{"id":14041,"date":"2019-09-19T10:45:30","date_gmt":"2019-09-19T03:45:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=14041"},"modified":"2019-09-19T11:57:59","modified_gmt":"2019-09-19T04:57:59","slug":"darurat-asap-itu-bisa-jadi-berkah-bukan-musibah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/darurat-asap-itu-bisa-jadi-berkah-bukan-musibah\/","title":{"rendered":"Darurat Asap itu Bisa Jadi Berkah, Bukan Musibah"},"content":{"rendered":"<p>Benar-benar sangat berisik aksi yang mengungkit-ungkit dampak asap kebakaran hutan kali ini. <em>Ha mbok uwis to, <\/em>karena kejadian kebakaran hutan ini rutin terjadi apabila musim kemarau sejak 2 dekade lalu <em>je<\/em>. Bukannya <em>witing tresna jalaran saka kulina?<\/em> Sebaiknya warga di Palangkaraya dan Riau itu haruslah mulai terbiasa dan banyak-banyaklah <em>bermuhasabah <\/em>diri. Seperti apa yang pemerintah galakkan melalui BNPB\u2014<em>living harmony with disaster<\/em>\u2014yang mau tidak mau kita ini harus terbiasa dengan bencana apalagi bencana kabut asap ini. Karena terjadi musiman, maka mulailah mengatasi keadaan dengan <span style=\"text-decoration: line-through;\">melakukan restorasi lahan gambut <\/span>menimbun masker N95 sejak jauh-jauh hari misalnya.<\/p>\n<p>Kebakaran hutan memang sudah rutin sejak 2 dekade lalu <em>kok!<\/em> Masa pemerintah yang harus terus bertanggung jawab atas hal ini? Apa ya nggak<em>\u00a0<\/em>bosen? Padahal hasil dari kajian paleoekologi mengenai kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan ini sudah berlangsung sejak 60.000 tahun lalu, hal ini karena karakteristik lahan gambut yang mengandung banyak karbon sangat mudah terbakar. Lagi-lagi penyebab kebakaran hutan disana memang bukan karena sengaja dibakar oknum guna membuka lahan hutan <span style=\"text-decoration: line-through;\">untuk dijadikan kebun sawit<\/span> , tetapi ya memang lahan ini rentan terbakar. Jadi tetap pemerintah nih yang harus tanggung jawab?<\/p>\n<p><em>Cuk, <\/em>kubilangin nih sebelum kalian koar-koar pakai <em>hashtag <\/em>#DaruratAsap, kebakaran ini memanglah sudah terjadi sejak lama dan sebagian besar warga disana masih betah-betah tuh tinggal dan nggak memilih mengungsi <span style=\"text-decoration: line-through;\">karena tidak ada biaya<\/span>. Mengamini kata <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudah-betul-kata-moeldoko-kabut-asap-itu-bencana-dan-kita-harus-ikhlas-menerima\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Moeldoko<\/a>, Kepala Staf Kepresidenan <em>cum <\/em><span style=\"text-decoration: line-through;\">Menteri Agama <\/span>\u00a0ini berkata bahwa masyarakat Palangkaraya dan Riau ini harus banyak-banyak berdoa karena ini adalah musibah besar yang diakibatkan takdir tuhan. Makanya, segera tuh digelar <a href=\"https:\/\/tirto.id\/salat-istisqa-minta-hujan-bacaan-niat-doa-hukum-tata-caranya-eg7W\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">salat Istisqa&#8217;<\/a> untuk meminta hujan atau jika perlu anggarkan melalui APBD untuk mengadakan seminar publik atau workshop intensif bersama pawang hujan, sebagai bentuk mitigasi bencana kabut asap. <em>Gaskeun~<\/em><\/p>\n<p>Sebenarnya, wabah bencana asap ini menguntungkan banyak pihak s<span style=\"text-decoration: line-through;\">elain pemilik HGU atau pengusaha sawit <\/span>terutama pelajar atau mahasiswa. <em>Hya<\/em> karena bencana asap ini sekolah dan kampus diliburkan, bahkan keberkahan ini juga dialami pelajar di negara serumpun <em>nun <\/em>jauh disana, Malaysia turut meliburkan 400 sekolah karena asap kebakaran hutan juga merebak disana. <em>Mantap lur, sesok prei!<\/em><\/p>\n<p>Enyahlah mereka yang selalu nyinyir dan julid terhadap rezim baik ini karena terselip kebanggaan bahwa kita mampu mengekspor salah satu produk hasil turunan kelapa sawit yakni kabut asap. