{"id":1387,"date":"2019-05-16T11:00:11","date_gmt":"2019-05-16T04:00:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1387"},"modified":"2021-10-08T12:47:35","modified_gmt":"2021-10-08T05:47:35","slug":"susahnya-jadi-mahasiswa-bahasa-inggris-konservatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susahnya-jadi-mahasiswa-bahasa-inggris-konservatif\/","title":{"rendered":"Susahnya Jadi Mahasiswa Bahasa Inggris Konservatif"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai mahasiswa Bahasa Inggris, saya selalu merasa terpanggil ketika ada seseorang yang salah menulis atau membaca kata dalam bahasa itu. Ketika seseorang mengucapkan \/\u02c8i\u02d0v(\u0259)n\/ alih-alih \/\u026a\u02c8v\u025bnt\/ untuk kata \u201c<em>event<\/em>\u201d, kuping saya langsung panas. Dengan berat hati saya akan mengoreksi, baik itu secara langsung maupun harus menunggu waktu tepat. Bagaimanapun, seseorang yang \u201cberdosa\u201d harus tetap diingatkan, bukan?<\/p>\n<p>Kesalahan lain yang paling sering muncul adalah kesalahan gramatikal sederhana seperti penggunaan imbuhan \u201cs\/es\u201d di kata kerja mode <em>Simple Present Tense<\/em>. Percaya atau tidak, ini yang paling <em>nyebelin<\/em> dan seolah tak ada habisnya. Jika kamu seorang mahasiswa atau setidaknya pernah jadi mahasiswa, kamu pasti sering melihat atau mendapatkan kiriman pamflet sebuah kegiatan, baik itu diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Hima (Himpunan Mahasiswa) maupun organisasi lain.<\/p>\n<p>Di bagian teratas pamflet, biasanya setelah nama organisasi, kita akan menemukan \u201c<em>proudly present<\/em>\u201d. Sejauh karir ke-bahasa-inggris-an saya, penulisan frasa tersebut hampir selalu salah, bahkan oleh organisasi bahasa Inggris sendiri. Alih-alih menuliskan \u201c<em>proudly presents<\/em>\u201d karena sebuah (satu) organisasi masuk dalam kategori <em>third-person singular<\/em>, mereka malah menuliskan \u201cproudly present\u201d.<\/p>\n<p>Dosa ini barangkali kecil, tak sebesar kesalahan Della JKT48 yang harusnya menulis \u201c<em>press conference<\/em>\u201d tapi malah \u201c<em>pres confresh<\/em>\u201d atau Babang Andika-Ganteng-Kangen-Band yang secara alay menuliskan \u201c<em>haaatterss<\/em>\u201d alih-alih \u201c<em>haters<\/em>\u201d. Namun percayalah, benih dosa kecil ini sudah menular terlampau luas dan menjengkalkan.<\/p>\n<p>Saya ingat berkali-kali mengoreksi kesalahan tersebut. Ada yang merespon baik karena telah dikoreksi, namun banyak juga yang menertawakan dan mempertanyakan kredibilitas saya sebagai anak Bahasa Inggris.<\/p>\n<p>Salah satu penglaman paling <em>nggapleki<\/em> terjadi pekan lalu. Ceritanya, salah seorang teman saya mengirimkan pamflet acara jurusannya. Seperti saya duga, sehabis nama Hima, kata \u201c<em>presents<\/em>\u201d ditulis tanpa imbuhan \u201cs\u201d.<\/p>\n<p>Hati saya tergerak melihat itu. Saya bilang kepada teman saya, namanya Ifa, \u201cFa, itu tulisan \u2018<em>present\u2019<\/em> di pamfletmu salah, yang benar \u2018<em>presents\u2019<\/em>. Harus pakai \u2018s\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Ifa merespon baik koreksi dari saya. Dia melaporkan kesalahan tersebut ke bagian Dekorasi dan Dokumentasi. Namun bukannya berterima kasih, salah satu anggota sie Dekdok itu malah menertawakan saya.<\/p>\n<p>\u201cYang ada kan \u2018<em>presentation\u2019<\/em>, bukan <em>presentstation<\/em>. Itu mahasiswa Bahasa Inggrisnya udah lulus apa belum? Wkwk\u2026,\u201d tulisnya di Whatsapp. Ya Allah, Tuhan semesta alam. Dosa apa yang kiranya sudah hamba lakukan hingga hamba harus mengalami ini? Saat itu saya ingin beritisgfar sebanyak-banyaknya. Namun, di waktu yang sama saya juga ingin misuh: <em>goblok!<\/em><\/p>\n<p><em>Lha<\/em> bagaimana tidak, membandingkan kata kerja kok dengan kata benda, apalagi di situ ada konteks subjek \u201c<em>it<\/em>\u201d yang masuk dalam kategori <em>third-person singular<\/em> dan mengharuskan tiap kata kerja diimbuhi \u201cs\/es\u201d dalam <em>Simple Present Tense<\/em>. Pembandingan ini kayak mengutip satu bagian ayat tanpa melihat konteks atau ayat lain yang berhubungan.