{"id":141325,"date":"2021-09-26T15:00:58","date_gmt":"2021-09-26T08:00:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=141325"},"modified":"2021-09-26T14:41:15","modified_gmt":"2021-09-26T07:41:15","slug":"dunia-butuh-pendengar-yang-baik-bukan-orang-yang-terlalu-banyak-bicara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dunia-butuh-pendengar-yang-baik-bukan-orang-yang-terlalu-banyak-bicara\/","title":{"rendered":"Dunia Butuh Pendengar yang Baik, Bukan Orang yang Terlalu Banyak Bicara"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang kita ini lucu, ingin didengar, namun tak mau jadi pendengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil kita sering didorong untuk berani berbicara di depan umum dan senang ketika mendapat tepuk tangan setelah mengemukakan pendapat. Ketika ada teman yang cerita, kita cenderung tidak sabaran mendengarkannya, terburu-buru memotong cerita kemudian memberikan tanggapan dan tidak jarang malah \u201cberadu nasib\u201d, seperti:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBro, aku mau cerita, bla bla bla, gitu bro\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, lu masih mending, la gue lebih parah bro bla bla\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita juga sering menanggapi hal yang harusnya itu hanya perlu diiyain dan didengarin. Kita ini terlalu banyak bicara. Sementara itu kita jarang sekali untuk menjadi pendengar yang baik, pendengar yang mampu mendengarkan cerita dengan saksama, mencoba memahami, dan berempati dengan lawan bicara kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal nih ya, secara biologis kita punya kemampuan untuk mendengar tiga kali lebih cepat dibanding berbicara. Hal ini menandakan kita memiliki kapasitas berlebih di dalam otak untuk mendengarkan suatu hal tapi kita jarang menggunakan kemampuan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal ketika kita menjadi seorang pendengar yang baik, kita bisa dapet banyak benefit. Inilah benefit yang dimaksud:<\/span><\/p>\n<h4><b>Menjaga kondisi kesehatan mental orang terdekat<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika menjadi seorang pendengar yang baik, kita bisa menjaga orang-orang terdekat kita agar mentalnya tetap sehat. Dan tentu saja, kita bisa menjadi tempat untuk menyalurkan emosi.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi pendengar yang baik akan memberikan kenyamanan bagi lawan bicara karena lawan bicara merasa diperhatikan dan dihargai.<\/span><\/p>\n<h4><b>Melatih kesabaran<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan tidak terburu-buru memotong pembicaraan dan mendengar dengan seksama hal itu akan membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih penyabar<\/span><\/p>\n<h4><b>Tidak gampang menghakimi orang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi pendengar yang baik akan membuat kita mendengar, mengerti, dan memahami cerita lawan bicara kita. Hal itu mampu membuka perspektif kita mengenai berbagai sudut pandang. Hal ini akan menjadikan kita untuk tidak mudah menjudge suatu hal<\/span><\/p>\n<h4><b>Bisa bikin kenyang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi pendengar yang bisa bikin kenyang loh. Bayangin aja ketika kita beli nasi goreng terus kita diajak ngobrol sama yang jualan. Kita dengerin cerita dari beliau dan kita jadi akrab, pasti penjualnya nggak sungkan buat nambahin porsi pesanan kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah terus gimana sih caranya jadi pendengar yang baik? Waktu kuliah kemarin saya dapet nih beberapa cara untuk jadi pendengar yang baik. Cara tersebut adalah:<\/span><\/p>\n<h4><b>Encouraging<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ketika lawan bicara kita sedang cerita kemudian ada jeda kita bisa menjawab dengan \u201cumm\u201d, \u201chmm\u201d, \u201cyaa\u201d, kita juga bisa menggunakan gestur tubuh seperti mengangguk-angguk dan ekspresi wajah yang positif sesuai kondisi. Cara yang pertama bertujuan untuk mendorong dan mejaga lawan bicara kita tetap bercerita, dan membuat lawan bicara merasa diperhatikan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Paraphrasing<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kita sedang ngobrol nih, kemudian lawan bicara diem, kita bisa ngajuin pertanyaan dengan cara mengulang apa yang lawan bicara kita sampaikan. Kita juga bisa meringkas hal-hal penting yang dikatakan oleh lawan bicara kita kemudian memastikan apakah hal tersebut sesuai atau tidak dengan yang ia bicarakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya nih lawan bicara lagi cerita soal kendalanya kuliah. Kemudian, muncul statement bahwa dia lagi pusing banget gara-gara tugas yang menumpuk dan deadlinenya yang mepet. Kita bisa nih jawab kayak gini,\u00a0 \u201cWah kamu lagi banyak tugas ya dan kebetulan juga deadlinenya mepet?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira begitu lah, kalian harusnya paham. Jadi temen mbok ya peka gitu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Summarizing<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Summarizing adalah merangkum semua isi percakapan yang udah disampein. Biasanya digunakan di akhir sesi. Dengerin baik-baik cerita temanmu, ambil intinya, lalu rangkum, sampaikan di akhir. Meski kayak mengulang, setidaknya hal ini memberi kesan bahwa kamu peduli dengan ceritanya. Hal itu berarti banget, loh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi pendengar yang baik merupakan sebuah proses dan harus kita latih. Selama proses tersebut pastinya kita akan dihadapkan rasa males, nggak sabaran, capek, dan ngerasa cerita yang disampein nggak penting. Tapi, percayalah, temen-temen, ketika kita bisa menolong dan berbuat baik untuk orang lain, itu sama saja berbuat baik untuk diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut yang artinya kita diperintahkan untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Akhir kata, salam sayang, semoga harimu menyenangkan.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekali-kali, gunakan telingamu.<\/p>\n","protected":false},"author":1643,"featured_media":141558,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[244,13516],"class_list":["post-141325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-kesehatan-mental","tag-pendengar"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1643"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141325"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141325\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/141558"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}