{"id":139141,"date":"2021-09-11T07:00:56","date_gmt":"2021-09-11T00:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=139141"},"modified":"2021-09-10T22:29:19","modified_gmt":"2021-09-10T15:29:19","slug":"apakah-betul-orang-sumatra-kalau-makan-lauknya-harus-banyak-dan-mewah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apakah-betul-orang-sumatra-kalau-makan-lauknya-harus-banyak-dan-mewah\/","title":{"rendered":"Apakah Betul, Orang Sumatra kalau Makan Lauknya Harus Banyak dan Mewah?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, timeline Twitter sempat rame dengan masalah per-soto-an. Setelah saya telusuri lebih lanjut, rupa-rupanya, keramaian itu dipicu unggahan seorang netizen. Berikut <a href=\"https:\/\/twitter.com\/lailadimyati\/status\/1434943082265387010?s=19\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini.<\/a><\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Mengapa soto daging di Jawa bagian tengah itu dagingnya cuma 4 iris? Lalu makanin lauk lain di depannya yang harganya 4x lipat harga sotonya? Orang Sumatera cem aku kenot rilet. Kami makan soto isian melimpah ruah. Titik!&#8221;<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terang saja, muncul berbagai komentar, baik yang sepakat, maupun tidak sepakat dengan pernyataan tersebut. Ada juga netizen yang mengomentari secara filosofis tentang beda orang Sumatra dan orang Jawa. Nah, yang paling parah, tentunya adalah mereka yang sampai membawa isu-isu SARA, tentang orang Sumatra dan Jawa yang seakan dipertentangkan dengan begitu hebat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri menyoroti <a href=\"https:\/\/twitter.com\/melanieppuchino\/status\/1435141614792425474?s=19\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">komentar menarik<\/a> dari seorang warganet,<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kami orang Sumatera biasa makan bermewah-mewah.<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada telur entah ceplok, rebus, dadar, itu condiment bukan lauk.<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kami pantang makan gak enak.<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Lauk 4-5 macam di meja sudah biasa.<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Nyampe Jawa sini, nasi Padang pun isinya lauk 1biji+sambel+sayur daun singkong. Stress berat!&#8221;\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami? Kami siapa maksud, lo?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duh, apa pula cakap kau itu, bah!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayah dan ibu saya, dua-duanya perantau dari Sumatra yang kemudian tinggal di Jawa Tengah. Ayah dari Sumatra Utara, ibu dari Kepulauan Riau. Tapi, saat di Jawa, ya mereka nggak segitunya mengglorifikasi &#8220;kemewahan&#8221; makanan Sumatra dibanding Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau untuk rasa, okelah bisa diperbandingkan. Masakan Sumatra cenderung pedas dan tidak terlalu manis. Sedangkan masakan di Jawa, cenderung manis. Bahkan jangan lombok pun, manis adanya. Dan perbedaan itu menimbulkan culture shock di awal masa perantauan orang tua saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu tentang porsi makan, juga bisa dibandingkan. Bila di Jawa satu bungkus nasi kucing sudah cukup mengganjal perut, teman saya orang luar pulau Jawa, baru merasa cukup saat sudah menyantap 7 bungkus nasi kucing, beserta beberapa gorengan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau tentang lauk yang bermewah-mewah, tentu saja saya tidak sepakat. Kata siapa orang Sumatra harus makan dengan lauk mewah dan berlimpah? Sangat tergantung kemampuan lah, bos! Tidak semua orang Sumatra dapat digeneralisasi harus makan dengan lauk yang banyak dan mewah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sedang pesta, okelah. Saya pernah mengikuti pesta bona taon (buka tahun baru), yang diadakan oleh salah satu punguan (kumpulan) di kota saya. Memang, lauk yang disediakan beragam dan dalam jumlah banyak. Ya iyalah, namanya pesta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah begitu, proporsi antara nasi dan lauknya pun berbeda. Bila kebanyakan masyarakat Jawa makan dengan proporsi nasi-lauk, 70:30 (nasi 70%, lauk 30%), maka proporsi nasi lauk orang Sumatra, bisa 60:40, bahkan 50:50. Nasinya banyak, dagingnya juga setumpuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, ya itu sangat bergantung pada konteks saat acara makan itu berlangsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu saya, orang kepulauan Riau, tapi sangat nJawani dalam urusan makan. Kadang makannya cuma seuprit. Lauk yang disediakan bagi makan keluarga pun tak berlimpah. Kadang hanya 1 jenis lauk saja. Alasannya klasik, untuk penghematan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, akan sangat naif kalau untuk masalah makan saja kita tidak bisa memahami kekhasan masing-masing daerah. Lha wong sesama soto di Jawa aja bisa beda-beda, kok. Apalagi kalau dibandingkan dengan soto Sumatra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, lebih naif lagi, bila masalah per-mbadhok-an ini sampai dijadikan sebagai adu menang-menangan antarsuku. Ya jelas, nggak penting banget. Masak iya, ada kompetisi suku ter-nggragas se-Indonesia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Anda sudah makan soto jenis apa saja sampai saat ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Halah.<\/span><\/p>\n<h5><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i> ya.<\/i><\/b><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tentang lauk yang bermewah-mewah, tentu saja saya tidak sepakat. Kata siapa orang Sumatra harus makan dengan lauk mewah dan berlimpah?<\/p>\n","protected":false},"author":874,"featured_media":139193,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909,1],"tags":[13260,4565,13259],"class_list":["post-139141","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","category-nusantara","tag-lauk-banyak","tag-makan","tag-orang-sumatra"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/874"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=139141"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139141\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/139193"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=139141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=139141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=139141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}