{"id":139632,"date":"2021-09-14T10:00:22","date_gmt":"2021-09-14T03:00:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=139632"},"modified":"2021-09-13T21:45:52","modified_gmt":"2021-09-13T14:45:52","slug":"menertawakan-propaganda-malaysia-yang-disampaikan-ketua-kpi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menertawakan-propaganda-malaysia-yang-disampaikan-ketua-kpi\/","title":{"rendered":"Menertawakan Propaganda Malaysia yang Disampaikan Ketua KPI"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Eka Kurniawan memenangi nobel sastra, tiga orang pertama yang memberikan ucapan selamat adalah panitia Nobel, rombongan yang mengantarnya ke Swedia, dan pejabat dari Dinas Pariwisata Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih memegang keyakinan itu ketika menonton podcast Deddy Corbuzier dengan Agung Suprio. Dan saya semakin yakin bahwa pendapat saya adalah benar adanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agung Suprio mengatakan bahwa serial kartun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin &amp; Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah propaganda Malaysia. Begitu juga dengan drama Korea dan anime Jepang. Singkatnya, keberadaan karya asing tersebut seolah membawa pesan terselubung, &#8220;Seperti ini negara saya. Bagus bukan? Jadi lupakan budaya negara anda dan datanglah kemari.&#8221; Meski bilang bahwa propaganda yang disampaikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin &amp; Ipin <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah propaganda yang baik, tetap saja hal ini aneh untuk disampaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah tiap karya itu selalu diciptakan untuk propaganda? Jawabnya sih tidak. Ini sudah 2021, kita nggak perlu paranoid kepada semua hal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering kali hal-hal asing dicitrakan datang untuk merongrong budaya kita. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin &amp; Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> datang untuk membolak-balik PUEBI, oppa-oppa Korea menjadikan wayang kulit sebagai target latihan menembak, dan Mikasa Ackerman diutus dai nippon untuk beradu paras dengan Roro Jonggrang dan Ratu Kidul. Kapten Levi sedang menjalani misi rahasia: menggunakan 3D-maneuver-gear nya untuk memenggal kepala arca di Candi Borobudur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untung saja, para pejabat tersebut belum merasa perlu untuk merancang program yang mendorong kreativitas pocong, kuntilanak, mural, dan komunis. Sebab, saya dengar mulai tahun ini manusia serigala dan zombie juga ikut bersaing menjadi &#8220;Hantu Paling Berpengaruh di Indonesia dalam Satu Dekade.&#8221; Namun, selama kita masih enggan melihat spion di jalan sepi pukul tiga pagi, status quo hantu-hantu lokal tidak perlu dikhawatirkan sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah ngomongin budaya, pasti menuding Barat\u2014atau negara lain\u2014sebagai pelaku dari merosotnya minat terhadap kebudayaan asli di negara ini. Kadang nggak ngaca aja kalau aslinya malas dalam melestarikan. Pun, nggak semua hal yang impor itu buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya baru menyelesaikan gim Sekiro: Shadow Die Twice. Apakah saya langsung ingin pergi ke Jepang dan jadi ninja? Tentu saja tidak. Siapa pula yang mau hidup di zaman yang perang bisa pecah kapan pun dan masyarakat menggunakan takhayul untuk menyelesaikan setiap masalah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam karya entah itu sastra, musik, film, dan video gim, apakah si seniman punya maksud dan tujuan terselubung itu tidak pernah penting. Menafsirkan pesan adalah tugas dari si penikmat karya tersebut. Jadi, Mas Agung, propaganda Malaysia yang Anda maksud muncul dari cara berpikir Anda sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara berpikir yang demikian sebenarnya justru menghambat kreativitas anak bangsa. Untuk bersaing dengan budaya asing, seniman kita dituntut membuat garis yang sama, bentuk yang sama, tekstur yang sama, titik yang sama, warna yang sama, pesan yang sama, bahkan karya yang sama. Tinggal tambahkan batik, gamelan, genderuwo dan voila! Jadilah sebuah karya &#8220;asli&#8221; anak bangsa yang jadi mengusung kepentingan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini sebenarnya maksud dari paragraf pertama. Bahwa pada dasarnya, tidak ada yang peduli-peduli amat pada kelestarian kebudayaan, terutama pemerintah. Pemerintah atau orang-orang menyerahkan semuanya pada Kementerian Pariwisata dan Kemendikbud Ristek. Akhirnya, yang terjadi adalah yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya. Budaya diitung dari hasil, bukan dari proses dan pemaknaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira, tidak perlu membebani anak bangsa dengan tanggung jawab Dinas Pariwisata. Tidak perlu juga melanggengkan delusi bahwa kita sedang diserbu secara budaya dari berbagai sisi. Di zaman sekarang, orang bisa menyanyikan lagu Jepang sambil menggunakan kebaya atau menyanyikan campur sari sambil cosplay jadi Mai Shiranui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang perlu menjadi kekhawatiran bersama adalah penggiat budaya jadi-jadian yang dikit-dikit lapor polisi jika ada karya dalam negeri yang tidak sesuai dengan standarnya. Yang perlu menjadi kekhawatiran adalah nasionalisme buta masyarakat yang gumun lihat orang Korea berpuasa. Yang perlu menjadi dikhawatirkan adalah tergerusnya nilai-nilai budaya oleh kepentingan pariwisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karya-karya dalam negeri kalah saing dengan karya luar ya karena karya luar <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-5721351\/upin--ipin-respons-pernyataan-ketua-kpi-soal-propaganda\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ditangani dengan baik<\/a>, sesimpel itu. Birokrasinya tidak ribet. Seniman bebas mengambil referensi dari berbagai belahan dunia tanpa harus menyelipkan kearifan lokal yang tidak relevan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">dengan visi si seniman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Propaganda Malaysia yang Anda tuduhkan tak lebih dari sebuah usaha mencari kambing hitam, atau pada titik ekstrem, pengalihan isu. KPI punya masalah kan? Alih-alih menyelesaikan masalah kalian, malah mengurusi apa yang sebaiknya kalian tidak urusi. Moral, misalnya. Eh, kalian kan moral compass negara ini ya, pantes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh, barang yang rusak kebanyakan disebabkan oleh kelalaian sang pemilik. Maka ketika nilai-nilai budaya semakin lama semakin merosot, apakah kita bisa menyalahkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin &amp; Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Propaganda apaan, pengalihan siuuu, eh, isuuu.<\/p>\n","protected":false},"author":676,"featured_media":96673,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[3378,5612,13307],"class_list":["post-139632","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-kpi","tag-malaysia","tag-propaganda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139632","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/676"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=139632"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139632\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/96673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=139632"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=139632"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=139632"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}