{"id":139650,"date":"2021-09-14T06:00:22","date_gmt":"2021-09-13T23:00:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=139650"},"modified":"2021-09-13T18:41:43","modified_gmt":"2021-09-13T11:41:43","slug":"20-frasa-dan-kosakata-bahasa-korea-yang-sering-nongol-di-drakor-kesayanganmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/20-frasa-dan-kosakata-bahasa-korea-yang-sering-nongol-di-drakor-kesayanganmu\/","title":{"rendered":"20 Frasa dan Kosakata Bahasa Korea yang Sering Nongol di Drakor Kesayanganmu"},"content":{"rendered":"<p>Nonton drama Korea punya banyak sisi positif. Selain membantu melepas penat, drama Korea juga banyak mengajarkan beragam hal baru pada para pemirsanya, salah satunya bahasa Korea. Drama Korea adalah salah satu media yang bisa kita pakai untuk menyaksikan dan mendengarkan real-life conversation bahasa Korea.<\/p>\n<p>Ketika sedang belajar bahasa Korea lewat drama, kita pasti akan mulai menandai atau dalam bahasa Jawa, niteni, kosakata yang sering muncul dan diucapkan oleh para tokohnya. Kosakata tersebut umumnya juga kerap digunakan oleh orang Korea di kehidupan nyata. Berikut ini saya rangkum 20 frasa dan kosakata bahasa Korea yang acap kali kita dengar dalam drakor versi <span style=\"text-decoration: line-through;\">On The Spot<\/span> <em>Terminal Mojok<\/em>. Sekalian saya mau mengajak pembaca yang budiman, baik hati, dan rajin menabung semua buat belajar kosakata bahasa Korea tipis-tipis dan latihan membaca hangeul.<\/p>\n<h4><strong>#1 Geureom (\uadf8\ub7fc)<\/strong><\/h4>\n<p>&#8220;Geureom&#8221; ini punya lebih dari satu arti yang tergantung pada nada penuturnya. Ada yang berarti \u201ctentu saja\u201d dan biasanya dipakai untuk meyakinkan orang lain atau agak menyombongkan diri sendiri. Makna lain dari &#8220;geureom&#8221; adalah \u201ckalau begitu\u201d. Kita terkadang juga mendengar orang Korea menggunakan &#8220;geureom&#8221; untuk berpamitan.<\/p>\n<h4><strong>#2 Nappeun Nom (\ub098\uc05c \ub188)<\/strong><\/h4>\n<p>Biasanya ketika tokoh cewek habis dijahatin atau diputusin oleh tokoh cowok, dialog template-nya ngomong, \u201cNappeun nom!\u201d &#8220;Nappeun nom&#8221; ini memiliki arti \u201corang jahat\u201d atau bisa juga dipakai untuk menggambarkan perasaan pengin menyalahkan orang lain dengan ngomong, \u201cDasar jahat.\u201d<\/p>\n<h4><strong>#3 Sallyeojwo (\uc0b4\ub824\uc918)<\/strong><\/h4>\n<p>Kosakata bahasa Korea satu ini akan sering kita dengar ketika nonton drakor dengan genre thriller, crime, dan horor. &#8220;Sallyeojwo&#8221; sendiri digunakan oleh seseorang yang memerlukan dan memohon bantuan pada orang lain. Umumnya bantuan ini berupa permintaan untuk diselamatkan. Versi lebih sopan dari &#8220;sallyeojwo&#8221; adalah &#8220;sallyeojuseyo&#8221;.<\/p>\n<h4><strong>#4 Soju han jan mashillae? (\uc18c\uc8fc \ud55c \uc794 \ub9c8\uc2e4\ub798?)<\/strong><\/h4>\n<p>Ini, sih, di setiap drakor pasti kita dengar mengingat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cheers-menelusuri-budaya-minum-alkohol-di-korea-selatan\/\">budaya orang Korea adalah minum soju<\/a>. \u201cSoju han jan mashillae?