{"id":139002,"date":"2021-09-09T10:00:09","date_gmt":"2021-09-09T03:00:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=139002"},"modified":"2021-09-08T22:38:40","modified_gmt":"2021-09-08T15:38:40","slug":"pelaku-pelecehan-seksual-dan-para-petinju-andal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pelaku-pelecehan-seksual-dan-para-petinju-andal\/","title":{"rendered":"Pelaku Pelecehan Seksual dan para Petinju Andal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berita tentang <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-5714233\/kecaman-ke-terlapor-pelecehan-seks-di-kpi-gegara-dalih-cuma-candaan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pelaporan balik<\/a> oleh para terlapor pada kasus pelecehan seksual yang dialami oleh MS, mantan pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membuat forum bapak-bapak kembali gempita. Menjelang tengah malam, Pardi bahkan meminta forum yang mulai memanas di warung Yu Marmi itu untuk digeser ke teras toko konveksinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau alasannya adalah pencemaran nama baik berarti memang ini bentuk perlawanan dari para pelaku pelecehan seksual, Mas. Bentuk resistensi karena merasa diri mereka suci.\u201d Terpal belum tergelar sempurna tapi Solikin sudah tak bisa menahan lontaran peluru argumennya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerduga, Kin, Terduga!!&#8230;\u201d, Kanapi mengacungkan telunjuknya. Nadanya tegas. \u201c\u2026belum ada keputusan bahwa mereka itu beneran pelaku pelecehan seksual, lho! Hati-hati.\u201d Lanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Kin. Kamu harus adil melihat masalah seperti ini, bahkan sejak dalam pikiran.\u201d Cak Narto yang belum sempurna duduk menanggapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahwa harus adil, aku setuju, Cak\u2026\u201d Solikin mengeluarkan satu per satu isi sakunya. Menjejerkan rapi di depan lipatan kaki: dua buah hape, sebungkus rokok, korek api, dan sepotong tahu isi sisa dari warung Yu Marmi, \u201c\u2026tapi pada kasus seperti ini, menurutku, bentuk keadilan yang pas ya berpihak ke korban pelecehan seksual, tanpa harus menunggu putusan vonis di pengadilan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho lho lho, berpihak ke korban memang keharusan, dan itu satu hal, Kin\u201d, sebatang rokok terselip di bibir Kanapi, \u201c\u2026tapi menghakimi para terlapor itu tanpa menunggu putusan hakim, itu hal lain lagi.\u201d Kanapi menggoyang jempolnya, membuat gestur meminjam korek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh, Sampean kaya nggak ngerti aja proses peradilan di sini seperti apa aja, Mas\u201d, dilemparkannya korek ke arah Kanapi, \u201c\u2026lihat sekarang, korbannya malah dilaporkan balik dengan pasal pencemaran nama baik oleh para pelaku, eh terduga pelaku itu. Kan malah dua kali babak belur itu korbannya.\u201d Gerutu Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha emang masalahnya di mana, Kin? Kan memang sudah diatur, tho, bahwa setiap orang bisa melaporkan jika merasa nama baiknya sudah dicemarkan oleh orang lain.\u201d Cak Narto memancing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin sudah siap membombardir. Tapi, \u201cMbok ini ambil kopimu dulu, habis itu baru wasweswos lagi.\u201d Ujar Pardi menggoda sambil mengulurkan kopi dalam gelas plastik. Semua terkekeh. Air muka Solikin sedikit mlotrok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho gini lho maksudku, Caaak\u2026\u201d Solikin bersemangat menjelaskan, \u201c\u2026 ibaratnya nih, ya, Sampean melecehkan aku\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHa selak nggak mungkin\u2026\u201d Cak Narto menyela. Terkekeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSik ta laaa\u2026misalnya Sampean melecehkan aku nih, ya, selama berkali-kali. Terus aku trauma menahun sampai berefek ke kondisi fisik. Aku sudah lapor ke atasan, Pak Kamitua, misalnya. Tapi, nggak ditanggapi apalagi diselesaikan&#8230;\u201d Solikin menjeda, mencecap kopinya, \u201c\u2026Ya sudah, tak viralin aja. Terus Sampean di-bully, dibrakoti netijen se-Nusantara. Sampean apa ya masih punya hati untuk melaporkan balik aku dengan pasal pencemaran nama baik, Cak? Nuraninya di manaaa??\u201d Solikin menyeret panjang ujung kata-katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cModyar Sampean, Cak!!!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHayoo\u2026 gimana, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pardi dan Kanapi bergiliran mengompori.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, Kin. Bahwa dalam kasus seperti ini kita harus berpihak kepada korban itu kita sudah sepakat, ya\u2026\u201d semua manggut-manggut, \u201c\u2026tapi pelaporan balik oleh para terduga pelaku itu ya sah-sah saja di mata hukum. Itu hak setiap warga negara. Tidak ada urusannya sama hati nurani. Dan merupakan tugas pihak yang berwenang untuk membuktikan tuduhan pencemaran nama baik itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daun kersen bergoyang pelan. Suasana forum terasa agak lebih khusyuk malam ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIbarat sebuah pertandingan tinju dengan gelanggang bernama proses hukum\u2026\u201d Cak Narto melanjutkan, \u201c\u2026setiap pukulan harus terukur dan tepat sasaran. Nafas dan footwork harus diatur. Jika pukulan kita tanpa perhitungan yang presisi, lawan akan dengan mudah mengelak atau justu meng-uppercut kita. Dan pertandingan ini menjadi sia-sia. Kita bisa kalah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSampean mbok ndak usah pakai analogi yang susah dipahami tho, Caak. Pukulan gimana maksud Sampean?