{"id":141074,"date":"2021-09-23T12:30:50","date_gmt":"2021-09-23T05:30:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=141074"},"modified":"2021-09-23T00:39:15","modified_gmt":"2021-09-22T17:39:15","slug":"3-kalimat-yang-tidak-boleh-diucapkan-kepada-pasutri-yang-belum-dikaruniai-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-kalimat-yang-tidak-boleh-diucapkan-kepada-pasutri-yang-belum-dikaruniai-anak\/","title":{"rendered":"3 Kalimat yang Tidak Boleh Diucapkan kepada Pasutri yang Belum Dikaruniai Anak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menikah pada 2013, dan setelah lima tahun, barulah istri saya hamil dan melahirkan anak pertama kami pada usia keenam pernikahan kami. Saya menyadari lima tahun itu masih sebentar dibandingkan dengan teman-teman kami yang hingga sekarang belum dikaruniai buah hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang lima tahun itu menjadi masa yang sangat sulit bagi kami, dan menjadikan kami paham, betapa menyakitkannya pertanyaan perihal belum hamilnya istri saya. Saya merasakan ada kalimat-kalimat tertentu yang seharusnya tidak diungkapkan kepada pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak. Tentu, ini akan berbeda manakala kita memutuskan untuk childfree yang baru-baru ini viral di media.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, sebagai manusia yang punya adab dan otak, hendaknya jangan pernah <a href=\"https:\/\/id.theasianparent.com\/jangan-katakan-11-hal-ini-pada-ibu-yang-sulit-memiliki-anak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">melontarkan<\/a> kata-kata ini pasutri yang masih belum dikaruniai seorang anak.<\/span><\/p>\n<h4><b>\u201cSudah isi belum?\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat ini bagi banyak orang hanya menjadi kata sapaan saja, daripada diam saja nggak ngomong sama sekali. Namun, pertanyaan ini akan menjadi pisau yang menusuk bagi pasutri yang belum dikaruniai anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami sendiri selama kurun waktu itu selalu gelisah manakala bulan Ramadan menuju usai. Ya, Lebaran menjadi momen uji mental bagi kami, karena hampir pasti pertanyaan ini akan meluncur begitu saja. Iya, sih, basa-basi, tapi kalau bertubi-tubi siapa juga yang tidak sakit hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat momen Idulfitri tiba, kami bagai orang yang punya banyak utang kepada sanak saudara. Ketika momen silaturahmi tiba, saat itulah kami seperti menyerahkan diri kepada para rentenir. Ya, bagaimana lagi, kata orang Jawa, buah hati itu \u201cora keno ditolak, ora keno dijaluk\u201d, yang artinya tidak boleh ditolak, juga tidak bisa diminta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya, yang mempunyai pengalaman yang sama, bahkan merasa pandemi ini adalah anugerah. Sebab, mereka bisa tetap di rumah, dan tidak harus mudik ke kampung halaman. Ya, apalagi kalau bukan untuk menghindari para rentenir itu. Bagi kami waktu itu, pertanyaan ini benar-benar memusingkan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kalimat menghakimi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sebenarnya adalah kelanjutan dari basa-basi sebelumnya. Ketika pertanyaan \u201csudah isi belum\u201d sudah dijawab. Ternyata ada kalimat selanjutnya, \u201cKamu KB, ya?\u201d, \u201cKamu sengaja, ya, menunda dulu,\u201d dan lain sebagainya. Sumpah, ini sok tau banget, dan terlalu mengurusi privasi orang lain. Ya, kalau misalnya, iya, saya kira itu nggak apa-apa. Namun, bila ini sebuah ketidaksengajaan, ini bikin sakit hati doang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah saat Idulfitri, kami berkunjung ke rumah adik dari nenek keluarga istri. Beliau masih terlihat sangat sehat dan etes. Sebagai seorang aktivis organisasi masyarakat, beliau juga banyak bercerita mengenai isu politik zaman Nippon bahkan zaman megalitikum. Namun, tanpa kami prediksi, muncul pertanyaan pertama, \u201cSudah hamil belum?\u201d Kami menjawab, \u201cMohon doa restunya, Mbah.\u201d Eh, tiba-tiba beliau mengatakan, \u201cWoo, gabuk.\u201d Sebuah istilah yang dipakai untuk menggambarkan biji padi yang kopong tanpa isi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepulang dari rumah istri saya menangis sejadi-jadinya. Plis deh, kula suwun, Mbah, jangan berkata itu lagi!<\/span><\/p>\n<h4><b>Kalimat saran<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebaiknya, kamu ke sana, saja, seorang dukun baik hati dan tidak sombong.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu sebaiknya makan buah khuldi saja, nanti biar cepat punya momongan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Deretan kata itu sebenarnya mempunyai niat yang baik, berupa saran. Namun, kalimat ini sebenarnya tidak jauh beda menyakitkannya dari dua model kalimat sebelumnya. Bahkan itu juga berlaku dalam bentuk hadiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lama ini, istri saya mengadakan giveaway. Sebagai seorang ibu yang berkarier dalam bidang jual beli kurma muda, istri saya merasa \u201csudah waktunya\u201d untuk memberikan barang dagangannya, tidak untuk dibeli melainkan disedekahkan sekaligus ongkos kirimnya. Nama yang muncul dalam pikirannya kemudian adalah temannya yang kebetulan belum dikaruniai seorang buah hati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbak, saya kasih kurma muda, ya. Semoga bermanfaat,\u201d Istri saya tiba-tiba mengirim pesan WhatsApp kepada temannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak, Mbak, maaf, saya nggak butuh. Terima kasih.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mak deg. Istri saya tiba-tiba merasa bersalah, dan segera meminta maaf. Kami akhirnya tahu, bahwa hadiah saja bisa menyakiti hati seseorang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saat itu, kami tidak pernah, bertanya, menebak-nebak, hingga menyarankan pengobatan apa pun kepada sejawat kami yang belum dikaruniai seorang buah hati. Kecuali jika mereka menanyakan terlebih dahulu dan memberikan saran tentu saat suasana memungkinkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami juga masih ingat betul manakala kami diam-diam berjuang, berobat ke sana ke mari, tanpa siapa pun yang tahu, kecuali kami berdua dan orang senasib seperjuangan dengan kami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, masih mau mempertahankan basa-basi menyakitkan itu?<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi orang mulutnya mbok jangan jahat-jahat.<\/p>\n","protected":false},"author":1049,"featured_media":141121,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[467,13461,13460,13462,13463],"class_list":["post-141074","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-anak","tag-karunia","tag-pasutri","tag-prasangka","tag-tekanan-sosial"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141074","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1049"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141074"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141074\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/141121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141074"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141074"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141074"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}