\u201d merupakan ajakan untuk minum soju bersama. Perlu diperhatikan bahwa dalam kalimat ini, &#8220;han jan&#8221; memiliki arti satu gelas. Tetapi, yang terjadi malah para tokoh dalam drakor minum berbotol-botol sampai kobam dan perlu digendong sampai ke rumah. Hadeh.<\/p>\n<h4><strong>#5 Seolma (\uc124\ub9c8)<\/strong><\/h4>\n<p>Ketika seorang tokoh dalam drakor lagi menduga-duga sesuatu lalu memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, biasanya dia bakal ngomong \u201cseolma.\u201d Kalau dialihbahasakan, seolma ini memiliki makna \u201cjangan-jangan\u201d.<\/p>\n<h4><strong>#6 Ige museun iriya (\uc774\uac8c \ubb34\uc2a8 \uc77c\uc774\uc57c)<\/strong><\/h4>\n<p>Kalimat yang memiliki arti \u201cada apa ini?\u201d atau \u201capa yang terjadi?\u201d ini sudah pasti sangat diingat oleh para penonton drakor. Betapa epic-nya Prof. Cha yang terobsesi sama piramida di <em>Sky Castle<\/em> itu saat ngomong kalimat ini. Saking memorable-nya, Prof. Cha yang lagi ngomong kalimat ini sampai dibikin meme. IGE MUSEUN IRIYA???<\/p>\n<h4><strong>#7 Galge (\uac08\uac8c)<\/strong><\/h4>\n<p>Sebenarnya saya bingung mau masukin kosakata &#8220;galge&#8221; yang mana karena saya merasa kalau &#8220;galge&#8221; ini sering banget wira-wiri di drakor. &#8220;Galge&#8221; tanpa ditambahi apa pun memiliki arti \u201caku pergi\u201d. Kemudian &#8220;meonjeo galge&#8221; (\uba3c\uc800 \uac08\uac8c) dipakai saat akan pergi mendahului orang lain. Dan yang terakhir, ada &#8220;jigeum baro galge&#8221; (\uc9c0\uae08 \ubc14\ub85c \uac08\uac8c) yang selalu diucapkan oleh para profesor di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-dari-dokter-lee-ik-jun-hospital-playlist-jika-ternyata-kamu-mencintai-sahabat-sendiri\/\"><em>Hospital Playlist<\/em><\/a> setiap mendapatkan telepon pasien darurat atau tanda vital pasien yang menurun. &#8220;Jigeum baro galge&#8221; ini memiliki makna \u201caku pergi sekarang juga\u201d.<\/p>\n<h4><strong>#8 Mwohae (\ubb50\ud574)<\/strong><\/h4>\n<p>Sama seperti &#8220;galge&#8221;, &#8220;mwohae&#8221; ini juga punya banyak variasi dan saya rasa hampir semua bentuk dari &#8220;mwohae&#8221; sering kita temui saat menonton drakor. Biasanya ada situasi tertentu untuk menentukan \u201cmwohae\u201d mana yang mau dipakai. &#8220;Eojetbam mwohaesseo&#8221; (\uc5b4\uc82f\ubc24 \ubb50\ud588\uc5b4) digunakan untuk menginterogasi lawan bicara untuk menanyakan semalem habis ngapain. Mwohae umunya dipakai untuk bertanya kegiatan apa yang lagi dikerjakan. Ada pula &#8220;oneul mwohae&#8221; (\uc624\ub298 \ubb50\ud574) yang lazimnya digunakan buat ngajak nge-date karena oneul mwohae ini tujuannya untuk menanyakan orang yang diajak berbicara punya acara apa saja hari ini, xixixi.<\/p>\n<h4><strong>#9 Gwanshim-i eobseo (\uad00\uc2ec \uc5c6\uc5b4)<\/strong><\/h4>\n<p>Ketika seorang tokoh di dalam drama diajak membahas topik yang nggak memikat hati, ditawarin suatu pekerjaan atau benda yang nggak diinginkan, atau sekadar nggak peduli, dia pasti akan ngomong, \u201cGwanshim-i eobseo.\u201d Kalimat ini memiliki arti \u201caku nggak tertarik\u201d.