{"id":14066,"date":"2019-09-19T11:45:15","date_gmt":"2019-09-19T04:45:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=14066"},"modified":"2019-09-19T13:00:07","modified_gmt":"2019-09-19T06:00:07","slug":"free-wifi-yang-sesungguhnya-nggak-benar-benar-free","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/free-wifi-yang-sesungguhnya-nggak-benar-benar-free\/","title":{"rendered":"Free Wifi yang Sesungguhnya Nggak Benar-Benar Free"},"content":{"rendered":"<p>Di zaman serba digital seperti ini, hampir setiap hari kita membutuhkan internet. Internet sudah seperti teman karib dalam kehidupan sehari-hari. Ke mana pun dan di mana pun, internet harus selalu ada untuk memudahkan proses transaksi, komunikasi hingga kelancaran mobilitas sehari-hari. Makanya, jika ada tindakan pembatasan ataupun pemutusan akses internet oleh pemerintah seperti kemarin-kemarin itu, tentu sudah sewajarnya banyak masyarakat banyak yang protes.<\/p>\n<p>Yaiyalah. Internet itu penting. Dia menjawab berbagai persoalan masalah kehidupan. Ambil saja sebuah contoh, kalau kita mau baju baru, malas memilih di pasar, tinggal membuka aplikasi <em>online shop, <\/em>klik, bayar via mBanking, lalu tunggu kiriman. Sangat efisien sekali. Tanpa perlu berdesak-desakan di pasar, ataupun panas-panasan di luar.<\/p>\n<p>Kali lain, jika kita sedang lapar. Malas harus ke luar rumah atau kantor, mengantri di warung, dan hal-hal lainnya. Tinggal pesan antar di abang-abang <a href=\"https:\/\/tirto.id\/kemenhub-ingin-hapus-diskon-ojol-kontraproduktif-rugikan-konsumen-ecd5\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ojol<\/a>. Bayar, beres. Menghemat tenaga, waktu dan energi. <em>hehe<\/em><\/p>\n<p>Internet juga menjadi teman saat kita sedang <em>boring<\/em>. Aplikasi <em>game online <\/em>sangat digemari oleh anak-anak remaja hingga dewasa untuk sekadar piknik pikiran dari kepenatan. Bisa juga dengan menonton berbagai video di laman YouTube atau <em>stalking <\/em>gebetan di media sosial. Tentunya, semua hanya bisa dilakukan ketika ada internet.<\/p>\n<p>Makanya, melihat begitu pentingnya keberadaan internet ini, kini banyak menjamur rumah makan, restoran, kafe hingga angkringan yang dengan baik hatinya menyediakan akses internet gratis. Biasanya sering ditandai dengan tulisan Free Wifi.<\/p>\n<p>Tanda Free Wifi seringnya jadi acuan bagi anak-anak millenial yang hobinya kongkow atau nongkrong bersama temannya. Juga tempat tujuan bagi pelajar dan mahasiswa yang punya banyak tugas namun memerlukan akses internet. Kesannya, mereka pergi ke kafe atau angkringan bukan untuk makan, tapi untuk meminta sumbangan internet gratis.\u00a0<em>wqwq<\/em><\/p>\n<p>Sayangnya, kalau di cermati dan dipikir-pikir ulang, Free Wifi sesungguhnya nggak benar-benar <em>free. <\/em>Mekanisme pelaksaannya itu <em>lho<\/em> yang sebenarnya nggak mencerminkan <em>free.<\/em><\/p>\n<p>Ketika saya mencari arti kata <em>free <\/em>di dalam kamus daring bahasa Inggris-Indonesia, saya menemukan beberapa makna yaitu <em>bebas, cuma-cuma\/gratis, bebas sesuka hati, terbuka.<\/em> Itu adalah beberapa makna yang menurut saya cukup relevan dengan kalimat Free Wifi.<\/p>\n<p>Tapi, pelaksanaan Free Wifi kok, sama sekali nggak mencerminkan makna kata <em>free, <\/em>ya?<\/p>\n<p><strong>Bebas\/Bebas Sesuka Hati<\/strong><\/p>\n<p>Akses <em>free wifi <\/em>memang bebas, nggak dibatasi sama sekali. Tapi, masalahnya, nggak semua orang bisa bebas mengakses <em>wifi. <\/em>Dalam pelaksanaannya, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengaksesnya.<\/p>\n<p>Jika sedang di restoran, maka hanya orang-orang di restoran saja yang bisa mengakses <em>wifi <\/em>tersebut. Mereka bisa jadi karyawan, pelanggan hingga para pekerja restoran. Bukan semua orang, hiks. Kadang, pelanggan saja masih memerlukan izin pihak restoran. Akses <em>free wifi <\/em>mereka digembok, makanya harus minta <em>password-<\/em>nya dulu ke pelayan atau karyawan restoran. Sama sekali nggak mencerminkan kata <em>free.