{"id":140981,"date":"2021-09-22T14:00:27","date_gmt":"2021-09-22T07:00:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=140981"},"modified":"2021-09-22T12:14:12","modified_gmt":"2021-09-22T05:14:12","slug":"melihat-betapa-suksesnya-dangdut-jawa-dari-perspektif-orang-batak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/melihat-betapa-suksesnya-dangdut-jawa-dari-perspektif-orang-batak\/","title":{"rendered":"Melihat Betapa Suksesnya Dangdut Jawa dari Perspektif Orang Batak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat sedang menikmati suguhan video dangdut Jawa di YouTube, mata saya terhenti pada salah satu komentar yang berbunyi,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kok bisa lagu Jawa digemari dari Sabang Sampai Merauke, padahal ngerti artinya aja nggak?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Yang suaranya bagus orang Batak, yang terkenal dangdut Jawa.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari marga yang tertera pada nama sang komentator sih, hampir dipastikan ia adalah orang Batak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, apakah pertanyaan dan pernyataan itu benar adanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita telaah satu persatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, tentang lagu berbahasa Jawa yang digemari, dan dangdut Jawa yang terkenal dari Sabang sampai Merauke. Satu hal yang perlu kita sadari, bahwa orang Jawa tersebar di mana-mana, di seluruh pelosok negeri ini. Terlebih sejak adanya program transmigrasi di zaman Orde Baru, orang Jawa ada di mana-mana. Wong presidennya saja orang Jawa, lho. Jadi ya sangat wajar, bila lagu berbahasa Jawa dan dangdut Jawa memiliki keterimaan tinggi dan penggemar yang sangat banyak, di negeri ini. Alamiah, tho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, tentang menggemari lagu yang arti liriknya tidak dimengerti. Lha ini juga, jelas sangat masuk akal, karena musik adalah bahasa yang universal. Orang bisa terhanyut dalam irama sebuah lagu, tanpa harus paham, apa arti kata-kata yang dilantunkan si penyanyi. Sebuah lagu itu kan, bukan cuma terdiri dari lirik saja. Ada notasi, nada, chord, beat, aransemen, dll. Tanpa sadar, kita bisa trenyuh, menangis, menghentak-hentakkan kaki, menggoyang badan, saat Lisa Blackpink menyanyi. Padahal, Lisa adalah orang Korea. Apakah para penggemar Lisa pasti tau arti lagu yang dinyanyikan idolanya? I don\u2019t think so.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, klaim tentang orang Batak suaranya bagus, sedangkan yang terkenal dangdut Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tentang hal ini, saya perlu sedikit bercerita. Suatu malam, saat saya mengunjungi saudara di Kalimantan, saya pernah diajak mengunjungi sebuah lapo. Selain menyajikan berbagai hidangan khas Batak, di lapo itu terdapat fasilitas nyanyi gratis, bagi siapa saja yang ingin menyumbangkan suaranya. Asal ada pengunjung yang bisa bermain keyboard untuk mengiringi, pastilah akan ada pengunjung lain yang bernyanyi. Kadang sesi menyanyi itu dihangatkan dengan tambahan minuman tuak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari anak kecil, naposo, amang-amang, inang-inang, sampai opung doli dan opung boru, orang Batak dikenal memiliki kultur menyanyi yang kuat. Bisa dikatakan sebagai bakat, bisa juga dianggap karena pengaruh faktor lingkungan sekitar, yang penuh dengan nyanyian di sana sini. Anak-anak kecil saja sudah \u201cotomatis\u201d bisa berbagi suara, suara 1, 2, 3, bahkan 4, atau bahasa kerennya, soprano, alto, tenor, dan bass.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar orang Batak dikenal memiliki range suara yang lebar. Dan memang, sepertinya bernyanyi dengan oktaf tinggi adalah obsesi dari hampir tiap orang Batak. Urat-urat leher yang menegang sampai terlihat mau putus saat bernyanyi, serta muka yang memerah, dan bulir keringat yang mengalir, seakan menjadi ciri tersendiri, saat mereka bernyanyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karakter suara orang Batak pun sangat khas. Cenderung keras dan menohok. Namanya saja Batak, BerAni gerTAK, hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan suara dari orang Ambon, misalnya, yang sering pula bernyanyi dengan oktaf tinggi, namun cenderung halus. Cara menyanyi Judika dan alm.Glenn, dapat menjadi contoh perbedaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak heran, di banyak ajang pencarian bakat, orang Batak cukup sering menjadi juara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbekal beragam kelebihan serta prestasi macam itu, wajar bila orang Batak begitu bangga dan menganggap dirinya memiliki kelebihan dari orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tentu juga, kita perlu menyadari bahwa modal suara bagus, tinggi, nan menggelegar saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan dan ketenaran. Saya menjadi saksi, saat di lapo yang saya ceritakan tadi, ada orang yang bisa menyanyikan lagunya Bang Judika tanpa harus minta transpose, untuk turun oktaf, pada si pemain keyboard. Bahkan kalau perlu, ia ingin menaikkan oktafnya lagi, paling tidak setengah nada. Pokoknya sampai mentok, melengking, tidak keluar suaranya, baru nyerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu mengapa tidak semuanya bisa sesukses bang Judika?