{"id":1404,"date":"2019-05-17T17:00:33","date_gmt":"2019-05-17T10:00:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1404"},"modified":"2021-10-05T15:07:35","modified_gmt":"2021-10-05T08:07:35","slug":"ngabuburit-di-pasar-ramadan-yang-menggerus-perasaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngabuburit-di-pasar-ramadan-yang-menggerus-perasaan\/","title":{"rendered":"Ngabuburit di Pasar Ramadan yang Menggerus Perasaan"},"content":{"rendered":"<p>Niat hati ingin melewati jam-jam menunggu berbuka alias ngabuburit dengan kegiatan yang lebih berfaedah, saya pun ikut berjualan di Pasar Ramadan. Saya membantu seorang kawan menjajakan pisang goreng krispi. Pisang kepok kuning yang dibalut tepung panir, digoreng, dan diberi parutan coklat dan keju. Betapa nikmatnya berbuka dengan makanan semanis itu. Namun, pemandangan di sana tidak semanis pisang kawan saya.<\/p>\n<p>Pasar Ramadan yang hanya ada setiap setahun sekali, membuat kami yakin bakal kelarisan. Lagi pula, harga yang kami tawarkan tidak mahal. Cukup wajar untuk jajanan di pasar-pasar dadakan. Tapi sial, Ramadan kali ini tidak semeriah dulu.<\/p>\n<p>Entah mengapa, pasar ini hanya rame menjelang berbuka. Dari pukul tiga sampai pukul lima, pengunjungnya biasa-biasa saja. Setelah pukul lima, pengunjung membludak. Trotoar yang dijadikan pasar dan sebagian jalan yang digunakan untuk parkir menjadi lebih padat. Lalu lalang semakin sesak. Tapi, ya, namanya berjualan, sering tidak laku itu wajar.<\/p>\n<p>Sebagaimana hati kawan saya yang sepi, <em>stand<\/em> jualan kami pun seperti tak berarti. Orang-orang hanya lalu lalang. Sementara kami menawarkan dengan segala gaya dan cara, tetap tidak menarik juga. Kami cukup bahagia ketika ada satu-dua yang membeli. Paling tidak, pada akhirnya, kompor gas yang kami bawa bisa berfungsi. Tapi, ya, namanya berjualan, pengennya kan dapat keuntungan.<\/p>\n<p>Untuk menyenangkan hati, kami berprasangka, barangkali memang\u00a0 belum jatahnya. Melihat beberapa <em>stand<\/em> lain laris manis, kami pun hanya bisa meringis. Melihat kebanyakan <em>stand<\/em> ikut meringis, kami kok jadi berkata dalam hati, <em>ndak papa, banyak kawannya<\/em>.<\/p>\n<p>Bukan apa-apa, kami hanya merasa iri dengan para pengemis yang lebih dari lima orang setiap harinya. Model-modelnya hampir sama, perempuan, baik tua atau masih muda, berbaju lusuh, berwajah melas, dengan satu rengekan senada. Terkadang anak-anak kecil, baik laki-laki atau perempuan. Tujuannya sama, meminta sumbangan. Kami bisa memastikan, pendapatannya jauh lebih baik daripada kami yang berjualan.<\/p>\n<p>Bayangkan saja, setiap hari, mereka jalan dari ujung sampai pangkal pasar ini. Tidak ada satu <em>stand<\/em> pun yang terlewat. Yang ada, orang-orang yang duduk menunggu pesanan pun mereka mintai. Jika satu orang memberikan seribu rupiah saja, kami rasa lebarannya bakal cukup <em>nggaya<\/em>. Setidaknya bisa membeli baju baru beberapa <em>setel<\/em>. Atau paling tidak, ya, bisa berbagi dengan anak-cucunya.<\/p>\n<p>Sekali lagi, bukannya apa-apa, tapi yang namanya iri kan tetap iri. <em>La wong<\/em> mereka nggak modal sama sekali. Berbeda dengan kami yang mesti membayar uang pendaftaran selama sebulan. Belum lagi uang kebersihan. Belum lagi modal berjualan. Belum lagi kalau pengen jajan di <em>stand<\/em> kiri-kanan. <span style=\"text-decoration: line-through;\">Belum lagi kawan saya yang mesti menggaji saya.<\/span> Kan <em>mbelgedes<\/em> sekali.<\/p>\n<p>Alih-alih mengharapkan ludes terjual, balik modal saja kami sudah bahagia. Memang <em>sih<\/em>, kami masih percaya dengan akan dibukakan banyak pintu rezeki bagi pedagang seperti kami. Akan tetapi, di bulan Ramadan yang banyak orang berlomba berbuat kebaikan, berdagang rasa iba dan kasihan bisa jadi alternatif pilihan. <span style=\"text-decoration: line-through;\">Fix, mulai besok langsung ngemis.<\/span><\/p>\n<p>Penggerusan perasaan di Pasar Ramadan, tidak berhenti di situ saja. Sudah jarang laku, dimintai melulu, eh kok, ya, bucin-bucin memadu rindu lalu lalang kayak kupu-kupu. Jalan ke sana ke mari, mondar-mandir gandengan tangan. Sesekali ada yang tertangkap mata sedang sandaran. Haduhhh\u2026 sini yang lagi puasa kan disuruh nahan nafsu. Kok kalian enak-enaknya berbuat seperti itu. <del datetime=\"2019-05-17T05:07:41+00:00\">Akutu pengen<span style=\"text-decoration: line-through;\">\u00a0tauuuu\u2026.<\/span><\/del><\/p>\n<p>Godaannya lebih dari itu. Kalau azan sudah berkumandang, seakan-akan bucin-bucin ini dihalalkan mengumbar kemesraan. Ada yang makin mepet gandengannya. Ada yang jajan satu untuk berdua. Ada yang sambil jalan, masih sempat-sempatnya suap-suapan. Apa ya <em>ndak<\/em> takut ditampol para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/film-dilan-1991-ditolak\/\">jomblo<\/a> di sekitarnya? Jomblo-jomblo kan sungguh tersiksa. Apalagi jomblo yang terus-terusan meratapi jualan, seperti kawan saya, misalnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, orang yang sesungguhnya patut dikasihani itu saya. Penganut mazhab <em>sungguh rindu, tapi terlalu mahal untuk bertemu<\/em>, seperti saya ini yang lebih tersiksa. Jomblo <em>mah<\/em> sudah jelas tidak ada pasangannya. Lah kalau LDR kan, pacar punya, tapi tidak ada di tempatnya.<\/p>\n<p>Ya sudah, bisanya cuma menuliskannya seperti ini\u2014dikirim ke Terminal Mojok. Kalau dimuat, <em>link-<\/em>nya dikirimkan ke doi. Siapa tahu, kami terus bersepakat untuk bertemu\u2014meskipun harus patungan, <span style=\"text-decoration: line-through;\">atau harus jadi pengemis dulu selama sebulan.<\/span> Kata Mas Eka Kurniawan rindu itu seperti dendam, harus dibayar <span style=\"text-decoration: line-through;\">kontan<\/span> tuntas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Niat hati ingin melewati jam-jam menunggu berbuka alias ngabuburit dengan kegiatan yang lebih berfaedah, saya pun ikut berjualan di Pasar Ramadan.<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":1526,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12912],"tags":[393,166,392,53],"class_list":["post-1404","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sapa-mantan","tag-berbuka","tag-ldr","tag-ngabuburit","tag-ramadan"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1404","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1404"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1404\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1526"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1404"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1404"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1404"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}