<\/em><\/p>\n<p><strong>Cuma-Cuma\/Gratis<\/strong><\/p>\n<p>Apakah benar akses \u201cFree Wifi\u201d itu diberikan secara cuma-cuma dan gratis? Jawabannya: nggak. Kalau mau akses <em>wifi <\/em>gratis dari sebuah kafe, maka kita harus masuk ke kafe tersebut. Membeli makanan yang harganya lumayan mahal. Kemudian, mintalah <em>password wifi <\/em>ke karyawan di kafe tersebut. Lalu, apanya yang gratis? Padahal kita harus membayar makanan, camilan dan minuman yang mahal untuk mengaksesnya. <em>Hish<\/em><\/p>\n<p><strong>Terbuka<\/strong><\/p>\n<p>Apanya yang terbuka? Akses <em>wifi<\/em>-nya? Nggak sama sekali, tuh. Makna terbuka dalam Free Wifi itu hanya terbuka untuk para pelanggan, karyawan dan pekerja di kafe ataupun restoran tersebut, bukan untuk semua orang.<\/p>\n<p>Bahkan, terkadang aksesnya hanya terbatas dalam ruangan dalam kafe saja, mereka yang berada di luar dan berharap dapat mengais sedikit saja akses internetnya, sama sekali nggak bisa. Lalu, apanya yang <em>free wifi?<\/em><\/p>\n<p>Pengalaman saya, suatu kali, ketika sedang berada di mall, tiba-tiba saudara saya membutuhkan internet untuk menyelesaikan suatu urusan. Saat itu, kebetulan ia tidak memiliki kuota internet yang cukup untuk dapat menyelesaikan urusannya. Akhirnya, kami memilih untuk berdiri di sekitar kafe yang memiliki tanda Free Wifi.<\/p>\n<p>Kupikir, memang benar-benar <em>free. <\/em>Ternyata, saudara saya tidak dapat mengakses <em>wifi <\/em>tersebut karena ada gemboknya alias diberikan <em>password. <\/em>Akhirnya, karena situasi benar-benar <em>urgent, <\/em>kami memutuskan untuk masuk ke kafe tersebut. Memesan camilan dan minuman yang jika dikalkulasikan harganya sudah cukup untuk membeli paketan internet. Tapi, karena saat itu sedang <em>gopoh, <\/em>kami tidak berpikir ke arah sana. Yang penting ada kases internet, urusan selesai dengan cepat.<\/p>\n<p>Ketika makanan sudah datang, kami meminta <em>password wifi <\/em>ke karyawan kafe. Namun sungguh malang nasib saudara saya, internetnya justru tetap tidak dapat diakses. Kalaupun berhasil, sangat <em>lemooot<\/em>. Kami komplain ke karyawan kafe, namun malah dijawab, &#8220;mohon maaf, sekarang sedang banyak pengunjung, akses wifi kami batasi hanya untuk 20 pelanggan.&#8221; Dan kami adalah pengunjung ke 21 dan 22. <em>Hadeuh~<\/em><\/p>\n<p>Mungkin, sudah saatnya Free Wifi diganti dengan Free Wifi Only For Limited Person, biar nggak perlu ada yang kena tipu lagi. <em>hehe <\/em>(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA <a class=\"bump-view\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-paling-nyesek-dari-harusnya-aku-yang-di-sana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-bump-view=\"tp\">Yang Paling Nyesek Dari \u201cHarusnya Aku yang di Sana\u201d<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/siti-halwah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Siti Halwah<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanda Free Wifi seringnya jadi acuan bagi anak-anak millenial, pelajar, mahasiswa yang hobinya kongkow atau nongkrong bersama temannya. <\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":14085,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3452,3450,284,3453,3451,507,3362,3454,157],"class_list":["post-14066","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-akses-internet","tag-free-wifi","tag-game-online","tag-hemat-kuota","tag-kongkow","tag-milenial","tag-sobat-misqueen","tag-stalking-gebetan","tag-youtube"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14066"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14066\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14085"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}