<\/p>\n<h4><strong>#10 Eommaya, Omona, Ome, Omama (\uc5c4\ub9c8\uc57c, \uc5b4\uba38\ub098, \uc624\uba54, \uc624\ub9c8\ub9c8)<\/strong><\/h4>\n<p>Keempatnya sebenarnya termasuk ke dalam gamtansa atau interjection dan exclamation dalam bahasa Korea. Gamtansa umumnya digunakan untuk mengungkapkan keterkejutan, perasaan, dan respons refleks. &#8220;Eommaya&#8221;, &#8220;omona&#8221;, &#8220;ome&#8221;, dan &#8220;omama&#8221; lebih ke pengungkapan perasaan kaget dan nggak bisa diterjemahkan secara harfiah juga karena nggak ada di kamus. Apalagi omama yang baru muncul dan populer di tahun 2018 pas penayangan drama <em>Sky Castle<\/em>, xixixi.<\/p>\n<h4><strong>#11 Jamkkanman dan Jamsiman (\uc7a0\uae50\ub9cc &amp; \uc7a0\uc2dc\ub9cc)<\/strong><\/h4>\n<p>Keduanya memiliki maksud \u201ctunggu sebentar\u201d atau \u201cwait a minute\u201d. Dalam drakor, kosakata tersebut biasa dipakai untuk menghentikan orang lain yang mau pergi atau meminta orang lain untuk menunggu sebentar karena si penutur hendak melakukan sesuatu. Agak panjang, ya. Enakan bahasa Jawa, gari ngomong \u201csik\u201d, xixixi.<\/p>\n<h4><strong>#12 Yeokshi (\uc5ed\uc2dc)<\/strong><\/h4>\n<p>&#8220;Yeokshi&#8221; sering banget kita dengar ketika seorang karakter dalam drama menemui situasi yang sudah ia duga sebelumnya. &#8220;Yeokshi&#8221; ini bermakna \u201cas expected.\u201d Misalnya Hong Du Sik dalam drama <em>Hometown Cha-cha-cha<\/em> yang memang sudah punya rekam jejak yang baik dalam mengerjakan semua tugas. Maka ketika dia bisa menyelesaikan proyek baru dengan hasil yang sama memuaskannya, warga Gongjin akan berujar, \u201cYeokshi.\u201d<\/p>\n<h4><strong>#13 Jeoldae (\uc808\ub300)<\/strong><\/h4>\n<p>Pernah dengar kosakata bahasa Korea satu ini, kan? Biasanya karakter yang punya keyakinan atau ambisi besar akan sesuatu atau sedang melarang orang lain untuk melakukan suatu hal, dia akan ngomong, \u201cJeoldae.\u201d &#8220;Jeoldae&#8221; ini memiliki arti \u201cnever\u201d dan \u201cabsolutely\u201d, misalnya contoh kalimatnya, \u201cNan pogianhae. Jeoldae.\u201d Aku tidak akan menyerah. Tidak akan pernah.<\/p>\n<h4><strong>#14 Jib-e gaja (\uc9d1\uc5d0 \uac00\uc790)<\/strong><\/h4>\n<p>&#8220;Jib-e gaja&#8221; ini kalau diterjemahkan secara literal memiliki makna \u201cayo pergi ke rumah\u201d. Dalam penggunaannya, &#8220;jib-e gaja&#8221; biasanya dipakai untuk mengajak lawan bicara untuk pulang ke rumah. It\u2019s alright, uri jibeuro gaja~ You sing you lose.<\/p>\n<h4><strong>#15 Jal deureo (\uc798 \ub4e4\uc5b4)<\/strong><\/h4>\n<p>Kalimat ini dipakai oleh seseorang yang meminta lawan bicaranya untuk mendengarkan setiap ucapannya dengan saksama. Di drakor, apabila penutur kalimat ini lagi males ngomong berulang kali, mau ngasih informasi top secret, atau berusaha menciptakan suasana yang serius, maka lazimnya dia bakal ngomong, \u201cJal deureo.\u201d<\/p>\n<h4><strong>#16 Sugohaesseo (\uc218\uace0\ud588\uc5b4)<\/strong><\/h4>\n<p>Hal yang saya sukai dari budaya Korea Selatan adalah mereka terbiasa mengucapkan word of affirmation, salah satunya adalah dengan mengucapkan, \u201cSugohaesseo\u201d kepada teman, kolega, atau keluarga yang telah atau sedang merampungkan suatu kegiatan. &#8220;Sugohaesseo&#8221; ini bisa diartikan sebagai \u201ckamu sudah bekerja keras\u201d dan sering banget muncul dalam drakor.