{"id":140678,"date":"2021-09-21T11:00:12","date_gmt":"2021-09-21T04:00:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=140678"},"modified":"2021-09-21T02:13:53","modified_gmt":"2021-09-20T19:13:53","slug":"pandemi-kuda-poni-dan-negara-yang-hobi-mengurusi-moral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pandemi-kuda-poni-dan-negara-yang-hobi-mengurusi-moral\/","title":{"rendered":"Pandemi, Kuda Poni, dan Negara yang Hobi Mengurusi Moral"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena langit masih menyisakan rintik-rintik gerimis, meski sudah lelah bermain karambol sejak sore tadi, forum di warung Yu Marmi urung bubar. Di ujung amben galar, Pardi dan Kanapi cekikikan setelah bergantian menatap layar hape Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCantik juga, ya. Kenapa ndak jadi pramugari aja, biar lebih terhormat gitu.\u201d Seloroh Pardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau dari tinggi badannya sih menurutku lebih cocok jadi foto model ini, Di.\u201d Kanapi menimpali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar itu Solikin dengan cepat merebut kembali gawainya, \u201cSampean berdua ini lho, Mas, kok malah mengomentari fisik orangnya lho. Mbok ya lebih empatik gitu. Mbak ini tuh korban keadaan, persis seperti kita-kita ini.\u201d protes Solikin dengan mulut mecucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOoo aku ya ndak terima kalau mbak itu dibilang korban. Sama-sama terdesak mungkin iya, Kin, tapi menurutku dia tetap pelaku. Bukan korban!\u201d Tandas Pardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa seh? Siapa yang kalian perdebatkan itu?\u201d Dengan membawa serenteng kacang asin dari dalam warung Cak Narto menyela keriuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin mengulurkan gawainya kepada Cak Narto, memperlihatkan sebuah berita tentang penangkapan dan penetapan tersangka seorang selebgram berinisial <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/foto-news\/d-5731897\/penampakan-selebgram-rr-si-kuda-poni-yang-live-bugil-masturbasi-di-bali\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">RR<\/a> alias Kuda Poni oleh Polresta Denpasar dalam kasus pornografi dan UU ITE. Mbak selebgram itu terancam pidana penjara paling lama 12 tahun karena diduga menyiarkan konten seks secara langsung (live) di aplikasi streaming Mango dan BIGO.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWeleeeh\u2026 lama-lama penjara tambah sesak, Ndes, kalau gini ceritanya.\u201d Cak Narto menggeleng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHayo, Cak, mbak itu korban apa pelaku, menurut Sampean?\u201d Goda Kanapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPerdebatannya mbok yang mutu gitu, Ndes. Mau dilihat sebagai pelaku atau korban, kalau menurutku yang perlu diperdebatkan, ya pemenjaraan untuk kasus-kasus semacam ini. Sebab, menurutku dari apa yang dilakukan mbak itu, tidak ada pihak yang dirugikan. Apa tadi, Kin, pasal pornografi ya?\u201d Cak Narto meminta konfirmasi. Solikin mengangguk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho lho lho\u2026 kalau ndak ada yang dirugikan lantas kenapa ada undang-undang yang mengatur itu, Cak. Kalau ditanya siapa yang rugi, jelas remaja dan anak-anak, Cak. Mereka lah korban yang nyata dari perbuatan mbak itu menyiarkan langsung prosesi begituannya.\u201d Ujar Pardi mantap dengan menjepitkan jempolnya di antara telunjuk dan jari tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBelum lagi para suami yang diam-diam ikut nonton begituan, Cak. Perbuatan mbak itu, sedikit banyak, jelas mengkhawatirkan bagi kaum istri, dong!\u201d Imbuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya lho, Cak, bener itu kata Mas Pardi&#8230;\u201d timpal Solikin, \u201c\u2026dalam konsideran Undang-Undang Pornografi memang disebutkan bahwa pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi, seperti yang sudah dilakukan mbak Kuda Poni itu, dapat mengancam kehidupan dan tatanan sosial masyarakat Indonesia, Cak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus, apalagi bunyi konsiderannya, Kin?\u201d Ujar Cak Narto diiringi gemelatak bunyi kacang asin yang beradu dengan gerahamnya. Buru-buru Solikin sekrol-sekrol hapenya, mencari lembar undang-undang itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, akhlak mulia, dan kepribadian luhur bangsa, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Eee\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSetop sampek situ saja, Kin, ndak usah macam orang deklamasi gitu. Ujung-ujungnya hal-hal normatif sok iye, kan?\u201d Mulut Solikin langsung terkatup disela oleh Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekarang gini, Di.\u201d Cak Narto menghadap ke arah Pardi dan mulai beretorika, \u201cKalau yang dianggap rugi adalah remaja dan anak-anak, karena dikhawatirkan terpapar segala negativisme konten si Mbak itu, bukankah harusnya kendali asupan informasi bagi mereka ini, remaja dan anak-anak itu, ada pada orang tua mereka? Jangan bisanya cuma nuding pihak lain dong, sedangkan sebenarnya itu tanggung jawab mereka kok, para orang tua itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau yang dikhawatirkan para istri adalah suami-suami yang menikmati konten semacam itu, aku pikir juga tidak ada yang dirugikan di sana. Para suami itu kan manusia dewasa yang punya kemerdekaan untuk menentukan apa yang mereka tonton. Lantas kenapa mbak itu diancam hukuman penjara?\u201d Dua alis Cak Narto naik turun mengakhiri kalimat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa karena undang-undangnya melarang perbuatan itu, Cak, sebab ya itu tadi, dianggap bisa mengancam moralitas bangsa. Juga menabrak nilai-nilai akhlak mulia dan kepribadian luruh bangsa. Gimana sih Sampean ini?