\u201d Solikin memburu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini lho, Kin. Narasi yang beredar ke publik oleh korban, yang kemarin sempat viral, itu kan menjelenterehkan nama-nama orang yang dituduh sebagai pelaku pelecehan dengan tidak disamarkan atau dibikin inisial, gitu. Maka itu menjadi semacam pukulan yang nggak terukur. Dan akhirnya kini, nama-nama itu merasa dicemarkan dan meng-uppercut balik.\u201d Papar Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKok Sampean jadi terdengar menyalahkan korbannya, Cak?\u201d Kanapi menggugat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Cak. Jangan victim blaming, dooong.\u201d Pardi nimbrung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian, ini kan usaha terakhir dari korban, Cak. Sudah bertahun-tahun lho kejadiannya. Mana mungkin korban memperhitungkan kemungkinan serangan balik semacam ini akan kejadian.\u201d Tambah Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, sik ta la. Di bagian mana aku menyalahkan korban? Aku kan cuma berusaha mendudukkan permasalahan.\u201d Cak Narto mengatur nafas. Membakar sebatang kretek, \u201cDi hadapan hukum, serangan balik semacam itu legal dan diakomodir. Meski pun kembali lagi: adalah tugas penyidik untuk membuktikan dan tugas hakim untuk memutuskan.\u201d Cak Narto beringsut. Kini wajahnya yang tampak mlotrok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana kembali hening. Cak Narto masih tampak mbesengut karena pendapatnya disalahartikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNaaahh ini baru cocok!!\u201d Pardi girang menyambut istrinya yang keluar menghidangkan bakwan yang masih mengepul di hadapan forum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus sebagai warga negara yang baik dan netijen yang perannya begitu vital, Cak\u2026\u201d Kanapi menggoda sambil meraih bakwan dan meletakkannya pada selembar tisu, \u201c\u2026apa yang bisa kita lakukan agar keadilan ditegakkan bagi semua pihak yang terlibat, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMawowowo, wos\u2026\u201d suara Cak Narto terdengar tidak jelas dengan sekerat bakwan yang mengepul di ujung congor. Ia kepanasan. Semua yang duduk di sana tergelak melihat pemandangan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMengawalnya, nDes\u2026\u201d kopi dicecap, sisa minyak di bibir dan tangan dilap, \u201c\u2026satu-satunya yang bisa kita lakukan ya cuma: mengawalnya. Agar jika dalam prosesnya ada sesuatu yang tidak tepat bisa kita protes, viralkan atau bahkan kita gugat bersama-sama di pengadilan.\u201d Kalimat Cak Narto pepak kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBiarkan proses hukum berjalan. Biarkan keadilan ditegakkan. Dan biarkan para perundung dan predator seksual di luar sana tahu, bahwa mungkin dia bisa menyerang balik dan merasa bisa menjaga nama baiknya, tapi sanksi sosial akan kita gelar dan hantamkan ke hadapan mereka. Traktirrrrrr\u2026\u201d Cak Narto mengakhiri kalimatnya dengan mengepalkan tangan di udara. Menirukan gestur para orator unjuk rasa di podium.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dingin udara malam bertiup lembut dari arah Koramil di seberang toko konveksi Pardi, tempat forum malam ini. Mereka berempat larut dalam canda dan cengkerama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDiskusi ya diskusi. Forum ya forum. Tapi, jangan lupa protokol, dong. Ayo jaga jarak! Itu dipakai maskernya!\u201d Dari atas motor dinasnya, Pak Babin yang selesai piket malam menghampiri dan membuyarkan keasyikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSiaap, nDaaaaaannnn\u2026\u201d serempak mereka menjawab diiringi gelak tawa.<\/span><\/p>\n<h5><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Counter attack!<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":139031,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[3306,31,12576,3378,326,1026],"class_list":["post-139002","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-hukum","tag-indonesia","tag-kolom-cak-narto","tag-kpi","tag-pelecehan-seksual","tag-uu-ite"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139002","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=139002"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/139002\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/139031"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=139002"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=139002"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=139002"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}