<em> Ra massshhhoookkkk!!!<\/em><\/p>\n<p>Jika berhadapan dengan orang seperti ini, pada akhirnya saya hanya bisa mengelus dada dan berdoa: semoga dia sadar dan kesalahan sama tak dilakukan olehnya maupun orang lain. Sayangnya, doa saya untuk hal ini termasuk doa yang tidak dikabulkan Tuhan.<\/p>\n<p>Akibat kebiasaan saya mengoreksi kesalahan pengucapan maupun penulisan kata bahasa Inggris, beberapa teman sejurusan menjuluki saya sebagai Mahasiswa Bahasa Inggris Konservatif. Saat berkumpul dengan mereka dan ada orang yang salah mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, pandangan mereka langsung menuju ke saya. Mata mereka seolah-olah ngomong, \u201cHayo, Inggris konservatif silakan membenarkan!\u201d<\/p>\n<p>Jujur saja, julukan tersebut membuat saya merasa mirip Ivan Lanin, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/iad\/esai\/mengungkap-kategori-tukang-rese-bahasa-dari-polisi-bahasa-sampai-hansip-bahasa\/\">sang polisi bahasa<\/a> yang lebih suka menyebut diri Wikipediawan pencinta Bahasa Indonesia. Saya merasa keren. Pada titik tertentu, saya juga merasa punya otoritas untuk \u201cmenilang\u201d orang yang melanggar \u201clalu lintas\u201d bahasa Inggris meski saya juga tidak jarang salah karena masih belajar.<\/p>\n<p>Sebenarnya, ada hal lain yang saya katakan saat mengoreksi bahasa Inggris orang lain, terutama kesalahan \u201c<em>proudly presents<\/em>\u201d di pamflet yang sudah saya sebutkan di atas. Jika dalam bahasa Indonesia ada \u201cdengan bangga mempersembahkan\u201d, mengapa harus menggunakan \u201c<em>proudly presents<\/em>\u201d?<\/p>\n<p>Barangkali orang-orang ingin acaranya terlihat lebih keren, wah, dan internasionalis banget jika menggunakan bahasa Inggris. Kalau acaranya memang penuh bahasa Inggris sih <em>ndak <\/em>apa-apa. Nyatanya, acara tersebut ya acara biasa yang tidak menggunakan Bahasa Inggris. Kita perlu sadar, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia itu inferior bahkan di kalangan masyarakatnya sendiri; tidak ada yang bisa dibanggakan dari hal ini. Kalau kata Ivan Lanin <em>idolaque<\/em>: <em>Utamakan Bahasa Indonesia<\/em>, Lestarikan\u00a0<em>Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing<\/em>.<\/p>\n<p>Prinsip Om Ivan tentu brilian. Sayangnya, jika melihat anak-anak Jaksel yang <em>which is literally<\/em> itu, saya jadi pesimis kalau impian sang polisi bahasa bisa terwujud. Jalan menuju sana begitu panjang, sulit dan berliku-liku, sama seperti perjalanan hidup saya sebagai mahasiwa Bahasa Inggris aliran konservatif. Meski begitu, saya mendoakan Om Ivan Lanin terus sehat dan istikamah berada di jalan ninjanya. Saya tahu betul bahwa mengoreksi kesalahan berbahasa orang lain yang seolah tak ada habis dengan sabar itu sangat menguras tenaga dan emosi. Saking melelahkannya, belakangan ini saya berpikir untuk menerima ajakan teman-teman saya bergabung dalam Mahasiswa Bahasa Inggris aliran Nusantara; sebuah aliran yang <em>nggak ngegas<\/em> saat orang lain melakukan kesalahan, memilih diam memaklumi, dan membiarkan bahasa Inggris di-naturalisasi oleh ketidaktahuan orang-orang. Jika saya memutuskan untuk pindah aliran, barangkali hidup saya akan damai tanpa perlu berdebat dengan orang-orang bebal.<\/p>\n<p>Ah, semoga Om Ivan tak berpikir seperti saya~<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai mahasiswa Bahasa Inggris, saya selalu merasa terpanggil ketika ada seseorang yang salah menulis atau membaca kata dalam bahasa itu. <\/p>\n","protected":false},"author":68,"featured_media":1442,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[361,362,34],"class_list":["post-1387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-bahasa-inggris","tag-konservatif","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/68"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1387"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1387\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1442"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}