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di satu sisi, saya salut dengan idealisme orang Batak dalam bernyanyi. Mereka ingin semuanya ditampilkan secara sempurna. Apalagi kalau mau tampil di panggung, persiapan mereka begitu matang, mulai dari olah vokal, tata gerakan, sampai urusan outfit yang dikenakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, menurut saya pribadi ini lho ya, idealisme yang kelewat tinggi itu, justru menjadi kontradiktif, karena mereka tak mudah berkompromi dengan aspek-aspek lain, termasuk selera pasar. Banyak yang menjadi juara festival, kompetisi menyanyi, namun di antara mereka, tak banyak yang \u201cmentas\u201d menjadi seorang penyanyi yang mendunia, ya setidaknya di YouTube.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah karena sulit dilafalkan oleh orang dari suku lain, atau karena sebab lain, lagu-lagu berbahasa Batak juga terkesan bersifat eksklusif, kebanyakan hanya muter di kalangan orang Batak sendiri. Akibatnya, ya sangat sulit mendistribusikan lagu-lagu Batak, di blantika musik Indonesia. Segmented banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah lagi, pembawaan kebanyakan orang Batak yang agak kaku, dan kurang luwes, juga bisa dijadikan alasan, sulitnya lagu-lagu Batak diterima masyarakat umum. Hal ini berbeda dengan orang Jawa, yang pada umumnya mudah untuk diterima di mana-mana. Udah gitu, biasanya orang Batak juga bersuara lantang. Jadi, ketika orang-orang Batak sedang ngobrol di pasar, orang lain akan mengira bahwa mereka sedang berantem. Padahal ya memang bawaannya seperti itu. Kalau orang Batak disuruh seperti putri Solo, yo malah wagu, hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Judika dapat dijadikan satu contoh sukses. Ia menjadi finalis suatu kompetisi menyanyi, namun kariernya tak hanya berhenti di situ saja. Lagu-lagunya diterima pasar, dan di mana pun berada, ia pandai membawakan diri, tanpa harus kehilangan ke-Batak-annya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kenyataan itu saja, seharusnya kita sudah bisa memahami bahwa ada banyak faktor yang menentukan kesuksesan suatu lagu, beserta penyanyinya. Merasa memiliki suara bagus tentu tidak salah. Namun yang keliru adalah saat kita membanggakan diri, sambil merendahkan yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat satu kelebihan diri sendiri saja, kadang bisa membuat kita buta tentang kelebihan yang dimiliki orang lain. Ujung-ujungnya, kita tidak terima saat orang lain mengalami kesuksesan. Ya, tho?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau orang dari suku apa pun, kalau memang sudah jatahnya sukses, ya tidak akan ada yang bisa menghalangi, meski kita merasa lebih hebat dari orang itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, musik itu bahasa universal. Kalau orang sudah cocok dengan suatu musik, ya suka aja, tanpa harus tau apa arti lagunya. Seperti salah satu komen lain yang bilang <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=WlmWXoP0C0s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">begini,<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Saya orang Ngawi dan merantau di Medan, banyak banget temen-temen saya atau siapapun yang saya jumpai di Medan, suka putar lagu mas Denny Caknan full album. Ketika saya tanya, \u2018tau bang arti lagunya?\u2019 Mayoritas gak tau, mereka setel ya karena enak aja didenger.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oya, saya sendiri, seorang Silaban-Sihombing, tak pala pandai bernyanyi, tapi sangat bangga dengan kiprah para penyanyi Batak macam Judika Sihotang, Joy Tobing, atau Victor Hutabarat. Di sisi lain, saya juga sangat menikmati lagu-lagu campursari berbahasa Jawa dari alm.Didi Kempot, atau lagu-lagu Mandarin-nya Teresa Teng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, rasanya tak perlu juga membuat perbandingan kesuksesan seseorang berdasarkan kesukuannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahhh.. Ayok, mainkan dulu lagu kita itu!<\/span><\/p>\n<h5><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><\/strong><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><em>ini<\/em><\/a><em>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tak paham aku.<\/p>\n","protected":false},"author":874,"featured_media":140991,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[6458,13446,8054,13447,248],"class_list":["post-140981","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-batak","tag-dangdut-jawa","tag-denny-caknan","tag-judika","tag-musik"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140981","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/874"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=140981"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140981\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/140991"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=140981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=140981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=140981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}