\u201d gerutu Kanapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBiyuuuh, moralitas kok diurusi negara, apalagi dengan ancaman pidana dan hukuman penjara. Ora mashok buat aku.\u201d Cak Narto merobek sebungkus lagi kacang asin di depannya dan dengan cepat melemparkan beberapa butir ke mulutnya, \u201cLha memangnya orang-orang di atas sono tuh, bapak ibu yang terhormat para pejabat dan anggota dewan itu, moralitasnya seluhur apa seh\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWong duit bansos aja dikorupsi. Terus begitu disidangkan, vonisnya setara dengan ancaman bagi mbak Kuda Poni itu, 12 tahun kurungan. Kalau keabsurdan semacam itu dipertontonkan, menurut kalian, mana yang lebih mengancam moralitas bangsa? Siapa yang lebih bermoral, koruptor dana bansos atau mbak itu?\u201d Cak Narto terkekeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDua-duanya nggak bermoral lah, Cak\u2026\u201d timpal Solikin, \u201c\u2026dan membandingkan dua hal negatif tidak lantas menjadikan salah satunya menjadi positif, Cak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya aku tahu, Kin. Tapi gini, maksudku, kalau disandingkan, dua kasus itu secara luas dampaknya jauh berbeda, dong. Korupsi bansos korona itu jelas berefek langsung ke kehidupan masyarakat, to? Lha kalau dampak negatif perbuatan mbak itu kan masih meraba-raba dan memantik perdebatan. Karena moralitas itu ranah yang susah dikalkulasi, Kin, tergantung tempat, zaman dan konsensus komunal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian, Kin\u2026\u201d belum selesai rupanya kalimat Cak Narto, \u201c\u2026apa yang dilakukan oleh Mbak itu kan gambaran nyata perjuangan rakyat saat ini, di tengah cengkeraman pandemi yang kita semua nggak tahu kapan berakhir ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaksudnya, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha kalau kamu enak, Pi, masih ada bengkel untuk menjual jasamu, meski sepi di masa pandemi, tapi kan masih bisa untuk menyambung nyawa. Pardi juga haha-hihi, soalnya semakin banyak pesanan baliho dari politisi, dapurnya tetap ngebul. Lha si Mbak Kuda Poni, yang badannya merupakan aset dalam profesinya sebagai gadis pemandu karaoke sebelum pandemi, bisa apa dia? Sudah bagus dia ndak ngerusak rumah tangga orang. Hehehe.\u201d Cak Narto kembali tergelak. Serpihan kacang asin bermuncratan dari mulutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu mah dia yang nggak kreatif, Cak. Kan masih banyak kesempatan lain bagi orang-orang yang ubet dan ulet. Ya nggak Ndes?\u201d Ujar Kanapi tidak terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJustru dengan streaming itu bentuk ejawantah kreatifitas yang sesungguhnya, Pi.\u201d Semua yang ada di sana tergelak. Hening tiba-tiba menyela. Cak Narto melamun memandangi langit malam yang mulai cerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus menurut Sampean apa yang bisa dilakukan Mbak Kuda Poni itu, Cak?\u201d Solikin membuyarkan lamunan. Cak Narto berdiri, membebatkan sarungnya melilit pinggang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHarusnya, Kin, mbak itu protes saja pakai poster waktu ada kunjungan presiden. Nanti kan ditangkap sama aparat tuh. Lha siapa tahu habis itu diangkat jadi duta antipornografi\u2026\u201d Tiba-tiba ia sudah meringkasi rokok, korek, dan beberapa bungkus kacang asin yang tersisa, \u201c\u2026atau biar saja dihujat netijen, nanti kan dia bisa mengajukan pledoi dan siapa tahu hujatan itu bisa dijadikan alasan yang meringankan vonisnya. Hahaha.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto menghilang dari pandangan mereka. Dari dalam warung terdengar gerutu, \u201cOalaahhh\u2026ancen penak sing maido. Dari kemaren ban-bon terus. Ngoreksi pemerintah macam betul, giliran mbayar suka diutang. Mas Pi, kopi, gorengan, rokok sama kacang Cak Narto ikut siapa ini?\u201d teriak Yu Marmi mengacungkan robekan kertas pembungkus rokok yang ia gunakan sebagai catatan bon para pelanggan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah Pardi mengulurkan sejumlah uang, forum itu membubarkan diri. Langit desa cerah, gemintang mengintip, sapi-sapi dan hewan ternak bertasbih lirih. Dari radio di sudut warung, bait-bait serak Iwan Fals menyeruak.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026Masalah moral, masalah akhlak<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Biar kami cari sendiri<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Peraturan yang sehat yang kami mau<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tegakkan hukum setegak-tegaknya<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Adil dan tegas tak pandang bulu<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pasti kuangkat engkau<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi manusia setengah dewa\u2026\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":132474,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[13408,4917,5393,13410,13409,370],"class_list":["post-140678","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-kuda-poni","tag-moral","tag-negara","tag-pornografi","tag-rr","tag-selebgram"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140678","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=140678"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140678\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/132474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=140678"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=140678"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=140678"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}