{"id":1411,"date":"2019-05-16T09:00:05","date_gmt":"2019-05-16T02:00:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1411"},"modified":"2021-10-08T12:49:16","modified_gmt":"2021-10-08T05:49:16","slug":"hidup-itu-proses-penelitian-sepanjang-masa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hidup-itu-proses-penelitian-sepanjang-masa\/","title":{"rendered":"Hidup itu Proses Penelitian Sepanjang Masa"},"content":{"rendered":"<p>Kira-kira begitulah kata sepasang peneliti, eh bukan. Hanya sepasang manusia yang sedang bercanda tawa. Celetukan yang spontan muncul begitu saja dari bibir saya ketika sedang berboncengan dengan si mas (bukan jenis ikan, tapi sejenis pasangan hidup gitu). Sebenarnya kala itu obrolannya cukup sederhana, soal menu sahur esok hari dan bagaimana mengantisipasi kegagalan sahur seperti dua malam sebelumnya, akhirnya muncul ide untuk menyiapkan sahurnya di kos masing-masing malam ini dan difotoin supaya nggak mager masak gitu ceritanya. Kan <em>no pict hoaks<\/em> kalau kata mak Lambe Turah. Nah, dari situ kami mulai guyonan, \u201cHalah kok pakek difoto segala, udah kaya laporan penelitian.\u201d Dan saya jawab \u201cHlo jangan salah, perjalanan kita ini proses penilitian seumur hidup loh.\u201d Akhirnya si mas cuma bisa geleng-geleng sambil senyum\u2014entah apa makna senyumnya.<\/p>\n<p>Tapi yang jelas, setelahnya saya kepikiran terus oleh celetukan yang muncul tadi, apa iya kalau hidup itu ya sama halnya dengan proses penelitian?<\/p>\n<p>Kupikir-pikir nggak begitu salah juga sih, coba kita perhatikan bersama. Dalam sebuah penelitian, pasti awalnya hanya berdasarkan gagasan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/penjaskes\/tips-sederhana-menyiapkan-makanan-sehat-untuk-keluarga\/\">sederhana<\/a> atau bahkan berawal dari kekesalan terhadap sesuatu atau juga hal-hal tak terduga lainnya. Teori gravitasi yang menjadi legenda dalam dunia sains sampai saat ini pun, awalnya hanya karena rasa penasaran Newton terhadap buah apel yang jatuh. Seringkali perjalanan hidup kita juga seperti itu\u2014dimulai dari sebuah hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Penuh kejutan, begitulah kira-kira. Walaupun nggak banyak yang berakhir husnul khotimah layaknya teori gravitasi itu.<\/p>\n<p>Dalam sebuah penelitian yang baik, prosesnya akan selalu melibatkan<em> literature review<\/em> yaitu sebuah proses pembacaan terhadap karya-karya yang mirip atau karya-karya terkait objek yang sedang kita teliti. Untuk apa? Untuk menambah informasi sebanyak-banyaknya dalam proses penelitian sehingga peneliti benar-benar tahu arah penelitiannya serta potensi apa yang dimiliki oleh hasil penelitian tersebut nantinya. <em>Literature review<\/em> ini mirip dengan cara kita belajar sesuatu, bisa dengan membaca buku, mendengarkan pidato, ceramah, dan lain-lain yang kemudian menyumbangkan gagasan-gagasan baru pada diri kita. Maka semakin banyak dan berkualitas (bukan hoax, penggiringan opini) yang kita baca dan pelajari akan semakin bijaksana kita dalam mengambil sebuah keputusan.<\/p>\n<p>Terkait <em>literature review<\/em> ini, pernah nggak kalian baca jurnal yang dalam daftar pustakanya terdapat suber dari blog atau situs-situs pribadi dengan tingkat kredibilitas menengah ke bawah lainnya? Aku <em>sih<\/em> pernah (baca : sering) dan bahkan bukan dari orang sembarangan, sekaliber dosen dan para akademisi. Bukan bermaksud merendahkan blog, saya paham betul bahwa mengisi blog tidak mudah, penuh pertimbangan untuk memposting sesuatu di blog. Tapi dalam kategori informasi ilmiah, blog adalah sesuatu yang tingkat keharamannya lumayan tinggi karena dinilai kurang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi nyatanya sebegitu sulit menghindar dari blog. Nah terus kenapa? Ya gitu, tahapan atau proses dalam penelitian tidak semuanya bisa dijamin terpercaya, kadang sumbernya bahkan <em>ngasal<\/em>. BIASA. <em>Haha<\/em><\/p>\n<p>Jenis penelitian itu kurang lebih ada 2. Kualitatif dan kuantitatif atau bisa gabungan keduanya. Secara ngawur, kuantitatif itu mungkin bisa disebut <em>full-border<\/em> dan kualitatif itu lebih <em>borderless<\/em> dan cair. Nggak ada yang lebih baik atau lebih buruk, hanya beda pada upaya penyimpulan saja. Begitupun kita, mau dibuat rigid kaya kuantitatif atau ngalir aja kaya kualitatif. Kedua-duanya ada konsekuensinya, yang <em>borderless<\/em> kalau terlalu <em>less<\/em> ya bisa bablas kemana-mana sampai nggak dapat kesimpulan, makanya anak-anak filsafat dan soshum lain banyak yang lama lulusnya. <em>Halah alesan!<\/em><\/p>\n<p>Sedangkan kuantitatif, kita dimudahkan dengan sistem yang sangat terstruktur. Tapi jangan salah, kesalahan masukin satu data aja bisa merubah kesimpulan kita. Nah ini harus disiasati dengan pikiran yang santai, biar <em>ndak<\/em> stress berkepanjangan. <em>Hehe<\/em><\/p>\n<p>Lah terus kalau memang hidup itu adalah perjalanan penelitian seumur hidup, pasti ada hasilnya dong yhaa~<\/p>\n<p>Ada kesimpulannya kan yhaa~<\/p>\n<p>Iya, pasti ada. Kita\u2014manusia diberi kemampuan istimewa yang namanya refleksi sehingga kejadan-kejadian yang kita lalui dalam hidup nggak mungkin berlalu begitu saja, pasti sempat kita pikirkan walaupun sejenak.<\/p>\n<p>Kesimpulan-kesimpulan parsial seringkali kita dapat setelah mengalami masa-masa yang <em>memorable <\/em>baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Misalnya nih, sesaat setelah putus sama pacar beberapa diantara kita lalu berkesimpulan bahwa semua laki-laki atau semua perempuan tu brengsek dan suka nyakitin atau sesaat setelah makan sambal kita berkesimpulan bahwa semua yang mengandung cabai itu pedas. Tapi kenapa itu semua baru kesimpulan parsial? Karena nggak ada yang absolut di dunia ini, semua hasil penelitian masih bisa difalsifikasi atau diperbaharui kaya teori geosentris yang sempat merajai pikiran manusia berabad-abad lamanya. Tapi kita bisa lihat sendiri saat ini teori tentang pusat alam semesta mengarah pada matahari (heliosentris) dan bukan tidak mungkin akan mengalami pembaharuan lagi. Sama persis kaya perjalanan hidup kita kaaan~<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam sebuah penelitian, biasanya awalnya berdasarkan gagasan sederhana atau berawal dari kekesalan terhadap sesuatu atau juga hal-hal tak terduga lainnya. <\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":1421,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[357,356,358],"class_list":["post-1411","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-hidup","tag-penelitian","tag-sepanjang-masa"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1411","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1411"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1411\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1421"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1411"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1411"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1411"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}