat webinar berbayar, sampai bersama-sama menulis di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Anda semua punya privilege yang lebih dari para pengamen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan jika sudah mentok sampai ujung, Anda bisa menunda acara. Sedangkan para pengamen \u201cbeneran\u201d tidak bisa menunda untuk makan sehari-hari. Bukankah ini common sense?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran Anda di tengah laga para pengamen ibarat Presiden Jokowi tiba-tiba jualan bayam di pasar. Dengan privilege seorang presiden, tentu lapak lain bisa diredupkan dengan kharisma pemimpin atau ancaman ormas partai. Padahal para pedagang lain sedang berusaha mencintai takdir dan bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya malah jadi malu sendiri. Apakah sebatas ini saja kemampuan agent of change? Apakah hanya uang mudah yang dipertimbangkan mahasiswa saat mencari dana? Atau memang mahasiswa sudah sebegitu menyedihkan, sampai harus mendorong mata pencaharian orang dari panggung danus mereka?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika memang benar demikian, yah mau bagaimana lagi. Berarti mahasiswa ini telah merusak mental perubahan dan berbagai privilege yang mereka miliki. Semua demi kesan bekerja keras dan eksis selayaknya aktris.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisa pake cara lain lho, Bos.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":60462,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[4425,34,13546,13547],"class_list":["post-141986","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-danus","tag-mahasiswa","tag-mengamen","tag-proposal"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141986","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141986"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141986\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141986"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141986"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141986"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}