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal juga mengingatkan \u00a0kita dan negara tetangga untuk selalu mengucap syukur, bahwa Kalimantan dan Sumatera ini <em>kan<\/em> salah satu paru-paru dunia dan oksigen tersebut dapat kita dapatkan secara gratis. Lho kok dikasih 1 bulan asap saja rewel <em>sih? <\/em>Apa <em>hya <\/em>11 bulan udara bersih itu tidak cukup sih?<\/p>\n<p>Alangkah baiknya warga-warga disana mulai bersyukur, ya karena kejadian ini mereka jadi ikut berperan aktif merawat bumi. Asap yang memangkas jarak pandang menjadi sekitar 5 meter turut mengganggu jalur lalu lintas. Ditambah dengan sekolah diliburkan dan jarak pandang terbatas maka warga disarankan tetap dirumah sehingga dapat diartikan semakin minim aktivitas maka semakin sedikit energi yang dikeluarkan. Terimakasih, sudah turut menjaga bumi dari percepatan dampak perubahan iklim, meski pemerintah turut menandatangani konvensi Paris tahun 2015 meski tanpa diikuti aksi nyata. Selain warga negara yang gemar rebahan, \u00a0warga di Palangkaraya dan Riau ternyata sudah memulai gerakan hemat energi dengan mengurangi aktivitas <em>outdoo<\/em>r mereka.<\/p>\n<p>Indikator AQI (Air Quality Indicator) memang sempat menunjukan angka 2000 dengan kategori \u2018<em>hazardous<\/em>\u2019 3 hari lalu untuk kota Palangkaraya. Padahal kondisi di lapangan tidak se-berbahaya itu <em>kok<\/em>, ini dibuktikan dari postingan Instagram di hari yang sama Presiden Joko Widodo <em>malah <\/em>mengunggah postingan dengan <em>caption<\/em> tentang penekanan investasi harus diperluas dan hal-hal penghalangnya harus dilibas. Beliau sangat yakin investasi <em>mandeg<\/em> akan lebih berbahaya daripada dampak asap kebakaran hutan. Buktinya 73% luas lahan di Kalimantan Timur merupakan konsensi tambang yang merupakan lahan basah bagi investor, pokoknya jangan sekali-kali menghalangi investasi deh, kalau <em>nggak <\/em>mau <span style=\"text-decoration: line-through;\">terjerat RKUHP \u2018<\/span>dihajar\u2019 Presiden. <em>Mamam tuh!<\/em><\/p>\n<p>Kita pantas mahfum, bahwa kita dipimpin oleh sarjana kehutanan alumnus salah satu universitas pentolan di Indonesia. Karena berasal dari kampus rakyat yang pasti segala ilmunya didedikasikan untuk rakyat dan jangan khawatir bahwa beliau ini sangat paham betul tentang hutan. Apalagi perkara sepele macam kebakaran hutan itu. Coba lihat, beliau bahkan tidak perlu masker atau baju khusus ketika sidak di Riau kemarin. Cukup pakai pantofel dan kemeja putih macam peserta orientasi mahasiswa baru, beliau berjalan sendirian dan <em>santuy<\/em> di lokasi bekas kebakaran hutan dengan kepulan asap. Beliau begitu gagah macam Randhy Orton sebelum memasuki ring WWE .<\/p>\n<p>Saya yakin sambil berjalan kaki di tengah lahan bekas kebakaran hutan beliau sedang memikirkan bagaimana cara menghijaukan lahan ini kembali. Entah akan dihijaukan dengan variasi tanaman hutan hujan tropis seperti dahulu atau menggantinya dengan kelapa sawit, ah intinya aku padamu <em>ahlul<\/em> kehutanan alumnus kampus rakyat. (*)<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/celaka-betul-kalau-revisi-uu-kpk-dianggap-upaya-pelemahan\/\">Celaka Betul Kalau Revisi UU KPK Dianggap Upaya Pelemahan<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-adam-khatamy\/\">Muhammad Adam Khatamy<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cukup pakai pantofel dan kemeja putih, beliau berjalan sendirian dan santuy di lokasi bekas kebakaran hutan dengan kepulan asap.<\/p>\n","protected":false},"author":295,"featured_media":14069,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3440,3437,3351,3370,3439,3441,3438],"class_list":["post-14041","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bnpb","tag-darurat-asap","tag-kabut-asap","tag-kebakaran-hutan","tag-living-harmony-with-disaster","tag-masker","tag-sawit"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/295"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14041\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14069"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}