<\/p>\n<h4><strong>#17 Kol? (\ucf5c?)<\/strong><\/h4>\n<p>Kol ini berasal dari bahasa Inggris \u201ccall\u201d dan umumnya dipakai untuk menyatakan \u201cdeal\u201d atau \u201cI accept your offer\u201d. Berhubung kosakata ini termasuk <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Konglish#:~:text=Konglish%20(Korean%3A%20%EC%BD%A9%EA%B8%80%EB%A6%AC%EC%8B%9C%3B%20RR,%C9%A1%C9%AFl.&amp;text=Konglish%20refers%20to%20English%20loanwords,understandable%20to%20native%20English%20speakers.\">Konglish<\/a>\u2014Korean English\u2014dan dipakai di situasi nonformal, jangan sekali-kali nyebut &#8220;kol&#8221; saat menandatangani kontrak formal, ya~<\/p>\n<h4><strong>#18 Michin geot gata (\ubbf8\uce5c \uac83 \uac19\uc544)<\/strong><\/h4>\n<p>Apabila seorang tokoh dalam drama merasa frustrasi dan berada dalam situasi yang bikin dirinya terdesak, dialog yang akan dia ucapkan pastilah, \u201cMichin geot gata!\u201d Kalimat ini kalau dialihbahasakan akan menjadi \u201caku kayak jadi gila\u201d atau \u201caku hampir gila\u201d. Kondisinya bikin edan pokoke.<\/p>\n<h4><strong>#19 Orae gidaryeosseo? (\uc624\ub798 \uae30\ub2e4\ub9ac\uc168\uc5b4?)<\/strong><\/h4>\n<p>Kalimat template yang biasanya diucapkan oleh seorang tokoh drama yang terlambat ke tempat janjian. Ketika baru sampai dan ketemu dengan orang yang sebelumnya sudah dia ajak, maka dia pasti akan ngomong, \u201cOrae gidaryeosseo?\u201d untuk menanyakan apakah orang tersebut sudah lama menunggu dirinya.<\/p>\n<h4><strong>#20 Aish (\uc5d0\uc774\uc528)<\/strong><\/h4>\n<p>Aish yang biasanya ditulis sebagai IC dalam alfabet Latin sebenarnya adalah misuh yang tertahankan. Bisa juga dikatakan kalau mereka yang mengucapkan \u201caish\u201d ini menyensor perkataannya sendiri. Maklum, kata-kata kasar di drama jarang sekali yang lulus sensor. Di subtitle, aish ini cenderung diterjemahkan sebagai \u201cdamn\u201d atau \u201csial\u201d.<\/p>\n<p>Lumayan familier, kan, sama 20 frasa dan kosakata bahasa Korea di atas? Setelah tahu artinya, coba aplikasikan dan ucapkan dalam percakapan sehari-hari, deh. Hitung-hitung latihan dan agak pamer ke orang lain kalau kita bisa bahasa Korea gitu~<\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belajar bahasa Korea emang paling bener lewat drakor, deh.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":139668,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086,13118],"tags":[9476,4016,1293,11066],"class_list":["post-139650","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","category-serial","tag-bahasa-korea","tag-belajar-bahasa","tag-drama-korea","tag-kosakata"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139650","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=139650"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139650\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/139668"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=139650"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=139650"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=139650"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}